Membela Hak Konstitusional ‘Sang Pembunuh Presiden’

Minggu, 4 Maret 2012 | 0:08 WIB 0 Komentar | 265 Views

CONSPIRATOR

The Conspirator (2010)

Sutradara: Robert Redford
Penulis Cerita: James Solomon
Pemain: Robin Wright, James McAv, Kevin Kline, Evan Rachel Wood, Tom Wilkinson, Alexis Bledel, dan Danny Huston.
Tahun Produksi: 2010
Durasi: 2 jam 3 menit

14 April 1865. Itu termasuk hari kelam dalam sejarah Amerika Serikat. Pada hari itu, Presiden Abraham Lincoln, yang dikenal sebagai bapak bangsa Amerika dan pejuang anti-perbudakan, coba dibunuh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth.

Sehari setelah kejadian, 15 April 1865, Lincoln meninggal dunia. Jutaan orang menghadiri pemakamannya di Washington DC, 19 April 1865. Setelah hari itu, bangsa Amerika dilanda kemarahan nasional.

Sutradara kenamaan AS, Robert Redford, berusaha merekonstruksi ulang sejarah itu melalui film “The Conspirator”. Akan tetapi, sudut yang hendak disorot oleh Robert Redford adalah Mary Surratt (Robin Wright), seorang janda yang mengelola sebuah rumah kost di Washington.

Mary terseret dalam kasus itu karena rumahnya dijadikan tempat pertemuan para konspirator. Selain itu, anaknya, John Surratt (Johnny Simmons), dianggap bagian dari gerakan konspirasi. Gerakan konspirasi ini merupakan orang-orang pendukung konfederasi, yakni kelompok yang tidak setuju diakhirinya perang sipil dan penghapusan perbudakan.

Singkat cerita, Marry pun diseret ke pengadilan. Akan tetapi, karena kejahatannya membunuh Presiden, maka ia diadili di pengadilan militer. Inilah yang ditentang oleh pembela hak sipil Amerika, termasuk Reverdy Johnson (Tom Wilkinson), seorang senator demokrat dari Maryland.

Bagi senator Johnson, sekalipun Amerika dilanda duka atas meninggalnya Presiden mereka, tetapi hak-hak seorang sipil tidak boleh diabaikan. Bagi Jonhson, orang-orang Amerika, khususnya pendukung Lincoln di utara, sangat pantas marah, tetapi mereka tidak boleh mengabaikan konstitusi. “Mengabaikan konstitusi bukanlah jawaban,” kata Johnson.

Frederick Aiken (James McAvoy), seorang pengacara muda di kantor senator Johnson, ditunjuk mendampingi Mary di peradilan militer. Aiken, yang juga bekas tentara Union, tentu tidak setuju dengan keinginan Johnson itu. Bagi Aiken, upaya membela Mary, seorang pembunuh Presiden, sama saja dengan menghianati negara.

Meski begitu, Aiken tetap harus mendampingi Mary. Pengacara muda ini mulai menggali informasi dan fakta. Sampai, pada suatu hari, ia bertemu anak perempuan Mary, Anna (Evan Rachel Wood). Meski begitu, Aiken tetap merasa bahwa apa yang dikerjakannya sangat bertentagan dengan apa yang pernah diperjuangkannya.

Akhirnya, Aiken berusaha menempatkan dirinya sebagai pembela terhadap seorang ibu yang terancam dihilangkan hak-haknya di hadapan peradilan militer. Baginya, penggunaan pengadilan militer, bukannya pengadilan sipil, terhadap seorang ibu tentu melanggar rasa keadilan.

Proses persidangan pun diwarnai tekanan. Sejumlah saksi sudah dipersiakan oleh Menteri Perang AS saat itu, M Stanton (Kevin Kline), yang menghendaki seluruh konspirator segera dihukum mati untuk menyelamatkan Amerika. Dalam film ini, proses peradilan digambarkan tidak lebih sebagai “komedi putar”.

Hingga akhirnya, pada ujung proses peradilan ini, Mary dan para konspirator diputuskan untuk dihukum mati. Dalam detik-detik terakhir, pengacara Aiken berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawa Mary. Ia berusaha menunda hukuman mati itu dengan mengajukan banding. Ia pun berhasil membujuk seorang hakim berfikiran liberal, Riley.

Hakim Riley setuju mengajukan banding. Hakim ini juga setuju agar proses peradilan dialihkan ke pengadilan sipil. Adegan mengharukan pun terjadi. Ketika mendengar kabar ini, Mary dan anaknya (Anna) sangat bergembira. Aiken juga turut merasakan keharuan ibu-anak ini. Tetapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Petugas hukuman mati masuk dalam sel Mary dengan membawa surat Presiden Andrew Johnson. Rupanya, Presiden memutuskan agar eksekusi tetap dilanjutkan.

Mary pun berjalan pelan menuju tiang gantungan. Bersama dengan para konspitator lainnya, Mary menghembuskan nafas terakhir di tiang gantungan. Konon, Mary Suratt adalah perempuan pertama yang dihukum mati oleh pemerintahan negara federal.

Film ini cukup menarik bagi peminat film berbau konspirasi. Selain itu, pembelaan terhadap filosofi libertarian sangat kuat terasa dalam film ini. Setidaknya, dengan mengangkat Mary, seorang pendukung konfederasi dan penentang Lincoln, angin akan terasa menguntungkan demokrat. Sebab, penggambaran mengenai pengadilan yang tidak lebih dari “komedi putar” tentu akan menyakitkan bagi kaum Republik.

Rudi Hartono

Tags: , , , ,

FeedBerlangganan Via RSS FEED

Info Artikel Terbaru Via Surel :