Siapa Jenderal Qassem Soleimani dan Kenapa Ia Ditarget AS?

Jenderal Qassem Soleimani, komandan pasukan elit Quds dari Garda Revolusi Iran (IRGC), dilaporkan tewas dalam serangan di Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1/2020).

Serangan rudal yang menewaskan petinggi militer Iran tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat. Bahkan, menurut Pentagon, serangan tersebut atas perintah Presiden AS Donald Trump.

Siapa Jenderal Qassem dan kenapa ia ditarget untuk dibunuh oleh AS?

Qassem Soleimani adalah salah satu pucuk tertinggi di jajaran pimpinan angkatan bersenjata Iran yang disebut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Ia lahir 11 maret 1957, dari keluarga petani miskin di Qanat-e Malek, provinsi Kerman, Iran. Di masa mudanya, ia suka mendengar khotbah dari pengkhotbah keliling. Dari situ dia bersimpati dengan pikiran dan perjuangan Ayatollah Khomeini.

Ketika revolusi Iran pecah tahun 1979, ia baru berusia 22 tahun. Ia bersimpati dengan revolusi dan segera bergabung dengan pasukan pengawal revolusi yang kelak dinamai Korp Garda Revolusi Iran (IRGC) atau Pasdaran.

Tahun 1980, meletus peran Irak-Iran. Qassem turut bertempur di garis depan menghalau tentara Irak. Karena keberaniannya dan kehebatannya di medan tempur, namanya cepat menjulang tinggi. Ia disebut-sebut berhasil merebut tanah Iran yang sempat diduduki oleh tentara Irak.

Tak heran, dalam usia belum menginjak 30-an, ia sudah menempati posisi sebagai Komandan Divisi 41 Sarallah. Dia terlibat dalam operasi bertajuk “Operasi Fath-ol-Mobin”, yang berhasil memaksa pasukan Irak terpukul mundur.

Tahun 1990-an, dia sudah jadi Komandan IRGC di Provinsi kelahirannya. Namun, karena wilayahnya berdekatan dengan Afghanistan, sekaligus menjadi jalur penyelundupan narkoba dari dan menuju Turki dan Eropa, ia pun harus bertempur dengan jejaring perdagangan narkoba.

Pasca itu, Soleimani cepat naik ke puncak pimpinan IRGC dengan pangkat Mayor Jenderal.

Invasi AS terhadap Irak (2003-2011)

Sebagai orang yang terlibat dalam operasi Fath-ol-Mobin, ia bersinggungan dengan banyak milisi bersenjata di Irak, baik dari Syiah maupun Kurdi.

Tahun 2003, setelah peristiwa 11 September, AS menginvasi Irak untuk menjatuhkan rezim Saddam Husein.

Tentu saja, sebagai veteran perang Irak-Iran, Jenderal Soleimani sulit menerima kenyataan bahwa mereka berbaris dalam kepentingan yang sama dengan AS dan sekutunya untuk melenyapkan rezim Saddam.

Pada saat invasi itu terjadi, Jenderal Soleimani dan IRGC bekerjasama dengan milisi Syiah di Irak untuk menjatuhkan rezim Saddam. AS mengetahui keberadaan Jenderal Soleimani dalam perang tersebut.

Perang Libanon 2006

Tahun 2006, Israel tiba-tiba menggempur Hizbullah di Lebanon. Peristiwa itu memicu terjadinya perang selama 34 hari.

Sebagai Kamandan Pasukan Khusus Quds, Jenderal Soleimani terlibat langsung membantu Hizbullah. Selama perang itu, Jenderal Soleimani tinggal di Lebanon. Ia terlibat langsung bersama pemimpin Hizbullan, Hassan Nasrallah, menyusun strategi perang untuk melibas Israel keluar dari Lebanon.

Perang Suriah

Tahun 2011, perang Suriah meletus. AS dan sekutunya, yang bekerjasama dengan oposisi di Suriah dan kelompok jihadis takfiri, hendak melenyapkan pemerintahan Bashar Al-Assad.

Dalam konflik itu, Iran berdiri mendukung Al-Assad. Dalam perang itu, Jenderal Soleimani ditugasi mengorganisir semua kekuatan Hizbullah dan milisi Irak untuk menggempur pasukan Negara Islam (ISIS) maupun oposisi Suriah.

Beberapa fotonya terlihat bersama dengan pejuang Irak-Irak di garis depan. Ia juga disebut-sebut membantu militer Suriah dalam menghadapi pemberontak Suriah maupun ISIS.

Setelah perang Suriah mereda, ia kembali ke Irak. Ia tinggal di sana hingga ajal menjemput.

Kenapa Ia Diincar AS?

Sebagai pengikut setia Ayatollah Khomeini, Jenderal Soleimani adalah jenderal setia pada revolusi Iran. Tentu saja, sebagai Jenderal pendukung revolusi Iran, ia tentu masuk daftar musuh besar Amerika Serikat.

Di IRGC, Jenderal Soleimani adalah seorang pucuk pimpinan yang dekat dengan milisi bersenjata, baik di Irak, Lebanon, maupun Suriah. Ia dianggap penyokong sekaligus pelindung utama milisi paling ditakuti AS dan Israel, Hizbullah.

Dalam berbagai konflik di timur tengah, yang berbenturan dengan kepentingan AS dan Israel, jenderal Soleimani selalu berada di belakangnya sebagai aktor di belakang layar.

Jenderal Soleimani adalah mata-rantai yang menghubungkan kepentingan Iran dengan berbagai kekuatan politik dan militer pro-Iran di Timur Tengah, terutama di Irak, Lebanon dan Suriah.

Dengan kematian sang Jenderal, mata rantai itu terputus. Setidaknya, begitu keinginan AS.

Di sisi lain, sebagai tokoh kunci dalam jajaran kepemimpinan militer Iran, pembunuhan Jenderal Soleimani adalah provokasi serius. Ini bisa memicu pembalasan dari Iran.

Dan jika itu terjadi, maka Presiden Donald Trump, yang tengah terjebak oleh politik pemakzulan (impeachment) dan popularitas yang merosot menjelang Pemilu raya 2020, akan menemukan jalan keluar untuk menyatukan rakyat Amerika di bawah propaganda nasionalisme chauvinisnya untuk memerangi Iran.

Ya, ini seperti pepatah: sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan kematian Jenderal Soleimani, arsitek di belakang layar yang menghalau kepentingan militer dan geopolitik AS di Timur Tengah menghilang. Kemudian, jika sampai Iran terprovokasi dan melancarkan balasan, ini adalah momen yang ditunggu-tunggu Donald Trump untuk mengorbakan nasionalisme chauvinis di kalangan pemilih Amerika.

Dan itu terlihat jelas. Begitu kabar tewasnya Jenderal Soleimani tersiar, Pentagon tak menunggu lama untuk mengakui sebagai pelaku penyerangan. Bahkan menyebut Presiden Donald Trump sebagai perencana serangan itu.

Dan di twitter, Donald Trum menge-tweet gambar bendera Amerika Serikat. Dan pertunjukan panggung nasionalisme chauvinis dimulai.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid