Setelah Kematian Bin Laden?

Ibarat adegan-adegan film “Hollywood”, pasukan khusus Amerika berhasil menyergap Bin Laden di rumah persembunyiannya. Setelah melalui kontak senjata barang beberapa jam, Bin Laden akhirnya dipastikan tewas.

Anehnya, Osama tidak disergap di dalam gua di Pakistan, melainkan di sebuah Mansion seharga 1 juta USD atau Rp8,6 miliar. Jika saja kejadian ini terjadi di tanggal 1 April, bukan 2 Mei, mungkin kita bisa mengira ini hanya “April Mop” alias April Fools’ Day.

Obama, yang turut menyaksikan secara live acara penyerbuan ini, mengaku sangat senang dan mengatakan “keadilan telah ditegakkan”. Sementara itu, media mainstream berusaha menggiring cerita yang masih kabur ini menjadi seolah-olah kemenangan rakyat Amerika terhadap terorisme.

Sejak peristiwa 11 September 2001, Osama telah ditempatkan sebagai musuh utama bangsa Amerika, dan karena itu pula, telah menjadi alasan bagi sebuah agresi militer ke Irak dan Afghanistan. Secara politik, George Bush, pendahulu Obama, telah berhasil menciptakan sebuah musuh eksternal dan sekaligus mengkonsolidasikan rakyat Amerika yang mulai frustasi dengan krisis ekonomi.

Tetapi sebagian besar rakyat Amerika tidak bisa dibodohi. Semakin banyak orang yang menyadari bahwa Osama hanyalah iblis yang sengaja dihidupkan oleh AS untuk memulai nafsu ekonomi-politiknya, selain untuk mendatangkan laba yang besar bagi industri militer.

Kekecewaan terhadap agresi AS di Irak dan Afghanistan telah menyuburkan ketidakpuasan terhadap rejim Bush dan sekaligus mengakhiri dinasti Partai Republik yang telah berkuasa beberapa periode. Obama muncul sebagai pemain baru, dengan menjanjikan akan menarik pasukan Amerika dari kancah perang di Irak dan Afghanistan.

Obama membutuhkan pendekatan baru untuk melanjutkan kepentingan ekonomi-politik AS di berbagai belahan dunia. Selain itu, obama sedang berhadapan dengan krisis ekonomi, pengangguran, dan defisit anggaran. Sementara pemilihan semakin mendekat. Jika tidak ada prestasi baru, maka sudah bisa dipastikan Obama akan terjungkal.

Kini, cerita sudah harus disusun ulang. Osama Bin Laden tidak diperlukan lagi, maka cerita tentang dirinya pun berakhir dengan “tembak mati di kepalanya”, lalu jenazahnya dibuang ke tengah laut. Benar-benar sebuah cerita ala Holywood, yang seorang anak kecil pun bisa menebak kesimpulan akhirnya.

Dengan pemberitaan bombastis dan berlebihan mengenai kematian Bin Laden, Obama pun tampil sebagai pahlawan. Setidaknya, dengan berhasil menembak mati Osama Bin Laden, Obama merasa telah berhasil mengusir “pembunuh paling kejam” yang setiap saat bisa meledakkan bom di Amerika. “Obama telah menjadi koboi yang berhasil mengusir penjahat dari luar,” begitulah kira-kira penggambarannya.

Sekarang, setelah Amerika begitu leluasa mengobrak-abrik Libya, rasanya tidak perlu lagi ada tokoh-tokoh fiktif semacam “Osama”. Toh, Amerika bisa menggempur langsung Libya tanpa mengarang cerita lebih dulu. Bukankah sekarang alasan “demokrasi dan kemanusiaan” jauh lebih mumpuni ketimbang mengarang cerita mengenai serangan teror yang meluluhlantakkan gedung kembar WTC.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut