Sino-Rusia dan Perangkap Thucydides

Pada bulan September 2016 lalu, Rusia dan China (Republik Rakyat Tiongkok /RRT) mengadakan latihan gabungan di Laut China Selatan. Dalam latihan bertajuk Joint Sea-2016 tersebut, Rusia mengirimkan beberapa kapal perang terbaiknya. Joint Sea-2016 merupakan rangkaian latihan angkatan laut tahunan antara China dan Rusia yang telah berlangsung sejak 2012.

Meski Rusia dan China belum mengikat diri dalam sebuah pakta pertahanan, namun kontak dan kerjasama militer diantara kedua negara terus meningkat. Selain latihan angkatan laut, kedua negara kerap bekerja sama dalam bidang kontraterorisme, juga menyelenggarakan Misi Perdamaian setiap tahunnya. Hubungan dekat Rusia-RRT ini dipertegas oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. “Rusia dan China berpegang pada sudut pandang yang sangat dekat satu sama lain atau hampir sama di arena internasional,” kata Putin pada bulan Juni 2016, saat berkunjung ke RRT.

Meski hubungan antar kedua negara bertambah erat, dua minggu setelah Joint Sea-2016, China RRT mengambil posisi berbeda dengan Rusia terkait resolusi PBB yang diajukan Barat atas Suriah. RRT tidak mendukung Rusia dalam menggunakan hak veto penolakan atas resolusi tersebut. Terkait isu internasional, posisi yang relatif sama telah diambil sebelumnya oleh Rusia. Pada 14 Juli 2016, dalam sebuah briefing oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Rusia menyatakan posisi netral dalam penyelesaian kasus sengketa Laut China Selatan (LCS).

Situasi ini menarik untuk dicermati. Sebagaimana diketahui, posisi kedua negara sedang menanjak dalam kontestasi geopolitik internasional. Kerjasama yang lebih erat antar kedua negara tentu saja menambah dinamis konstelasi politik internasional pasca-Perang Dingin. China dan Rusia kerap berseberangan kepentingan dengan Barat. Namun, dua peristiwa di atas mencerminkan adanya batas konvergensi strategis antara kedua negara. Sebagaimana disebutkan François Godement, tidak diragukan lagi, poros kecocokan (axis of convenience) antara China dan Rusia tumbuh lebih besar, terutama dalam bidang ekonomi. Tetapi tantangan yang menjadi dinamika negatif akan datang dari Barat. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai analisis mendalam relasi Sino-Rusia, melainkan sekedar pengantar untuk menggambarkan secara singkat kebangkitan Sino-Rusia dan kaitannya dengan kontestasi geopolitik global, khususnya hubungan dengan Amerika Serikat, negara adidaya hegemon dunia sesudah runtuhnya Uni Soviet.

Pertumbuhan Ekonomi Rusia dan China

Sesudah wafatnya Mao pada 9 September 1976, China memulai proses reformasi di berbagai bidang. Pada bidang ekonomi, dibentuk beberapa zona ekonomi khusus di sepanjang pesisir tenggara, termasuk Provinsi Guadong, di mana komune pedesaan dibubarkan dan petani diberi kontrol atas tanah dengan sewa jangka panjang serta didorong untuk memasarkan hasil panen mereka. Kebijakan yang jauh berbeda dari era Mao ini dirumuskan dan diinisiasi oleh Deng Xiaoping. Pada tahun 1978 Deng menyatakan: “Untuk mencetuskan revolusi dan membangun sosialisme kita membutuhkan pionir yang berani berpikir, menjajaki cara-cara baru dan melahirkan gagasan-gagasan baru”.

Deng Xiaoping pun memulai perjalanan RRT menuju ekonomi pasar pada tahun 1978, dimana ia mengumumkan sebuah kebijakan yang dikenal sebagai “hide and bide” (sembunyi dan tunggu). Berdasarkan kepentingan nasional, apa yang dibutuhkan RRT dari luar negeri adalah stabilitas dan akses ke pasar. RRT kemudian menerapkan “sembunyikan kemampuan kita dan tunggu saatnya”. Oleh para perwira militer RRT kadang diterjemahkan sebagai bangun kekuatan terlebih dahulu sebelum membalas (getting strong before getting even). Deng juga dikenal dengan semboyan penuh pragmatisme yaitu: “tidak peduli kucing putih atau kucing hitam asalkan bisa menangkap tikus maka ia kucing yang baik”. Dengan kata lain Deng menempatkan ekonomi sebagai panglima dan keluar dari labirin perdebatan apakah kebijakan itu kapitalis atau sosialis. Sementara semboyan populer di era Revolusi Kebudayaan tahun 1966-1976 adalah: “lebih baik miskin di bawah alam sosialisme daripada kaya di alam kapitalisme” atau slogan yang dipopulerkan istri ketiga Mao, Jiang Qin, bahwa “kereta sosialis yang terlambat lebih baik daripada kereta kapitalis yang tepat waktu”. Nyaris sejak dimulainya reformasi, tingkat pertumbuhan ekonomi RRT mengalami transformasi dari 4-5 persen pada periode Mao menjadi 9,5 persen per tahun antara 1978 dan 1992. Belum pernah ada sejarah yang mencatat peningkatan yang sebegitu pesat. Sebagai contoh, pada tahun 1980, ekonomi China lebih kecil dari pada Belanda. Pada tahun 2014, situasi berubah: kenaikan pertumbuhan PDB China sama dengan ekonomi Belanda.

Kebangkitan ekonomi China diteropong lebih mendalam serta dielu-elukan dengan penuh optimisme oleh Martin Jacques (2011) dalam bukunya “When China Rules The World”. Ia mengungkap proyeksi yang dibuat oleh Goldman Sachs (2007), dimana tiga perekonomian terbesar dunia pada tahun 2050 adalah China, disusul oleh AS yang menempel ketat dan India agak jauh di belakang, lalu Brasil, Meksiko, Rusia dan Indonesia. (Lihat Tabel)

Pada sisi yang lain sejak awal dasawarsa terakhir, ekonomi Rusia juga membukukan pertumbuhan yang kuat, meskipun krisis keuangan global melanda Rusia pada tahun 2009. Karena pertumbuhan ekonomi dan penguatan rubel, PDB Rusia tumbuh hampir dua kali lipat antara tahun 2005 dan 2010 hingga mencapai 1500 miliar dolar. Dengan angka ini, Rusia menempati peringkat 11 di antara ekonomi terbesar dunia. Namun, Rusia – seperti banyak negara lain belum sebanding dengan China. Pada tahun 2010 saja, PDB RRT hampir mencapai 5900 miliar dolar. Dengan angka ini, RRT meloncati Jepang dan naik menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Nominal PDB menyediakan matrik untuk ukuran dan pertumbuhan pasar dan dengan demikian merupakan kriteria utama bagi perusahaan ketika mereka membuat keputusan bisnis dan investasi strategis. Adapun indikator yang lebih baik mengenai ukuran ekonomi “sebenarnya” dan berapa banyak yang menggunakan sumber daya adalah paritas daya beli (purchasing power parity) disesuaikan PDB (PPP). Dengan indikator terakhir, pangsa global output Rusia tetap sekitar 3% selama lima belas tahun terakhir, sementara pada periode yang sama pangsa China meningkat dari kurang dari 6% menjadi hampir 14%.

Rusia merupakan negara dengan cadangan gas alam terbesar di dunia (OPEC mengestimasi seperempat cadangan gas alam dunia berada di Rusia), dan kelima terbesar untuk cadangan minyak (berdasarkan data British Petroleum). Menurut Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia, pada 2015 lalu produksi bahan bakar minyak dan energi Rusia mencapai 63 persen dari total ekspor negara. Sementara, 43 persen pemasukan negara berasal dari hasil perdagangan minyak. Para ahli ekonomi menilai bahwa ketergantungan Rusia pada hidrokarbon berada pada tingkat yang cukup berbahaya. Hal ini membuat perekonomian Rusia bergantung pada harga minyak bumi. Harga minyak yang tumbang sejak 2014 hingga 2016 (dari 111 dolar AS menjadi 32 dolar AS per barel), serta sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Rusia, mengakibatkan runtuhnya perekonomian negara. Menurut Badan Statistik Negara (Rosstat), pada 2015 PDB Rusia jatuh sebesar 2,8 persen, hingga pada 2016 harga minyak kembali stabil dan situasi sedikit membaik (PDB menurun sebesar 0,6 persen).

Kendati demikian, PDB Rusia untuk paritas daya beli pada 2016 mencapai 3,75 triliun dolar AS (peringkat keenam di dunia). Konsultan keuangan PricewaterhouseCoopers memperkirakan bahwa Rusia akan tetap bertahan pada posisi yang sama hingga tahun 2050. Ahli ekonomi dari kantor berita Interfax percaya bahwa Rusia secara bertahap akan keluar dari masa sulitnya dan masuk ke tahap stagnasi. Bagaimanapun juga, saat ini warga Rusia mengalami kesulitan ekonomi: pada 2016, pendapatan masyarakat turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di China daripada Rusia, perbedaan standar hidup di antara kedua negara semakin berkurang. Pada paruh kedua tahun 1990 PDB PPP per kapita China hanya sepertiga, namun sepuluh tahun kemudian melompat mencapai separuh dari Rusia. Laporan FIIA (2011)  di bawah di bawah ini menggambarkan pesatnya pertumbuhan ekonomi China sejak tahun 1995 hingga tahun 2010.

Tren yang lebih panjang ditunjukkan oleh Stephen G. Brooks dan William C. Wohlforth dalam artikel The Rise and Fall of the Great Powers in the Twenty-First Century, China’s Rise and the Fate of America’s Global Position. 

Relasi Sino-Rusia

Hubungan RRT dan Rusia mulai pulih pada tahun 1980-an. Dalam kurun dua dasawarsa, kedua negara pernah mengalami hubungan buruk oleh perbedaan (garis dan penafsiran) ideologi, gaya kepemimpinan serta kepentingan nasional. Selama perselisihan Sino-Soviet pada akhir 1960-an dan 1970-an, pemimpin Uni Soviet bahkan mempertimbangkan untuk mengadakan serangan nuklir terhadap China sebagai reaksi atas pertikaian di perbatasan. Mao Zedong menanggapi tawaran dari Presiden Nixon dan berbalik ke AS untuk menyeimbangkan usaha melawan Uni Soviet. Selama dekade berikutnya hubungan Sino-Soviet dihantui potensi konfrontasi yang sewaktu-waktu dapat pecah. Runtuhnya Uni Soviet pada akhir tahun 1991 membuka jalan bagi penuntasan transformasi dalam hubungan kedua negara.

Lompatan modernisasi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat di China mengintegrasikan China dalam ekonomi global, termasuk memperluas berbagai aspek dalam hubungan Sino-Rusia. Tahun 2016 menandai ulang tahun kedua puluh peluncuran kemitraan strategis China-Rusia, analis Liu Fenghua mencatat banyak prestasi nyata yang telah dicapai dalam kerangka kemitraan tersebut:, seperti finalisasi kesepakatan tentang perbatasan 2004; keselarasan strategi menghadapi revolusi warna; oposisi bersama melawan rudal pertahanan; pembentukan The Shanghai Cooperation (SCO); kerja sama yang erat dalam organisasi internasional multilateral, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa; kerjasama memajukan sistem pertahanan China; serta kerjasama energi.

Kerjasama ekonomi juga mencapai tingkat strategis. Perdagangan bilateral mencapai $ 95 miliar pada tahun 2014, dan meskipun turun menjadi $ 69 miliar pada tahun 2015, China tetap menjadi mitra dagang bilateral terpenting di Rusia dan China juga merupakan penyedia investasi asing terbesar keempat ke Rusia. Sementara bagi China, Rusia termasuk sepuluh besar mitra dagang terbesar.

Untuk memuluskan pertumbuhan ekonominya, Rusia memanfaatkan tingginya ekspor minyak bumi serta tingginya permintaan atas bahan-bahan baku indsutri. Rusia mengejar ketertinggalan dan meluaskan pengaruh politik dengan bergabung dalam SCO dan BRICS, secara khusus memanfaatkan hubungan dekat dengan RRT. Meski demikian, hubungan dekat ini diragukan meningkat secara lebih strategis oleh karena visi dan kepentingan yang berbeda. Sehingga, jika tidak dapat diatasi, prospek bagi integrasi ekonomi Sino-Rusia tidak cukup menjanjikan di masa depan.

Kemajuan Rusia dan China mencakup pula dalam bidang pertahanan. Kemajuan ini ditandai dengan semakin besarnya belanja militer terhadap PDB. Berdasarkan data yang dirilis oleh SIPRI, saat ini China menduduki ranking kedua dalam belanja militer, meski belum bisa mengimbangi Amerika Serikat. Adapun Rusia tercatat naik dari peringkat 4 pada tahun 2015 menjadi peringkat 3 pada tahun 2016.

Perangkap Thucydides

Apakah Rusia dan China akan menggeser hegemon dunia saat ini? Beberapa analis, seperti Josef Joffe meragukan hal tersebut. Joffe (2009) mengkritik kaum declinist,-mereka yang menyatakan AS sedang mengalami kemunduran. Menurut Joffe, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi China pada kisaran tujuh persen – dua kali tingkat historis PDB Amerika Serikat, PDB China akan meningkat antara 2007 dan 2015, dari $ 3,3 triliun menjadi $ 6,6 triliun, dan kemudian dua kali lipat lagi pada tahun 2025 menjadi $ 13,2 triliun. Pada saat itu, dengan asumsi pertumbuhan tahunan 3,5 persen untuk Amerika Serikat (rata-rata historis), PDB Amerika Serikat akan tumbuh menjadi $ 28 triliun. Mengingat berbagai tantangan yang dihadapi China, skenario ini menurut Joffe lebih realistis daripada proyeksi berdasarkan tingkat pertumbuhan China yang ada saat itu. Singkatnya, menurut Joffe, China masih cukup jauh untuk dapat menggantikan Amerika Serikat.

Pandangan lain muncul dari Graham Allison. Ia menggambarkan, ketika kekuatan yang sedang berkembang mencoba untuk menggantikan kekuatan hegemonik dalam politik internasional, konflik besar seringkali tidak terelakkan. Profesor dari Universitas Harvard Graham T. Allison menggambarkan skenario ini sebagai “Perangkap Thucydides.” Buku terbarunya yang mengangkat masalah ini, yaitu  “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?”, menarik perhatian berbagai kalangan di seluruh dunia. Dalam buku ini, Allison mengungkapkan bahwa pergeseran kekuatan saat ini, yaitu kenaikan yang terjadi di China dan usaha keras hegemon pascaperang dunia, Amerika Serikat, dapat menyebabkan perang antara A.S. dan China.

Graham Allison merujuk penggunaan istilah “Thucydides Trap” dari catatan sejarawan Yunani kuno tentang Perang Peloponnesia, di Yunani pada abad ke-5 SM. Kala itu, perkembangan pesat negara kota maritim Athena menimbulkan ketakutan di Sparta, hegemon wilayah daratan saat itu. Akhirnya, kedua negara kota tersebut jatuh ke dalam perang. Graham Allison mencatat, terdapat 16 kali momen historis dimana terjadi kasus “Thucydides Trap”. Dua belas kasus diantaranya berakhir dengan perang. (Lihat tabel)

Di lain pihak, Profesor Harvard Joseph S. Nye berpendapat bahwa bukan Perangkap Thucydides yang seharusnya diwaspadai, melainkan “Perangkap Kindleberger” (Kindleberger trap), yaitu justru saat China tampak lebih lemah. Nye merujuk istilah ini dari sejarawan ekonomi MIT Charles Kindleberger, yang pernah berpendapat ketika AS menggantikan Inggris sebagai hegemon global, ia gagal menggunakan peran (kepemimpinan) tersebut. Mantan hegemon sebelumnya, Inggris Raya “memiliki keinginan, tapi tidak memiliki kemampuan” untuk mencapainya. Sementara itu, sebagai kekuatan dunia yang sedang bersinar,  AS  “mampu tapi tidak mau.” Kindleberger menjelaskan bahwa ketidaksesuaian semacam inilah yang menyebabkan runtuhnya sistem global di tahun 1930an.

Penutup

Sebagaimana dikemukakan oleh Paul Kennedy dalam The Rise and Fall of the Great Powers, kemampuan negara-negara untuk menerapkan dan mempertahankan hegemoni global pada akhirnya bergantung pada kapasitas produktif mereka. Tidak diragukan lagi, China (RRT) sedang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang, khususnya ekonomi dan pertahanan. Fenomena telah dicermati oleh para analis sebagai fakta yang tidak terbantahkan. Namun perdebatan akan seberapa efektif China dapat menggeser hegemon pasca-Perang Dingin (AS) masih menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Adapun Rusia terus berupaya merebut kembali (reposisi) warisan Uni Soviet, sebagai salah satu negara adidaya. Perkembangan militer Rusia cukup mengagumkan, namun salah satu kelemahan mendasar Rusia adalah di bidang ekonomi. Rusia masih sangat tergantung pada produksi minyak bumi dan penyediaan bahan-bahan baku/mentah. Secara ekonomi, jika ketergantungan ini tidak dapat diatasi, maka akan terjadi penurunan pertumbuhan yang membawa kemunduran di masa depan. Terkait perubahan lingkungan strategis ini, maka fenomena kebangkitan China menarik dikaji, termasuk topik “Thucydides Trap” yang dilansir Profesor Graham Allison.

Harris Sitorus

Sedang menimba ilmu di Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia Program Pascasarjana Kajian Ketahanan Nasional. Web: http://harris.sitorus.net

 

Rujukan

  • Allison, Graham. The Thucydides Trap: Are the U.S. and China Headed for War? Dalam https://www.theatlantic.com/international/archive/2015/09/united-states-china-war-thucydides-trap/406756/

———————. China vs. America Managing the Next Clash of Civilizations. Foreign Affairs Volume 96, Number 5 Sept/Oct 2017.

  • Brooks, Stephen G., William C. Wohlforth. The Rise and Fall of the Great Powers in the Twenty-first Century. International Security, Vol. 40, No. 3 (Winter 2015/16).
  • Godement, François et al. China And Russia: Gaming The West? The European Council on Foreign Relations. November 2016
  • Jacques, Martin. When China Rules The World. Kebangkitan Dunia Timur dan Akhir Dunia Barat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2011.
  • Joffe, Josef. The Default Power, The False Prophecy of America’s Decline. Foreign Affairs Volume 88, Number 5 Sept/Oct
  • Lukyanov, Fyodor. Putin’s Foreign Policy The Quest to Restore Russia’s Rightful Place. Foreign Affairs Volume 95, Number 3 May/June 2016.
  • Moshes, Arkady., Nojonen, Matti (eds.). Russia-China relations, Current state, alternative futures, and implications for the West. FIIA REPORT 30. 2011
  • SIPRI Military Expenditure Database. SIPRI Fact Sheet April 2017 pada https://www.sipri.org/databases/milex

 

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut