Simon Bolivar Dan Cita-Cita Pembebasan Amerika Latin

Simon Bolivar

Di Amerika Selatan, yang terentang dari Venezuela hingga Argentina, siapa yang tidak kenal dengan Simon Bolivar?

Dia adalah pejuang kemerdekaan Amerika Selatan. Sepanjang hidupnya (1783-1830), dia berhasil membebaskan enam bangsa, yaitu Venezuela, Panama, Ekuador, Bolivia, Kolombia, dan Peru, dari kolonialisme Spanyol yang menjajah kawasan itu selama lebih dari 300 tahun.

Sutradara film berkebangsaan Venezuela, Alberto Arvelo, mengangkat kembali kisah kepahlawan Simon Bolivar ke layar lebar melalui film berjudul “Libertador/The Liberator” (2013). Saya kira, film berdurasi 119 menit ini sangat bisa mengantarkan kita mengenal sosok pahlawan Amerika latin itu dan pandangan politiknya.

Dalam film Libertador, Bolivar diperankan oleh Édgar Ramírez, artis Venezuela yang memerankan Carlos The Jackal—seorang komunis Venezuela yang terlibat dalam Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (FPLP)—dalam film Carlos (2010).

Anak Kaum Kaya

Bagian awal Libertador mengisahkan latar belakang sosial Simon Bolivar. Dia adalah seorang revolusioner yang terlahir dari keluarga aristokrat yang kaya-raya.

Bolivar lahir di Caracas, Venezuela, tahun 1783. Namun, di usia yang masih belia, ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Ia kemudian dibesarkan oleh pamannya. Sebagai anak kaum kaya, Bolivar punya kesempatan mengenyam pendidikan terbaik. Dia mendapat pendidikan privat. Simón Rodríguez, seorang radikal dan pengagum Revolusi Perancis, menjadi gurunya.

Di usia 15 tahun, Bolivar dikirim belajar di Spanyol. Di sana dia bergaul dengan keluarga kerajaan. Salah satunya Pangeran Fernando—kelak menjadi raja dengan gelar Ferdinand VII. Namun demikian, Bolivar tidak pernah lupa asal-usulnya sebagai anak dari negeri yang sedang terjajah.

Saya kira, yang menarik untuk ditelusuri adalah faktor-faktor apa saja yang membentuk kesadaran politik Bolivar, sehingga memilih jalan pembebasan rakyat. Film Libertador berusaha menampilkan dua jawaban.

Pertama, kendati lahir di tengah keluarga kaya-raya, tetapi Bolivar kecil diasuh dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga budak. Namanya Hipólita. Bolivar memperlakukan Hipólita sebagai ibunya. Perempuan inilah yang berpengaruh besar dalam perkembangan karakter Bolivar Bolivar.

Kedua, pemikiran politik Bolivar banyak dipengaruhi oleh gurunya,  Simón Rodríguez. Rodríguez banyak menularkan gagasan-gagasan Rousseu kepada Bolivar. Dia juga yang mengenalkan revolusi Perancis dan ide-ide Republik kepada Bolivar Bolivar.

Dengan pangkal pemikirannya itu, Bolivar menentang mati-matian kolonialisme dan perbudakan. Menurutnya, kedua sistim terkutuk itu menyebabkan manusia tidak bebas dan merdeka.

Setiap pemihakan politik punya konsekuensi. Bolivar sangat tahu akan hal itu. Karenanya, dia tidak gentar ketika penguasa Spanyol menyita seluruh tanah dan harta miliknya. Dia tidak takut jatuh miskin. Baginya, membela cita-cita Republik adalah di atas segala-galanya, termasuk di atas kepentingan pribadinya.

Yang menarik dari film ini juga, Bolivar digambar apa adanya.  Ia jatuh cinta pada seorang perempuan, Maria Teresa (María Valverde), yang kemudian menjadi istrinya. Tetapi kisah cinta mereka tidak panjang. Karena penyakit deman kuning, Teresa meninggal tak lama setelah tiba di Venezuela. Dan Bolivar sangat terpukul oleh kejadian itu.

Ia sempat mengalami demoralisasi. Saat itu ia memilih berkelana ke Eropa. Hidup dari pesta ke pesta. Hingga datang Simón Rodríguez untuk menyadarkan sekaligus mengembalikannya ke cita-cita politik: membebaskan Amerika latin.

Memulai Perjuangan Kemerdekaan

Libertador juga memperlihatkan bagaimana Bolivar memulai perjuangannya membebaskan Amerika Selatan dari kungkungan kolonialis Spanyol.

Di sini ada hal yang menarik. Di Amerika Selatan, seperti juga Indonesia, ada beragam suku dan bangsa: Eropa, kreole, kulit hitam, indian, mestizo, dan lain-lain. Namun, gagasan Bolivar berhasil melewati rintangan itu. Menurutnya, revolusi akan gagal jika tidak didukung oleh seluruh rakyat Amerika Selatan, tanpa membeda-bedakan suku dan bangsa.

Awal 1800-an Spanyol terdesak. Negeri itu ditaklukkan oleh Napoleon. Situasi itulah yang dimanfaatkan oleh negara-negara jajahan, termasuk Amerika Selatan, untuk mengobarkan perang kemerdekaan. Bulan April 1810, Venezuela secara de-facto menyatakan merdeka. Kolonialis Spanyol untuk sementara menyingkir. Pemerintahan junta pun terbentuk.

Saat itu, untuk mengamankan kemerdekaannya, pemerintahan junta mengirim delegasi ke Inggris. Salah satunya adalah Bolivar. Tujuannya: untuk mendapat pengakuan sekaligus bantuan dari pemerintah Inggris.

Bagi sebagian orang, tindakan Bolivar itu terbilang janggal. Betapa tidak, sementara ia berjuang untuk keluar dari cengkeraman kolonialis Spanyol, ia justru meminta restu dari kolonialis lain yang tak kalah kejinya: Inggris. Karenanya, banyak yang mencap Bolivar sebagai seorang yang pragmatis dalam mencapai cita-citanya.

Tidak hanya itu, Bolivar juga menemui Jenderal Francisco de Miranda (Manuel Porto), seorang keturunan Venezuela yang punya kisah heroik pernah berperang bersama dengan Napoleon dan George Washington. Ia meminta Jenderal Miranda untuk kembali ke Venezuela dan memimpin revolusi. Dan, demi memastikan kesediaan Jenderal Miranda, Bolivar memberinya uang.

Memang, bersama Jenderal Miranda dan patriot lainnya, Bolivar berhasil membentuk Republik Venezuela yang merdeka. Sering dinamai Republik pertama. Namun, usia Republik pertama ini tidak cukup lama, karena dijepit kekuasaannya oleh kaum royalis—sebutan bagi orang Venezuela yang mendukung kolonialis Spanyol—dan tentara Spanyol yang dipimpin oleh Kapten Domingo Monteverde (Imanol Arias).

Pada saat terjepit itu, Jenderal Miranda berkapitulasi dengan tentara Spanyol. Hal itu membuat Bolivar marah besar. Dia menuduh Jenderal Miranda sudah berkhianat. Karena itulah, dia menangkap Jenderal tua itu, lalu menyerahkannya ke Spanyol. Saya kira, tindakan Bolivar ini sangat janggal. Pada kenyataannya, Bolivar turut ditangkap dan dibuang ke hutan Cartagena. Seluruh tanah dan kekayaannya, kecuali rumahnya, disita oleh penguasa Spanyol.

Republik Venezuela Pertama resmi kalah di tahun 1812. Dalam Manifesto Cartagena, yang dibuat oleh Bolivar tahun 1812, dijelaskan penyebab runtuhnya Republik Pertama. Selain karena rongrongan kolonialis Spanyol dan sekutu lokalnya (kaum royalis), juga karena perlawanan gereja dan bencana alam.

Revolusi Kemerdekaan

Di Cartagena, Bolivar bergabung dengan kaum Patriot. Dengan kepiawaiannya berpidato, ia berhasil menarik kaum miskin dan para budak di barisannya. Dengan kekuatan itulah ia berhasil membebaskan wilayah pesisir sungai Cartagena.

Lantaran sukses itu, Gubernur Cartagena yang diam-diam anti-Spanyol mendukung Bolivar. Dia mengirimkan legium yang dipimpin oleh Jenderal Fransisco De Paula Santander, untuk memperkuat barisan tentara Bolivar.

Pasukan Bolivar berlipat-ganda. Lalu, tahun 1813, ia berhasil memenangi pertempuran besar, yakni pertempuran Cúcuta. Saat itu pasukan Bolivar berhasil menghancurkan pasukan Spanyol dan royalis yang jumlahnya lebih besar. Ia diangkat menjadi Brigadir Jenderal.

Cúcuta terletak di perbatasan antara Kolombia dan Venezuela. Inilah menjadi “teritori merah”-nya Bolivar untuk mulai melancarkan perang pembebasan di wilayah Venezuela. Kendati keinginan tersebut ditentang oleh Jenderal Santander. Namun, berkat pidatonya yang memikat dan membakar, hampir seluruh prajurit Santander memilih ikut dengan barisan Bolivar memasuki Venezuela. Perang pembebasan dimulai.

Saat masuk ke Venezuela, Bolivar membuat dekrit perang: hidup atau mati. Dekrit ini merupakan reaksi terhadap kekejaman tentara Spanyol dan kaum royalis yang tidak segan membantai pendukung republik dan mengeksekusi kaum patriot yang tertangkap. Dekrit ini dimaksudkan untuk menghilangkan keragu-raguan para patriot dalam pertempuran.

Begitu masuk Venezuela, Bolivar langsung menarget jantung Venezuela, yakni Caracas. Saat itu, penguasa Spanyol di Caracas di bawah Monteverde tidak menduga serangan itu. Pasukannya sedang dimobilisasi keluar. Dengan begitu, pasukan Bolivar berhasil merebut Caracas dengan mudah.

6 Agustus 1813, pasukan Bolivar masuk ke kota Caracas. Mereka disambut dengan suka cita dan sorak gembira oleh rakyat di sana. Republik Venezuela Kedua terbentuk tahun 1813. Namun, Bolivar sadar, usia Republik Kedua tidak akan lama. “Jangan tertipu dengan perayaan. Orang Spanyol akan kembali lagi,” kata Bolivar kepada ibu angkatnya, Hipolita.

Dan itu benar. Pertengahan 1814, Spanyol dan kaum royalis berhasil merebut kembali Caracas. Usia Republik Kedua hanya setahun. Akibat kekalahan itu, bukan hanya Bolivar yang harus menyingkir, tapi juga seluruh rakyat Caracas pendukung Republik. Mereka melakukan long-march ke Nueva Granada (Sekarang Kolombia, sebagian Venezuela, Ekuador, Panama, dan sebagian Peru).

Tak lama kemudian, Bolivar menyingkir ke Jamaica. Di sana ia menulis Carta de Jamaica (surat dari Jamaika), yang mengevaluasi faktor penyebab keruntuhan Republik Kedua dan cita-cita memerdekakan seluruh Amerika. Tak lama kemudian, ia pergi ke Haiti. Di sana ia mendapat perlindungan dan dukungan logistik dari Presiden Haiti, Alejandro Petion.

Tahun 1816, Bolivar mulai ekspedisi untuk kembali ke Venezuela. Pertama kali ia mendarat di pulau Margarita, Venezuela. Tak lama kemudian, ia berhasil merebut daerah yang jadi pusat perbudakan, Carúpano. Di kota itu Bolivar mengeluarkan dekrit penghapusan perbudakan.

Tahun 1817, Bolivar merebut Guayana, yang kemudian dijadikan titik awal untuk membebaskan seluruh Venezuela. Tak lama berselang, Angostura (sekarang Ciudad Bolívar) direbut kaum patriot. Dia kemudian mengorganisasikan negara baru. Ia kemudian menerbitkan koran bernama Correo del Orinoco.

Tak lama kemudian, Bolivar memulai perang pembebasan Nueva Granada (Sekarang Kolombia, sebagian Venezuela, Ekuador, Panama, dan sebagian Peru). Namun, untuk melancarkan serangan dadakan, Bolivar menempuh jalan sulit: menyeberangi pegunungan Andes yang dingin. Banyak pasukannya yang mati kelaparan. Hampir seluruh kuda mereka mati. Di tahun itu juga Bolivar bertemu kembali dengan kawan seperjuangannya yang loyal, Antonio Jose de Sucre.

Lalu, dengan sisa pasukannya, pada 7 Agustus 1819, Bolivar melancarkan serangan terhadap pasukan Spanyol di Bogoto. Ini pertempuran heroik. Kendati kalah jauh dari segi jumlah, pasukan Bolivar berhasil menaklukkan tentara Spanyol yang dilengkapi senjata dan artileri. Sejarah mencatatnya sebagai “Pertempuran Boyacá”. Tentara Spanyol lari kalang-kabut meninggalkan Bogota. Akhirnya, pada 10 Agustus 1819, Bolivar memasuki Bogota.

Dengan merebut Bogota, berarti Nueva Granada bebas. Saat itulah Bolivar memproklamirkan berdirinya “Republik Besar Amerika Kolombia”, atau sering disebut ‘Gran Colombia’, yang meliputi Venezuela, Kolombia, Panama, dan Ekuador. Bolivar ditunjuk sebagai Presiden.

Namun, saat itu Caracas masih dikuasai Spanyol. Setelah membebaskan sejumlah daerah kecil di Venezuela, pada bulan Juni 1821, meletus pertempuran besar: pertempuran  Carabobo. Bolivar dan kaum Republik memenangi pertempuran. Dengan demikian, Venezuela sepenuhnya terbebaskan dari Spanyol.

Setelah itu, tahun 1822, Bolivar bersama Sucre juga berhasil membebaskan Ekuador. Kemudian, pada tahun 1824, Sucre berhasil membebaskan Peru. Dengan demikian, cita-cita Bolivar membebaskan seluruh Amerika Selatan dari kolonialisme Spanyol hampir terwujud.

Perpecahan Di Tubuh Republik

Di jalan memperjuangkan kemerdekaan nasional, para patriot dari berbagai kekuatan politik, aliran ideologi, bahkan berbagai motif kepentingan, bisa bersatu padu. Namun, begitu kemerdekaan sudah tercapai, para patriot itu seolah-olah berada di persimpangan jalan. Di titik itu, para patriot bisa memilih jalan berbeda-beda di atas kereta yang sama. Dan sejarah memberitahu kita, pada titik itulah sebuah bangsa atau negara yang baru lahir diuji ketangguhannya: tetap bersatu atau terpecah.

Saya kira, Republik Indonesia pernah mengalami itu. Kira-kira di tahun 1950 hingga 1959. Negeri yang baru merdeka ini diuji oleh menguatnya ide federalisme, semangat kepartaian yang sempit, pemberontakan kaum separatis, dan lain-lain. Namun, alhamdulillah, bangsa ini bisa melewati ujian berat itu.

Bolivar dan kawan-kawan seperjuangannya mengalami itu. Tak lama setelah diproklamirkan, Republik Besar Amerika Kolombia (Gran Colombi) berada diambang perpecahan akibat pertentangan internal. Pertentangan yang terbesar adalah antara pendukung ‘negara kesatuan yang terpusat’ versus pendukung ‘federalisme/provinsialisme’. Bolivar sebagai Presiden berada di kubu “negara kesatuan yang terpusat”, sedangkan Fransisco De Paula Santander selaku Wakil Presiden berada dikubu ‘federalisme/provinsialisme’.

Bagi Bolivar, sebuah negara Amerika yang bersatu dan sentralistik diperlukan untuk mengkonsolidasikan kemerdekaan agar mencapai tujuannya. “Kami butuh negara yang kuat, tegas, dan efisien. Jika tidak, kita harus menerima resiko menjadi korban penjajahan, tirani, dan kelaliman bangsa asing,” kata Bolivar.

Sebaliknya, bagi Santander, sebuah negara kesatuan yang terpusat berpotensi menjadikan sang Presiden menjadi diktator. Santander adalah seorang aristokrat berpandangan liberal. Baginya, seperti kaum liberal pada umumnya, percaya pada kebebasan individu yang dilindungi oleh hukum.

Masalahnya, di kalangan politikus dan petinggi militer, ide Bolivar hanya didukung oleh kawannya yang setia, Antonio Jose de Sucre. Sementara kawannya yang lain, Felix Ribas, sudah dieksekusi mati kaum royalis sejak 1815.

Pertentangan itu berujung bentrok. Pada bulan September 1828, Santander melancarkan upaya kudeta dengan membunuh Bolivar. Tetapi rencana itu terendus oleh kekasih Bolivar, Manuela Saenz. Dialah yang mendorong menyelinap lewat jendela, sehingga lolos dari upaya pembunuhan. Karena kontribusinya menyelamatkan nyawa Bolivar, Manuela mendapat gelar “Pembebas Sang Pembebas”.

Tetap krisis di tubuh Republik tidak berhenti di situ. Gerakan pemisahan juga berkembang. Di Venezuela, muncul gerakan pemisahan dari Republik Besar Amerika Kolombia yang dipimpin oleh tokoh pejuang kemerdekaan, José Antonio Páez. Gerakannya dinamai “La Cosiata”. Tahun 1827, Bolivar datang ke Caracas dan berhasil menenangkan Páez.

Namun, upaya Bolivar menjaga kesatuan Republik seakan membentur tembok tebal. Gerakan pemisahan terus menguat, sementara kekuatan yang menghendaki penyatuan makin melemah. Di Nueva Granada, gerakan pemisahan bertambah kuat.

Di sisi lain, di tengah kerasnya perjuangan mempertahankan kesatuan Republik, Bolivar juga sakit-sakitan. Ia menderita TBC akut. Akhirnya, pda bulan April 1830, Bolivar mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden.

Bolivar benar-benar kehilangan semangat tak kalah mendengar kawan seperjuangannya, Antonio Jose de Sucre, dibunuh. Tak lama kemudian, ia berkeinginan ke Eropa. Pada tanggal 7 Desember 1830, di pantai San Pedro Alejandrino, Santa Marta, Magdalena, Kolombia, ketika akan memulai perjalannya, Sang Pembebas Amerika Latin itu meninggal dunia.

Pemikiran Politik

Bolivar sangat dipengaruhi oleh ide-ide pencerahan yang dikobarkan oleh Revolusi Perancis. Ia akrab dengan tulisan-tulisan Montesquieu, tetapi lebih tertarik pada  Rousseau.

Sekilas, kita bisa melihat bahwa Bolivar adalah seorang liberal. Apalagi, di bagian awal Libertador ada dialog yang menegaskan hal itu. “Guruku (Bolivar Simón Rodríguez) menegaskan bahwa kaum liberal tidak harus berpartisipasi dalam lembaga-lembaga yang membatasi kemerdekaan dirinya. Aku menentang pernikahan, negara, dan sistem apapun yang memisahkan orang-orang dan memanipulasi mereka,” kata Bolivar.

Tetapi, karena pengaruh Rousseu, Bolivar condong pada republikanisme, yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Bagi Rousseu, kebebasan tidak mungkin terjadi tanpa kesetaraan. Karena itu, seperti juga Rousseu, Bolivar mengeritik hak istimewa dan kepemilikan pribadi. “Hukum yang melindungi hak istimewa adalah tirani,” kata Bolivar dalam Libertador.

Tidak mengherankan, Bolivar tidak memisahkan antara perjuangan kemerdekaan dan keharusan menghapus perbudakan. Dia juga tidak mempersoalkan aksi kaum budak dan kaum miskin yang mengambilalih perkebunan kaum kaya. “Tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang terbangun karena kelaparan,” tegasnya.

Bagi Bolivar, nasib manusia sebenarnya adalah merdeka. Dia bilang, “Keinginan untuk bebas adalah dorongan alami, sebuah dorongan yang berasal dari usus, seperti merasakan enak, tertawa, dan bernafas.” Dorongan untuk bebas dan merdeka tidak bisa dihalangi oleh siapapun dan kekuasaan manapun.

Kolonialisme, dalam segala bentuknya, bertolak belakang dengan dorongan alami manusia untuk merdeka. Dalam pandangan Bolivar, kolonialisme Spanyol bukan hanya merampas hak hidup bangsa terjajah, tetapi juga kebebebasan dan kemerdekaannya.

Inilah yang menarik. Bolivar menggabungkan ide-ide republikanisme dan perjuangan pembebasan nasional. Ia percaya, bahwa kemerdekaan hanya jalan untuk memberikan kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan bagi rakyat Amerika.

Terkait tudingan bahwa Bolivar cenderung otoriter, kita perlu melihat konteks saat itu. Sebab, seperti dikatakan oleh intelektual kiri kelahiran Chile, Marta Harnecker, bahwa Bolivar sangat percaya bahwa demokrasi merupakan sistim politik yang paling mungkin untuk memberikan kebahagiaan bagi Rakyat.

Sekarang kita lihat konteks saat itu. Republik Besar Amerika Kolombia (Gran Colombia) diproklamirkan oleh Bolivar di tengah kepungan kolonialisme. Di sisi lain, perlawanan dan pemberontakan kaum royalis, yang terdiri dari kaum aristokrat konservatif pendukung kolonialis Spanyol, masih terjadi di sejumlah tempat, seperti Peru dan Ekuador. Selain itu, internal Republik mengalami keretakan akibat menguatnya gerakan federalisme/provinsialisme.

Bolivar khawatir, jika tidak ada kesatuan, maka Republik akan runtuh. Dan bila Republik berubah menjadi negara-negara kecil, maka peluang bagi kolonialisme untuk berkuasa kembali sangat besar. Bolivar tidak menginginkan hal itu. Karenanya, pada tahun 1828, ia memaklumkan dirinya sebagai diktator.

Chavez Wujudkan Cita-Cita Simon Bolivar

Tahun 1998, seorang perwira militer pengagum Bolivar memenangi Pemilu Presiden (Pilpres) Venezuela. Dia adalah Kolonel Hugo Chavez Friaz.

Semasa di akademi militer, Chavez muda giat mempelajari pemikiran Bolivar. Ia begitu terpikat dengan gagasan sang pembebas abad ke-19 itu. Saking terpikatnya, ia menamai gerakan klandesteinnya dengan nama: Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200 (MBR-200).

Begitu berkuasa, Chavez segera menghidupkan kembali Bolivar. Ia mengubah nama negara dari “Republik Venezuela” menjadi “Republik Bolivarian Venezuela”. Tidak hanya itu, Venezuela menamai revolusi yang sedang digerakkannya bersama rakyatnya diberinama “Revolusi Bolivarian”.

Chavez mengembalikan Bolivar sebagai bapak bangsa Venezuela dan Amerika latin. Dan yang cukup penting, dengan sering mengutip Bolivar di pidato dan rencana-rencana politiknya, Chavez membuat semangat dan gagasan Bolivar kembali ke tengah-tengah rakyat jelata Venezuela.

Yang lebih penting, Chavez berhasil mewujudkan mimpi besar Bolivar. Saya kira, ada dua mimpi besar Bolivar yang diwujudkan oleh Chavez. Pertama, Chavez berhasil menampilkan kekuasaan yang sukses memberi ‘kebahagiaan kepada rakyat’. Ini dicapai oleh Chavez melalui serangkaian program sosial yang memihak dan menjangkau mayoritas rakyat Venezuela, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, pangan, dan lain-lain. Dengan pemenuhan hak dasar tersebut, rakyat Venezuela bisa meraih kemerdekaan dan martabatnya sebagai manusia merdeka.

Kedua, Chavez berhasil berhasil mewujudkan mimpi Bolivar menyatukan Amerika Latin dan Karibia di atas pijakan kemerdekaan, kedaulatan, persaudaraan, dan solidaritas. Pada tahun 2004, Chavez menginisiasi berdirinya blok negara-negara progressif Amerika Latin bernama Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika latin (ALBA). ALBA beranggota 11 negara: Venzuela, Kuba, Bolivia, Ekuador, Dominika, Nikaragua, Grenada, Saint Lucia, Federasi Saint Kitts dan Nevis, Saint Vincent dan Grenadines, dan negara Antigua dan Barbuda.

Di tahun 2006, Chaves berkontribusi besar menggalang sejumlah pemimpin kiri amerika latin dan gerakan rakyat di sana untuk menggagalkan Free Trade Area of America (FTAA)—perdagangan bebas kawasan Amerika Latin yang dipaksakan oleh Amerika Serikat.

Tahun 2005, Chavez juga menciptakan program Petrocaribe untuk membantu pasokan minyak negara-negara Amerika Latin dan Karibia. Pada tahun 2009, Chavez mensponsori pembentukan Bank Selatan (BanSur), agar negara-negara Amerika Latin merdeka dari tekanan IMF dan Bank Dunia.

Puncaknya, pada tahun 2011, Chavez memainkan peranan kunci dalam pembentukan Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC), yang menghimpun 33 negara Amerika Latin dan Karibia. Inilah kali pertama sebuah blok regional yang menghimpun semua negara Amerika Latin dan Karibia tanpa menyertakan dua negara imperialis di Amerika Utara: AS dan Kanada.

Rudi Hartono

Libertador (The Liberator) | 2013 | Durasi: 119 menit | Sutradara: Alberto Arvelo | Negara: Venezuela, Spanyol | Musik: Gustavo Dudamel | Pemeran: Édgar Ramírez, María Valverde, Juana Acosta,  Erich Wildpret, Orlando Valenzuela,  Carlos Julio Molina, Imanol Arias, Francisco Denis, Zenaida Gamboa, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut