Situasi Di Buol Makin Membara Tadi Malam

BUOL: Perkembangan situasi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Rabu malam (1/9), semakin membara. Massa rakyat semakin marah dan melakukan aksi “razia” terhadap anggota kepolisian sepanjang malam hingga dini hari tadi (2/9).

Menurut Syarif, seorang pengurus Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di Buol, massa rakyat marah ketika mendengar bahwa jumlah korban meninggal sudah mencapai 10 orang.

Selain itu, lanjutnya, massa rakyat juga kesal dengan tingkah-laku Polisi yang masih terus melepaskan tembakan hingga kemarin sore (1/9), dan mengakibatkan puluhan warga terluka dan seorang pegawai negeri sipil, Iksan Mangge, tewas ditembak.

Konsentrasi massa terlihat di jalan-jalan sambil membakar ban bekas. Selain itu, di beberapa tempat, warga juga membakar sebuah motor milik anggota kepolisian. Di tempat lain, warga membakar sebuah pos polisi pelabuhan (KPPP).

Seluruh jalan yang mengarah ke ibukota Buol juga diblokade warga. Mereka memasang pecahan pot bunga dan batang pohon di tengah jalan.

Massa yang marah ini terus mencari segala sesuatu yang menyimbolkan Polisi. Tidak hanya beberapa rumah anggota Polisi yang dibakar, markas Kepolisian Sektor Momunu pun turut dibakar oleh massa.

Untuk menghindari amuk massa, sedikitnya 200 keluarga anggota Polri yang bertugas di Kabuten Buol telah diungsikan dengan menumpangi kendaraan dinas dan pribadi.

Informasi yang dihimpun oleh Berdikari Online, situasi pagi ini belum memperlihatkan adanya konsentrasi massa seperti tadi malam, kecuali iring-iringan mobil dan truk Polisi yang membawa pasukan anti huru-hara (PHH).

Berikut nama-nama korban luka saat bentrokan pada hari Rabu (1/9): 1. Agus Salim (21), 2. Firman (17), 3. Sudirman (31), 4. Sutomo (35), 5. Rio (50), 6. Hamdani (31), 7. Nadi (24), 8. Alimin (28), 9. Supriadi (26), 10. Lubis (37), 11. Syamsudin (21), 12. Agus Rasyid (36), 13. Amran Mustarif (18), 14. Ifan (25), 15. Bayu (35), 16. Umar (20), 17. Wawan (15), 18. Arif (42), 19. Amat (34), 20. Nurhanudian (24). (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kapolda Sulteng dan Kapolres Buol harus mundur untuk bertanggung jawab atas tindakan anggotanya mengambil nyawa warga.

  • lolo cool

    Anda kalo di kasih senjata jga kalo merasa terancam pasti melepaskan tembakan..memang enak klo cuma ngomong.

  • hasan masat

    Setiap moment di jakarta yang cukup signifikan akan merubah keadaan negara ini selalu muncul persoalan persoalan di daerah dan senantiasa menutup persoalan yang terjadi di jakarta…,Ahk…SBY dong yang bertanggungjawab…

  • Pitut Haryono

    Soalnya bukan soal pegang senjata dan tidak, tapi untuk apa anda memegang senjata dan kepada siapa itu harus dipergunakan. Kepolisian adalah alat negara yang dipersenjatai untuk melawan pengganggu ketertiban umum (rakyat), bukan malah menembaki rakyat itu sendiri. Lagi pula, senjata itu diperoleh dari uang atau pajak yang dibayarkan oleh rakyat, termasuk di dalamnya tukang ojek, tukang becak, dan lain-lain.

    Menjadi abdi negara memang berat, tetapi bukankah itu tugas negara dan hanya diberikan kepada putra pilihan bangsa. Kalau tidak mau menderita dalam berjuang, kenapa mendaftar polisi atau alat negara lainnya. Kalau mau senang-senang dan kaya raya, bukan jadi abdi negara tempatnya.

  • gito

    karena takut kpd malaysia, lebih baik senjata dan peluruhnya deletuskan saja tepat di badan rakyat supaya tidak rugi biaya pembeliannya yang cukup besar, dan kapan lagi tembak manusia benaran padahal udah latihan menembak.