Soal “Twitwar” Budiman versus Andi Arief, Ketua Umum PRD: Perjuangan Belum Selesai!

Dua bekas kader Partai Rakyat Demokratik (PRD), Budiman Sudjatmiko dan Andi Arief, terlibat “Twitwar” atau perang kata-kata di twitter.

Mereka berperang kata-kata dari soal perbedaan posisi politik hingga menukik ke urusan pribadi. Tidak jarang, mereka menyerempet ke masa lalu mereka semasa berjuang di PRD.

Nah, menanggapi hal itu, berdikarionline.com telah meminta pendapat Ketua Umum PRD, Agus Jabo Priyono. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Bung menangapi perdebatan antara dua mantan kader PRD, Budiman Sujatmiko dan Andi Arif, di Twitter?

Secara khusus aku tidak mengikuti, karena lagi mudik berlebaran di kampung. Sebelumnya tak lupa kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.

Ada banyak orang yang mengirim link berita atau screenshot perdebatan tersebut ke aku. Jadi perdebatan seperti itu kan sudah sering dan diulang-ulang terus, seperti penyakit tahunan yang lagi kambuh. Kami menghargai mereka, tapi mensimplifikasi seolah-olah hanya mereka yang berjuang, itu tidak pas, tidak etis. Jika mereka mau menggunakan momentum perjuangan tersebut sebagai romantika perjuangan, ya silahkan saja, karena faktanya mereka pernah terlibat dalam perjuangan, tetapi memposisikan diri seolah-olah hanya mereka sebagai satu-satunya yang memegang sertifikasi perjuangan, dengan mengekspose pandangan pribadinya yang seolah-olah mewakili pandangan kolektif, itu sikap serta pemikiran yang tidak pas, tidak pantas.

Sudah seharusnya mereka juga menghargai kawan-kawan yang lain, termasuk yang menjadi martir dalam perjuangan tersebut.

Dan aku ingatkan, di mana pun sekarang ini Bung Budiman Sudjatmiko dan Andi Arief punya posisi politik, bahwa perjuangan bukan selesai di tahun 1998 itu, perjuangan belum selesai, Bung. Selama kesenjangan sosial masih tajam dan meluas, selama sumber-sumber penghidupan bangsa Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang, selama masyarakat belum merasakan keadilan serta kesejahteraan hidup, perjuangam tidak boleh mandeg!

Apa yang mestinya mereka lakukan dalam situasi bangsa seperti sekarang ini?

Maka itu, demi masa depan bangsa, di mana pun tempat serta posisi politiknya, berjuanglah terus bersama rakyat, sampai masyarakat Indonesia yang adil makmur bisa diwujudkan serta dirasakan, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh para Pendiri bangsa kita, yang sudah jelas dan tegas tercantum dalam Preambule UUD 1945.

Berhentilah membanggakan diri dalam heroisme, karena perjuangan belum selesai!

Apakah belum ada perubahan substansial dari Orde Baru sampai sekarang ini?

Problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia secara kwalitatif belum berubah, bentuknya saja yang berubah, dari otoritarian ke liberal. Walau sama-sama menyatakan Pancasila sebagai filosofi dan dasar negara, tetapi negara hanya digunakan oleh segelintir orang untuk menguasai sumber-sumber kehidupan yang mengakibatkan kesenjangan sosial sedemikian tajam, membuat bangsa Indonesia cemas akan masa depannya. Jikalau persoalan kesenjangan tersebut tidak ditempatkan sebagai persoalan mendesak yang harus segera diatasi, tentu akan membahayakan kelangsungan hidup dalam berbangsa dan bernegara, juga persatuan dan kesatuan bangsa.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Mari perkokoh persatuan perjuangan, jangan saling menegasikan satu sama lain. Mari bergotong royong, bahu membahu, berjuang menghentikan liberalisme, mengembalikan Pancasila sebagai filosofi dan dasar negara yang sebenar-benarnya, dengan Trisakti sebagai jalannya, agar kemenangan bangsa Indonesia meraih kebahagiaan hidup, lahir maupun batin bisa diwujudkan.

Dengarkan suara rakyat, hentikan omong kosong dan perdebatan yang tidak berguna! Mari Bung, Menangkan Pancasila! []

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut