Simak Pendapat 5 Tokoh Progressif ini soal Brexit

Inggris akhirnya bercerai dengan Uni Eropa. Referendum yang berlangsung Kamis (23/6/2016) memutuskan Inggris harus keluar dari Uni Eropa.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa, yang sering disebut Brexit: Britain Exit, menjadi tema perdebatan di mana-mana. Tidak terkecuali di gerakan kiri.

Berikut ini pendapat 5 tokoh kiri tentang Brexit:

Noam Chomsky

Chomsky menyokong Inggris tetap di Uni Eropa. Dia menganggap, Brexit akan berpengaruh pada eksistensi Britania Raya. Juga akan membuat Inggris makin bergantung pada Amerika Serikat.

“Aku sebetulnya tidak tertarik dengan salah satunya (keluar atau bertahan), tapi saya pikir pilihan ‘brexit’ adalah buruk. Saya rasa, itu akan membalikkan Britania Raya, atau mungkin Inggris, jika Skotlandia akhirnya memilih keluar (dari Britania). Bahkan mungkin lebih bergantung kepada Amerika Serikat,” kata intelektual progressif Amerika ini.

Menurut dia, ada banyak hal baik yang dipunyai Eropa sejak perang dunia kedua. Dan itu harus diselamatkan, kata Chomsky.

Jeremy Corbyn

Jeremy Corbyn mendukung Inggris tetap di Uni Eropa. Namun, bagi pemimpin Partai Buruh ini, tidak hanya bertahan di Uni Eropa, tetapi juga mereformasinya agar lebih demokratis dan melindungi hak-hak rakyatnya.

“Tetapi kita juga harus mendorong reformasi Eropa—reformasi ala pemerintahan David Cameron tidak punya kepentingan di sini, tetapi banyak orang lain di Eropa ingin melakukannya,” kata Corbyn.

Reformasi yang dimaksud haruslah demokratik, yang memastikan Eropa semakin bertanggung-jawab pada rakyatnya. Harus ada reformasi ekonomi untuk mengakhiri kebijakan penghematan (austerity), menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Harus ada reformasi ketenagakerjaan untuk memperkuat dan memperluas hak-hak pekerja sebagai pencerminan nilai sosial Eropa yang sejati.

Dan harus ada hak baru bagi pemerintahan atau otoritas terpilih untuk mendukung perusahaan publik dan menghentikan privatisasi layanan umum.

Karena itu, slogan Corbyn: “Tetap dan Reformasi Eropa”.

Yanis Varoufakis

Yanis adalah mantan Menteri Keuangan Yunani dan bekas politisi partai kiri radikal Syriza. Belakangan, karena tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan Alexis Tsipras, dia mundur dari jabatannya dan keluar dari Syriza.

Bagi Yanis, keberadaan Uni Eropa memang memang mengecewakan. Dia menyebutnya “negara tercela”. Namun, dia menegaskan bahwa Brexit bukan solusi.

Menurutnya, jika Inggris meninggalkan Uni Eropa, itu akan membuat segalanya menjadi lebih buruk. Dia memperingatkan soal bahaya kebangkitan kelompok fasis. “Pihak yang diuntungkan dari itu adalah ultra-nasionalis: Marine Le Pen (Fasis Perancis) dan Golden Dawn (partai fasis Yunani),” ujar Yanis.

Tariq Ali

Penulis progressif keturunan Pakistan yang kini tinggal di Inggris, Tariq Ali, punya pendapat berbeda. Tariq Ali menyebut Uni Eropa sebagai “mesin kapitalisme neoliberal”. Dan kata dia, keluarnya Inggris tidak akan mendatangkan kekacauan ekonomi.

Ali meragukan keyakinan banyak kiri Eropa, termasuk Corbyn dan Yanis, bahwa terpilihnya banyak pemimpin progressif di Eropa bisa mendorong reformasi Uni Eropa. Selain itu, dia juga menganggap bahaya ultra-kanan bukan sebagai ancaman pokok.

Di media Independent, Ali malah bilang, “Corbyn sebetulnya penentang Uni Eropa dan akan berkampanye keluar jika seandainya di tidak memimpin Partai Buruh.” Menurutnya, Corbyn melakukan kesalahan taktik dengan berkampanye tetap tinggal di Uni Eropa.

Menurut Ali, jika Inggris akhirnya keluar, maka partai Konservatif Inggris akan terpecah belah. Tidak hanya itu, ini juga merupakan pukulan telak bagi politik mapan.

Di teleSUR, Ali bilang keputusan pemilih Inggris untuk Brexit benar-benar menendang pantat Uni Eropa. Dan, menurut dia, sebagian besar kelas pekerja memilih “keluar” karena merasa tidak diuntungkan oleh Uni Eropa, sebuah organisasi kaum kaya dan bankir.

Julian Assange

Pendiri Wikileaks, Julian Assange, juga punya pendapat. Dia menganggap Uni Eropa bukan sebagai lembaga demokratis karena melegitimasi keputusan tidak demokratis negara anggotanya.

“Inggris buruk bagi Eropa, tetapi Uni Eropa juga buruk bagi Inggris karena membolehkan kurangnya akuntabilitas demokrasi di negara anggota,” kata dia.

Dia mencontohkan pada pemerintahan David Cameron di Inggris, yang seringkali berujar, “oh, kami terpaksa melakukan ini karena legislasi di Uni Eropa.” Baginya, dengan dalih kebijakan Uni Eropa, David Cameron bisa cuci tangan dari kesalahan kebijakannya.

***

Di Inggris sendiri, kekuatan politik kiri berbeda sikap menyikapi isu Brexit ini. Pertama, Jeremy Corbyn dan elemen progressif di Partai Buruh berkampanye “tetap” di Uni Eropa. Namun, untuk menciptakan jarak dengan sayap kanan (David Cameron Cs), Corbyn juga menyuarakan perlunya mereformasi Uni Eropa.

Kedua, kelompok yang disebut “Lexit (Left Exit)”, yaitu kiri yang mendukung Inggris keluar dari Uni Eropa. Ini dimotori oleh Partai Pekerja Sosialis (SWP) dan beberapa grup sosialis radikal lainnya. Bagi mereka, keluar dari Uni Eropa berarti keluar dari kebijakan penghematan dan kebijakan anti-demokrasi yang dipaksakan lewat Uni Eropa.

Kelompok kanan juga terpecah di isu ini. David Cameron dan sejumlah pendukungnya di Partai Konservatif Inggris berkampanye untuk tetap bertahan di Uni Eropa. Sementara beberapa tokoh Partai Konservatif lainnya, Boris Johnson dan Michael Gove, berkampanye untuk Brexit.

Partai ultra-kanan Inggris, Partai Kemerdekaan (UKIP), dengan pimpinannya Nigel Farage, getol berkampanye untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa. Mereka menggunakan isu rasisme dan xenophobia untuk menabuh genderang perang melawan pengungsi dan buruh migran.

(Diolah dari: TeleSUR)

—berdikarionline.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut