Soegija: Kemanusiaan Itu Satu!

Cukup lama bangsa kita disuguhi film-film “galau”. Akhirnya, melalui buah tangan Garin Nugroho, dilahirkan film bernuansa baru: Soegija. Ini adalah film tentang jejak langkah seorang nasionalis-humanis, Mgr. Albertus Soegijapranoto.

Ia adalah seorang imam muda yang diangkat menjadi Uskup pribumi pertama dalam gereja katolik di Indonesia. Soegija adalah salah satu sosok pahlawan yang terselip di dalam sejarah Indonesia. Padahal, jika melihat jejak langkahnya, ia banyak berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan.

Sosok Soegija diperankan oleh Nirwan Dewanto. Ada pula nama-nama pemeran lain seperti Annisa Hertami, Andrea Reva, Olga Lydia, dan Butet Kertarajasa. Lalu, ada pula pemain film dari Jepang, Belanda, dan Jerman. Film ini melibatkan 2.275 pemain dan menggunakan 6 bahasa.

Meski mengangkat sosok tokoh katolik, tetapi film ini kelihatannya sengaja menjauh dari “propaganda atau dakwah agama”. Yang ditonjolkan adalah aspek nasionalisme dan kemanusiaan. Sutradara Garin Nugroho berusaha memberi inspirasi multikulturisme di atas basis nasionalisme.

Soegija sendiri seorang nasionalis. Ia punya semboyan terkenal: “100% Katolik dan 100% Indonesia”. Tak mengherankan, ketika Bung Karno memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Jogjakarta, Soegija turut memindahkan Vikariatnya ke Yogyakarta.

Begitu pula ketika kota Semarang dilanda perang lima hari antara pemuda melawan tentara Jepang. Soegijo—sering dipanggil ‘Rama Kanjeng’—memainkan politik diplomasi untuk membuka blokade Jepang.

Rama Kanjeng punya kepiawaian berdiplomasi. Ia banyak menulis di majalah Commonwealth, pada tahun 1949, guna membuka mata dunia mengenai situasi yang sedang terjadi di Indonesia. Berkat kepiawaian diplomasinya, Soegija berhasil mendorong Vatikan sebagai negara barat pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Tetapi film “Soegija” beranjak lebih jauh: ia tak sekedar bicara nasionalisme yang kuper. Perang membawa bencana kemanusiaan. Ia memisahkan begitu banyak keluarga. Ia mengoyak-oyak rasa kemanusiaan.

Ketika Jepang datang ke Indonesia tahun 1942, Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari kakaknya, Maryono (Abe). Di saat yang sama, Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dengan ibunya (Olga Lydia).

Tetapi, nampaknya keterpisahan itu juga dirasai oleh pihak penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara penganut Budhisme, tidak pernah tega terhadap anak-anak. Ia selalu terbayang dengan anak-anaknya di Jepang.

Begitu pula dengan Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang merasa dirinya sebagai mesin perang yang hebat, tersentuh hatinya oleh bayi yang ditemukan di medang peperangan. Ia pun rindu pula dan rindu bertemu ibunya.

Di tengah perang, Hendrik (Wouter Braaf) menemukan cintanya. Sayang, cinta itu tak bisa ia rengkuh karena perang.

Soegija, seorang nasionalis kemanusiaan, berusaha menyatukan kisah cinta dari keluarga yang retak itu. Soegija berucap begini: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat-istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.”

Kehadiran film “Soegija” sangat relevan di zaman sekarang: era dimana rakyat ditinggalkan oleh pemimpinnya; korupsi merajalela di segala lini kehidupan; bentrokan antara kemodernan dan lokalitas; fundamentalisme menguat dan berusaha mengoyak-oyak nilai kemanusiaan semua agama.

Sejarahwan Anhar Gonggong menyebut “pemikiran dan tindakan Soegija melampaui zamannnya”. Di kala bangsa sedang “goyah” akibat ketiadaan pemimpin, maka kehadiran film “Soegija” bisa menjadi obat untuk membangkitkan kembali imajinasi rakyat untuk tetap melangkah maju.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut