Siapa Yang Diuntungkan oleh Konflik di Timur Tengah dan Krisis Pengungsi?

Konflik bersenjata yang tengah mengoyak sejumlah negara Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak, telah memicu gelombang pengungsi terbesar sepanjang sejarah. Mereka adalah korban kerakusan imperialisme dan penggila perang (pedagang senjata). 

Badan urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) baru-baru ini melaporkan, jumlah pengungsi di tahun 2015 lebih dari 65,3 juta jiwa. Artinya, 1 dari 113 orang di muka bumi ini jadi pengungsi.

Untuk diketahui, jumlah itu merupakan yang tertinggi dalam sejarah. Bahkan, jumlah tersebut melebih jumlah pengungsi saat Perang Dunia ke-2.

Ironisnya, ketika jutaan orang lari dari negerinya untuk menghindari perang, lalu menempuh perjalanan maut menuju ke Eropa (tidak sedikit yang mati di perjalanan), ternyata ada pihak yang justru mengambil keuntungan dari situasi ini.

Transnational Institute (TNI), sebuah lembaga riset dan advokasi untuk isu-isu keadilan dan demokrasi, berhasil mengurai kelompok atau pihak yang diuntungkan oleh konflik di Timur Tengah dan krisis pengungsi saat ini.

Dalam laporan berjudul “Borders Wars”, TNI mengungkapkan kelompok yang mengambil keuntungan dari situasi itu. Mereka adalah militer dan perusahaan keamanan yang menjual teknologi untuk mengawasi perbatasan dan pergerakan manusia.

Bajingannya lagi, perusahaan yang ikut dalam bisnis pengamanan perbatasan itu juga adalah perusahaan yang menjual senjata ke Timur Tengah dan Afrika Utara—daerah yang tengah dilanda konflik bersenjata dan memicu arus besar pengungsi ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Eropa.

Berikut fakta-fakta yang berhasil disorot oleh TNI:

Pertama, pasar keamanan perbatasan sedang booming (berkembang pesat): Nilainya mencapai 15 milyar euro pada 2015 dan diperkirakan mencapai 29 milyar euro pada 2022.

Kedua, bisnis senjata, terutama yang dijual ke Timur Tengah dan Afrik Utara—sebagian besar pengungsi berasal dari kawasan ini—juga sedang booming. Penjualan senjata ke Timur Tengah meningkat pesat sebesar 61 persen antara 2006-2010 dan 2011-2015. Antara 2005 hingga 2014, negara anggota Uni Eropa mendapat lisensi penjualan senjata ke Timur Tengah dan Afrika Utara sebesar 82 milyar euro.

Ketiga, kebijakan Eropa dalam merespon pengungsi, yang hanya berkutat pada penyelundup dan memperkuat luar perbatasan (termasuk di negara luar anggota Uni Eropa), telah menggelembungkan anggaran untuk menjaga perbatasan.

  • Jumlah dana Uni Eropa untuk pengamanan perbatasan negara anggotanya meningkat sebesar 4,5 milyar euro antara 2004 hingga 2020.
  • Sedangkan anggaran untuk Frontex, badan keamanan perbatasan Uni Eropa, meningkat sebesar 3,688 persen antara 2005 hingga 2016 (dari 6,3 juta euro menjadi 238,7 juta euro).
  • Anggota baru Uni Eropa diwajibkan memperkuat keamanan perbatasannya. Ini meningkatkan pasar untuk bisnis penjualan alat-alat pengontrol perbatasan.
  • Banyak perusahaan yang terlibat dalam bisnis penjualan di Timur Tengah dan Afrika Utara juga terlibat dalam bisnis peralatan dan teknologi pengawas perbatasan.

Keempat, Industri penyedia alat pengawas perbatasan di Eropa juga adalah perusahaan penjual senjata terbesar. Salah satunya adalah Finmeccanica dari Italia.

Kelima, pemain utama bisnis penjagaan keamanan perbatasan Eropa adalah juga industri senjata, seperti Airbus, Finmeccanica, Thales dan Safran. Finmeccanica dan Airbus paling banyak memenangi kontrak Uni Eropa untuk proyek keamanan perbatasan. Malahan, Airbus menjadi pemenang proyek riset keamanan.

Keenam, Fiinmeccanica, Thales dan Airbus, yang notabene pemain utama bisnis keamanan perbatasan di Eropa, juga adalah tiga teratas perusahaan penjual senjata terbesar di Eropa. Dan mereka semua aktif berdagang senjata ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Pendapatan mereka di tahun 2015 berkisar 95 milyar euro.

Ketujuh, perusahaan dari Israel adalah satu-satunya perusahaan non-eropa yang kecipratan proyek riset keamanan perbatasan (berkat kesepakatan tahun 1996 antara Israel dan Uni Eropa). Mereka juga bermain dalam proyek pengamanan perbatasan di Bulgaria dan Hungaria. Perusahaan sistem komunikasi keamanan Israel, BTec, dipilih oleh Frontex untuk berpartisipasi dalam workshop tentang tekonologi pengawasan perbatasan.

Kedelapan, perusahaan keamanan dan senjata juga membantu pembuatan kebijakan keamanan perbatasan Uni Eropa melalui lobi-lobi dan interaksi reguler dengan lembaga Uni Eropa yang mengurusi perbatasan. Organisasi Uni Eropa untuk Urusan Keamanan (EOS), yang melibatkan Thales, Finmecannica dan Airbus, paling aktif melobi Uni Eropa soal kebijakan perbatasan.

Kesembilan, industri keamanan dan senjata Uni Eropa berhasil mendapat 316 juta euro untuk proyek penelitian masalah keamanan. Sejak tahun 2002, Uni Eropa mendanai 56 proyek di bidang keamanan dan kontrol perbatasan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut