Serigala Berbulu Domba: Narkoba dan Dunia Fantasi Terorisme

Narkoba dan alkohol dipakai para teroris sebagai sebuah “jalan pintas” untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan.

Aktivitas terorisme dan narkoba serta alkohol adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari karakter jaringan Islamic State (IS). Di  Al-Tanf, Syria, pasukan koalisi anti Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) menemukan lebih dari 300.000 pil ilegal berjenis captagon. Obat ini merupakan narkotika jenis amphetamine yang dikenal di kalangan teroris sebagai “obat jihadi.” Banyak dari anggota IS ditengarai menjadi pengguna berbagai obat terlarang. Organisasi IS ditengarai pula memiliki jaringan penjualan narkoba yang menyebar ke seantero dunia (www.stripes.com). Indonesia merupakan salah satu negara yang tak luput dari jaringan narkoba tersebut. Karena jaringan perdagangan narkoba ala IS bersifat bawah-tanah dan sering tampil dalam kemasan keagamaan tertentu, maka selama ini tak banyak orang yang mengetahuinya.

Sebagaimana pengaruh paham Islamic State di Suriah yang bersifat transnasional, jaringan narkoba mereka telah pula melintasi batas-batas negara. Ide mereka tentang negara Islam atau Islamic State (IS) banyak mendapatkan simpati dari berbagai penjuru dunia. Perdagangan narkoba, tak ayal lagi, menjadi salah satu cara untuk memperluas jaringan dan mendapatkan pengikut. Berdasarkan laporan UNDOC tahun 2009, pemerintah Indonesia membongkar tiga puluh tujuh pabrik yang memproduksi amphetamin jenis stimulan. Keberadaan mereka menjadi semacam pertanda akan bisnis obat-obatan terlarang dari kelompok-kelompok teroris—baik langsung atau tak langsung—di Indonesia. Dengan kata lain, kelompok-kelompok teroris tersebut memanfaatkan jaringan perdagangan obat untuk memperoleh “dana” bagi gerakan mereka (https://m.cnnindonesia.com).

Penyerangan Paris pada tanggal 13 November 2015 dilakukan oleh kelompok teroris yang terpapar paham Islamic State. Saksi mata mengambarkan mereka terlihat tenang dalam melakukan aksi serangan. Mereka menarik pemicu senjata dan membunuh banyak orang seolah tanpa menampakkan sedikit pun rasa bersalah. Mereka mengonsumsi obat sejenis amphetamin sebelum beraksi. Polisi Prancis dalam penyelidikannya menemukan tumpukan jarum suntik dan tabung plastik di hotel Appart’City di Alfortville (https://internasional.kompas.com).

Antara Narkoba dan Otak

Narkotika dan obat antidepresi atau amphetamin memiliki pengaruh pada otak. Zat kimia pada obat-obatan ini memengaruhi cara kerja sistem syaraf pusat. Di bawah pengaruh obat-obatan dan alkohol, otak akan memproduksi dan mengubah suasana, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Mereka mengalami berbagai macam kondisi seperti “halusinasi,” perubahan persepsi tentang ruang dan waktu serta meningkatkan daya khayal saat dalam kondisi mabuk.

Sebagaimana yang telah diketahui, otak adalah pusat dari seluruh sistem syaraf tubuh. Ia merupakan tempat di mana seluruh mekanisme tubuh mengatur seluruh tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh dan perilaku serta emosi. Di samping itu ia juga menjadi media penyimpanan informasi yang tak terbatas dan mengarahkan subjek untuk memiliki perilaku tertentu. Tubuh manusia digerakan oleh otak melalui jaringan syaraf yang terjalin melalui tulang-belakang. Jutaan sel syaraf di otak akan mengeluarkan sinyal tertentu pada sensor motorik. Sinyal itu diterjemahkan sebagai rasa sakit dan akan diterjemahkan melalui berbagai indra yang membentuk pengetahuan tentang dunia.

Zat-zat narkotika lazimnya memacu otak untuk sampai pada sebuah kondisi tertentu, yang secara neurologis dikategorikan sebagai gangguan syaraf. Gangguan syaraf ini meliputi gangguan syaraf sensorik, gangguan syaraf otonom, gangguan syaraf motorik dan vegetatif. Perubahan mekanisme otak berasal dari produksi neurontramsmiter yang menghubungkan antar jaringan syaraf. Bagian otak yang terpengaruh secara khusus adalah hippotalamus. Bagian inilah yang menjadi pusat kenikmatan pada otak manusia (https://news.okezone.com).

Narkoba dan alkohol dipakai para teroris sebagai sebuah “jalan pintas” untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Otak melalui tubuh berusaha untuk mencari aktifitas menyenangkan melalui struktur perintah syaraf. Penggunaan narkoba yang terlalu lama dapat menimbulkan kerusakan susunan syaraf (shocking brain) yang berhubungan dengan kenangan (memory) sehingga subjek mengalami kondisi disorientasi diri. Ketika subjek berada pada kondisi disorientasi, maka dengan mudah ia dapat diradikalisasi dan akan menjadi sesosok tubuh yang patuh. Para pelaku bom bunuh diri tepat berada pada kondisi mental-fisikal semacam ini.

Kelekatan Halusinasi dan Depresi Dengan Terorisme

Organisasi IS adalah sekumpulan orang yang melarikan diri dari kenyataan diri sendiri dan dunia sekitarnya, para sosok yang tertipu oleh berbagai propaganda yang tak masuk akal tentang dunia yang lebih baik dibandingkan dunia yang pernah dan tengah mereka alami. Propaganda yang membingungkan itu hanya berhasil pada orang-orang yang mengalami frustasi, terjebak pada halusinasi dan tak mampu melihat kondisi riil.

Rasa frustasi yang dialami pada akhirnya membawa mereka ke dunia fantasi di mana seolah-olah mereka adalah sosok yang penting yang menjadi bagian dari sebuah misi suci. Hal inilah yang menjadi potensi fanatisme ekstrem untuk memperoleh kebermaknaan. Tapi ironisnya, pada kasus IS mereka menggunakan narkoba dan alkohol. Daily Mail menulis, setelah kota Manbij direbut, koalisi AS menemukan sebuah penjara di mana ruangannya dijadikan tempat penyekapan para budak seks IS. Dalam ruangan itu ditemukan narkoba, alat kontrasepsi, dan obat-obatan pembangkit seks yang dipakai (https://m.liputan6.com).

Narkoba dan alkohol beredar luas dikalangan anggota IS dan membuat mereka kehilangan akal sehat (kesadaran). Ketika dalam kondisi “tinggi” seorang simpatisan ataupun anggota IS akan mudah untuk dimanipulasi. Penggunaan captagon dan sejenisnya diarahkan untuk melawan keinginaan natural mereka yang mencari rasa aman. Di Suriah, pasukan IS mengonsumsinya saat berperang agar terus memiliki stamina, kekuatan dan keberanian saat bertempur (https://m.cnnindonesia.com). Mereka seolah tak takut mati dalam melaksanakan segala aksinya. Dua kesaksian dari milisi IS yang tertangkap di Iraq mengambarkan efek dan kondisi setelah menenggak “pil jihadis.” Pil sejenis zolan yang mereka konsumsi telah merubah persepsi mereka tentang dunia: “Tank terlihat seperti burung yang mudah dikalahkan dengan pedang” (https://dunia.tempo.co ).

Abu Rara, penusuk Wiranto beberapa waktu lalu, adalah sebuah contoh tentang bagaimana kehidupan seorang simpatisan IS. Ia pernah bersinggungan dengan narkoba dan alkohol. Dikabarkan, ia pun sampai pernah menelan dua belas pil kutrak sekaligus serta melukai dirinya sendiri. Di samping itu, ia juga karib dengan perjudian. Kehidupan pribadinya juga tak pernah berjalan mulus. Ia pernah menjalani hidup yang penuh dengan rasa frustasi (https://m.tribunnews.com). Penggunaan narkoba dan alkohol menjadi fase pelarian diri dari rasa sakit. Dengan kata lain, mereka adalah sosok-sosok yang penuh dengan depresi dan melankolia (“Petaka Melankolia dan Sekelumit Bom Surabaya,”Heru Harjo Hutomo, dlm. 130518 merawat ingatan merajut kemanusiaan, 2018, idenera.com, Surabaya).

Heru Harjo Hutomo

Penulis, peneliti lepas, pemerhati radikalisme dan terorisme, menggambar dan bermain musik; Lulusan Center for Religious and Cross-Cultural Studies Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ajeng Dewanthi. S.S, M.Hum

Peneliti sejarah, sosial, politik dan budaya; Lulusan Sekolah Pasca Sarjana Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid