SK Trimurti, Wartawati Pejuang Pembebasan Nasional

“Tri, tulislah karangan, nanti kami muat dalam majalah Fikiran Ra’jat,”-kata-kata inilah yang menggugah SK Trimurti untuk pertama kali menulis. Kata-kata itu diucapkan oleh Bung Karno, tokoh utama pembebasan nasional Indonesia dan sekaligus Presiden Indonesia yang pertama, di tahun 1933.

Trimurti menjawab: “Saya tidak bisa, mas. Saya belum pernah menulis dalam majalah atau koran. Dan saya memang tidak bisa.”

“Kau bisa,” tukas Bung Karno kepada Trimurti dengan nada yang sangat menyakinkan. Ketika itu Trimurti baru saja mundur dari pekerjaannya sebagai pengajar di sekolah Gubernemen, dan memilih untuk ikut kursus kader yang diselenggarakan oleh Partindo, dimana Bung Karno dikenal sebagai salah satu pemimpinnya. Dia adalah penggemar setia pidato-pidato Bung Karno, yang menuruk kesaksiannya, selalu mendapatkan tepukan gemuruh.

“Sepulang dari rapat umum itu, saya merenung. Saat itulah saya tergugah ikut bergabung dengan Partindo,” kenang SK Trimurti saat pertama kali memutuskan bergabung dengan Partindo.

Surastri, bukan sulastri—dia tidak suka dipanggil dengan nama yang terakhir, karena nama itu adalan nama istri Janaka yang kesekian dan ia memang tidak suka dimadu—memang keluaran sekolah guru wanita, Normaalschool, di Jebres, Solo. Dia sendiri dilahirkan di Kotagede, Yogyakarta, 11 Mei 1912.

Untuk menyalurkan keahliannya, SK Trimurti sempat menjadi guru di Bandung, di Perguruan Rakyat, sekolah swasta yang dipimpin oleh pujangga Sanusi Pane.

Ketika menjadi guru, kehidupan Trimurti tidak lebih baik, sebab dia selalu berurusan dengan “onderwijs verbod”,–larangan mengajar. Pihak kolonial menaruh curiga bahwa Trimurti telah menghasut anak-anak untuk melawan penguasa kolonial, untuk mengikuti fikiran-fikiran politik Partindo, partai paling berbahaya kala itu.

“Nona masih muda, sebaiknya meneruskan sekolah saja. Jangan suka dihasut Soekarno,” ujar kepala PID suatu ketika kepada Trimurti. Tetapi dia tidak bergeming, malah semakin bulat tekadnya untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk membebaskan bangsanya.

Ajakan Bung Karno pun diterimanya. Dia mulai menulis di harian Fikir’an Rakjat, dimana Bung Karno menjadi redaktur kepala (Pimred), sebuah majalah politik yang berhaluan radikal, nasionlis, anti-kolonialisme, dan anti-imperialisme.

Hanya sekali menulis di Fikiran Rakyat, dan itu sangat membanggakan dan memompa kepercayaan dirinya, majalah kaum nasionalis revolusioner itu tidak terbit karena pemimpinnya, Bung Karno, ditangkap penguasa kolonial.

Ia memutuskan untuk kembali ke kediaman orang tuanya di Klaten, Jawa Tengah. Di sana, hatinya berkecamuk, tidak dapat tenang dan tinggal diam melihat perjuangan bangsanya. Akhirnya, untuk mengisi kekosongan hatinya dia menulis untuk koran “Berdjoang”, yang kala itu terbit di Surabaya, dipimpin oleh seorang pejuang juga, Doel Arnowo namanya.

Setelah pergi dari rumahnya, pada tahun 1935, bersama-sama teman-temannya mendirikan majalah Bedoeg, —terinspirasi dari bedug di Masjid, yang dipergunakan untuk memanggil orang islam menunaikan sholat. Dia pun menginginkan korannya ini bisa membangunkan dan memanggil rakyat untuk berjuang.

Gara-gara mengunjungi seorang pemimpin Partindo yang baru keluar dari penjara, ayahnya kemudian melarangnya untuk ikut kegiatan-kegiatan yang dapat “membahayakan keselamatan keluarganya”. Apa boleh buat, SK Trimurti tetap tidak mau tunduk, dan dengan bekal pakaian yang digadaikannya, dia meninggalkan rumah dan berangkat ke Jogjakarta.

Di Yogya, ia dan kawan-kawannya membidani lahirnya majalah Marhaeni, sebagai suara Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI), yang merupakan underbouw Partindo. Dimana pun dia berada, SK Trimurti selalu mengingat ajaran-ajaran dari mentor politiknya, Bung Karno, terutama tentang machtsvorming atau penyusunan kekuatan. Maka, digunakanlah koran itu untuk menyusun kekuatan.

Kegiatan utama PMI adalah mendidik anggota-anggotanya tentang pemikiran politik. Meski sebagian besar anggotanya wanita, SK Trimurti mengatakan, “Kami tak semata -mata mengurus “urusan wanita”. Titik berat perkumpulan ini adalah: mencapai kemerdekaan.

Ketika terjadi pergantian pengurus dan Trimurti terpilih sebagai ketuanya, dia pun harus pindah ke Semarang. “Bagaimana caranya menyebarluaskan cita-cita perjuangan kemerdekaan pada rakyat banyak?” tanya saya kepada Sutarni, sekretarisnya di PMI, dengan hati gundah.

“Itu gampang,” jawab Sutarni, “kita bikin pamflet gelap. Lalu disebarkan malam hari.”

Lantaran famplet gelap itulah SK Trimurti dan Sutarni ditangkap oleh PID dan dijatuhi hukuman penjara selama 9 bulan. Di dalam penjara, Trimurti mengetahui dengan sangat jelas tentang diskriminasi antara tahanan yang orang Belanda dan orang Indonesia.

Keluar dari penjara, dia bekerja di percetakan kecil milik Suwondo dan teman-teman seperjuangannya, dan menerbitkan majalah “Suluh Kita”. Karena tidak berperan sebagai pemimpin majalah itu, Trimurti pun dibebaskan untuk membantu surat-kabar yang lainnya, yang salah satunya adalah “Sinar Selatan”, dimana dia bertemu dengan calon suaminya kelak—Sayuti Melik.

Suatu hari, ketika SK Trimurti menjadi redaktris surat kabar ini, ia menerima sebuah kiriman artikel bekas buangan Boven Digul, Sayuti Melik, teman yang baru dikenalnya dan menjadi calon suaminya. Isi artikel itu adalah: Rakyat Indonesia tidak usah membela belanda. Sebab Belanda itu imperialis. Juga tidak perlu membantu Jepang sebab Jepang kemungkinan akan jadi imperialis juga. Yang baik sikap bangsa Indonesia ialah memperkuat diri sendiri, untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Trimurti paham betul, bahwa jika pihak Belanda mengetahui kalau penulis artikel itu adalah Sayuti Melik, maka dia akan dibuang kembali Boven Digul. Akhirnya, setelah dikonsultasikan dengan Sayuti Melik, Trimurti akhirnya bersedia bertanggung jawab atas artikel itu dan ditangkap.

Di luar penjara, Sayuti Melik terus berjuang dan mengembangkan majalah “pesat”, namun lantaran artikel Sri Bintara, Sayuti Melik pun harus mendekam dua tahun dalam penjara sebagai bentuk pertanggung-jawaban sebagai pemimpin redaksi. Lantas, sekeluarnya Trimurti dari penjara, ia langsung melanjutkan majalah tersebut. Tak lama setelah suaminya keluar dari penjara, Trimurti kembali ditahan polisi PID karena dianggap memihak kepada Jepang.

Di bawah pendudukan Jepang, Trimurti dan suaminya bolak-balik masuk penjara, hingga suatu hari Bung Karno mendengarkan nasibnya dan telah berusah untuk memindahkan mereka ke Jakarta. Di Jakarta, oleh Bung Karno,Trimurti dipekerjakan di Putera (Pusat Tenaga Rakyat).

Demikian kehidupan sulit ketika Trimurti berjuang melalui pers, rumah perjuangan yang telah membuatnya bolak-balik masuk penjara. Menjelang proklamasi kemerdekaan, SK Trimurti banyak mengambil peran bersama suaminya, Sayuti Melik, sang pengetik naskah proklamasi itu.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1946, SK Trimurti menjadi anggota Pengurus Besar Partai Buruh Indonesia (PBI) di Yogya, sebelum dirinya dibujuk oleh Setiadjid—yang mewakili Amir Syarifuddin—membujuknya menjadi menteri perburuhan. Di pergerakan perempuan, dia yang dikenal sangat anti-poligami ini pun turut mendirikan Gerakan Wanita Indonesia Sedar atau Gerwis, pada tahun 1950, yang lalu berganti nama menjadi Gerwani.

Nasib, wanita penentang keras poligami ini harus menerima kenyataan, bahwa suami yang sudah bersamanya selama tiga jaman (Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan), telah jatuh cinta kepada wanita lain. Dia akhirnya memilih cerai pada tahun 1969.

Di Jaman Orde baru, SK Trimurti berpaling pada gerakan kebatinan, dan mendirikan sebuah majalah mental-spiritual “Mawas Diri”. “Sejak lahir saya sudah merasuk ke dalam kebatinan. Jadi, kebatinan itu bukanlah permulaan atau akhir,” ujar wartawan tiga jaman ini.

Di tengah perayaan kebangkitan nasional, tepatnya 20 Mei 2008, dia meninggal pada pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Rudi HartonoPimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Saya mengenal ibu SK Trimurti, karena beliau adalah teman akrab ibuku. Bersama ibu Trimurti dan ibu Sri Wulandari Mangunsarkoro, mereka bertiga adalah pejuang-pejuang bangsa dalam era perjuangan kemerdekaan dan era menegakkan kembali kemerdekaan.
    Beliau bertiga menolak Perjanjian Linggarjati bergabung dengan Tan Malaka dalam ‘Persatuan Perjuangan’ di Purwokerto. Dan beliau bertiga,-kadang Tan Malaka juga-, sering diskusi di rumah. Sayang banget, saya masih kelas 1 atau 2 Taman Muda (SD) Taman Siswa, Yogyakarta.
    Terakhir, saya sowan beliau di Jalan Kramat.
    Pejuang yang gigih – pantang menyerah.