Serba-Serbi Aksi Hari Buruh Sedunia

Puluhan ribu buruh sudah berkumpul di depan istana negara. Karena berasal dari berbagai kelompok atau aliansi, jumlah pengeras suara yang dipergunakan pun lebih dari satu. Akhirnya, perang suara pun seolah-olah terjadi diantara berbagai kelompok atau aliansi serikat buruh yang berbeda.

Itu tidak terlalu menjadi masalah sepanjang masih ada massa yang mendengarkan. Dalam aksi hari buruh kemarin, ada kelompok yang membawa massa hanya sepuluhan orang, tetapi punya pengeras suara yang cukup keras. Mereka pun begitu percaya diri berorasi panjang lebar, meskipun pengikut mereka sangat kecil.

Selain itu, ada pula barisan massa anak muda berusia belasan tahun, yang tak seorang pun memegang spanduk atau poster. Tidak jelas, apakah anak-anak muda ini turut merayakan hari buruh sedunia atau tidak. Yang terdengar hanya lagu-lagu dan yel-yel bak suporter bola.

Di luar lagu-lagu perjuangan buruh yang sudah akrab di telinga, ada pula musik-musik lain yang sangat mencolok: reggae. Di aksi hari buruh sedunia kemarin, musik yang konon berasal dari rakyat Afrika itu pun bergema dan kaum buruh pun turut bergoyang.

Satu Mei memang identik sebagai “lebarannya” kaum buruh. Tidak sedikit kaum buruh yang menyertakan anggota keluarganya dalam aksi satu Mei. Sukrisno, seorang pekerja dari Tangerang, mengaku membawa istri dan dua orang anaknya untuk ikut aksi Satu Mei. “Sekalian setelah aksi satu mei kami mau liburan ke Monas, mas,” katanya.

Ya, bagi sebagian kaum buruh dari luar Jakarta, peringatan hari buruh juga merupakan kesempatan untuk berlibur. Monas pun menjadi sasaran utama para buruh untuk rekreasi. Ada yang foto-foto dengan latar monas, ada yang sekedar melihat-lihat, dan ada pula yang masuk ke museum.

Tapi, hari buruh bukan sekedar dimanfaatkan oleh kaum buruh untuk menyampaikan tuntutan, tetapi juga dipergunakan oleh sejumlah aktivis dan mantan aktivis untuk “reunian”.

Aldiano, bukan nama sebenarnya, mengaku menggunakan momentum May Day untuk bertemu dengan kawan-kawan lamanya. “Ini kan banyak aktivis tua yang datang, jadi sekalian reunian di sini,” katanya.

Selain itu, ketika puluhan ribu buruh sudah berkumpul di depan Istana Negara, para pedagang pun berpacu dengan waktu untuk meraup untung. Riwati, pedagang nasi dan mie goreng asal Madura, mengaku meraup untung tiga kali lipat dibanding berjualan di hari-hari normal.

Tetapi, segera setelah aksi May Day berakhir, Sutoyo dan kawan-kawannya lah yang paling menderita. Sutoyo adalah salah satu petugas kebersihan DKI Jakarta. Dengan mengenakan pakaian putih-putih kebesarannya, Sutoyo tetap bersemangat mengangkut sampah-sampah di sekitaran Istana Negara. (Mahesa Danu)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut