Seruan Venezuela Di Peringatan 60 Tahun KAA

arreaza-KAA (2)

Venezuela turut hadir sebagai peserta peninjau dalam Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia. Negara tempat kelahiran Simon Bolivar ini menjadi satu-satunya perwakilan Amerika Latin di Peringatan 60 Tahun KAA.

Venezuela mengutus langsung Wakil Presidennya, Jorge Arreaza. Ia datang bersama istrinya, Rosa Virginia, yang juga putri sulung mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez.

Di acara puncak Peringatan 60 Tahun KAA, yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, tanggal 24 April lalu, Jorge menyampaikan pesan penting untuk negara-negara Asia dan Afrika.

Dalam pidatonya, Jorge mengajak negara-negara Asia-Afrika untuk bersatu dengan Amerika Latin dan Karibia dalam melawan neokolonialisme.

Ia menyampaikan, kolonialisme yang berlangsung hari ini telah mengambil bentuk yang halus, seperti arsitektur keuangan dan moneter dunia yang tidak adil.

“Ini tidak pernah menguntungkan rakyat, sementara kekayaan hanya dikuasai oleh segelintir orang, sedangkan sisanya menderita di bawah kemiskinan,” tegas Jorge seperti dikutip Xinhuanet, Jumat (24/4).

Dalam konteks itu, Jorge mewacanakan perlunya pembangunan blok atau aliansi antara negara-negara dunia ketiga, yang meliputi negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia.

Aliansi tersebut dimaksudkan untuk menumbangkan imperialisme sekaligus mengakhiri dunia unipolar yang telah merugikan bangsa-bangsa dunia ketiga.

“Aliansi antara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Karibia bukan hanya dibutuhkan, tetapi sangat diperlukan. Dari selatan, kita akan menentukan, secara bebas, masa depan dunia untuk rakyat,” kata Jorge, sebagaimana dikutip teleSUR, Sabtu (25/4).

Jorge mengingatkan kepada seluruh pemimpin Asia-Afrika, bahwa mendiang Presiden Hugo Chavez punya mimpi kuat untuk mempersatukan tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Amerika Latin, untuk menghadapi imperialisme.

Wacana penyatuan Asia, Afrika, dan Amerika Latin dalam kerangka anti-imperialisme bukanlah wacana baru. Di tahun 1961, melalui pidato yang berjudul “Resopim”, Bung Karno mengatakan, “Malah dalam angan-angan Indonesia, alangkah baiknya jikalau A.A. menjadi A.A.A., K.A.A. menjadi K.A.A.A, – Konferensi Asia-Afrika menjadi Konferensi Asia-Afrika-Amerika Latin! Dengan demikian, maka samenbundeling (penyatuan) daripada rasa-rasa-nasionalisme anti imperialisme itu menjadi lebih komplit!”

Indonesia, sebagai salah satu penggagas KAA 1955, patut menyambut baik seruan Venezuela tersebut. Apalagi, pada pembukaan Peringatan 60 Tahun KAA, Rabu (22/4/2015), Presiden Jokowi juga berbicara tentang ketidakadilan global saat ini dan perlunya membangun tatanan dunia baru berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran.

Dalam pidatonya Presiden Jokowi mencoba menyingkap fakta ketidakadilan global tersebut. Jokowi bilang, “ketika negara-negara kaya yang hanya sekitar 20 persen penduduk dunia, menghabiskan 70 persen sumber daya bumi maka ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia di sebelah selatan tidak berdaya dan berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka ketidakadilan semakin kasat mata.”

Untuk melawan ketidakadilan global tersebut, yang dibelakangnya adalah imperialisme, Jokowi perlu mengikuti anjuran Bung Karno: melakukan penggabungan (samenbundeling) daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia, Afrika dan Amerika Latin menjadi satu gabungan-tenaga yang hebat atau ‘coordinated accumulated force’.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut