Serangan Udara ke Suriah, Corbyn: Inggris Mengulang Kesalahan Yang Sama

Pesawat pembom Inggris memulai serangan udara ke basis ISIS di Suriah hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri David Cameron memperoleh dukungan dari parlamen Inggris (2/11). Empat pesawat pembom berangkat dari pangkalan udara yang digunakan RAF (Royal Air Forces) di Akrotiri, Cyprus.

Sebelumnya, parlamen Inggris mengadakan pemungutan suara dengan hasil 397 anggota mendukung berbanding 223 anggota parlamen yang menolak rencana Inggris bergabung dengan Amerika Serikat dan Prancis yang telah mendahului serangan ke Suriah dan Irak. Tidak seperti Rusia, intervensi negara-negara Barat di Suriah ini tanpa persetujuan dari pemerintahan Suriah ataupun mandat PBB.

Sebelum pemungutan suara, terjadi debat selama lebih dari delapan jam dikawal oleh ribuan pengunjuk rasa di luar parlamen yang meneriakkan yel-yel anti-perang.

Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, yang juga merupakan seorang progresif dan aktivis anti-perang menyatakan bahwa Inggris jangan mengulang kesalahan yang sama di Irak dan Libya. Dalam kasus di kedua negara tersebut serangan Inggris telah menimbulkan korban jiwa di kalangan rakyat sipil dalam jumlah yang masif.

Corbyn menekankan bahwa yang harus dilakukan oleh Inggris adalah mencari solusi politik dan diplomatik atas masalah Suriah, bukan dengan solusi militer. Menurutnya, sudah terlalu banyak negara-negara besar yang membombardir Suriah yang menimbulkan korban tak terelakkan dari rakyat sipil. Selain itu, menurut Corbyn, intervensi Inggris justru akan mengundang kelompok teroris untuk melakukan serangan di wilayah Inggris terhadap orang-orang yang tidak berdosa.

Sayangnya, meskipun bersuara lantang menentang perang, sebagian anggota parlamen dari Partai Buruh justru mendukung rencana PM Cameron yang berasal dari Partai Konservatif. Anggota Partai Buruh yang mendukung Cameron ini menganggap Corbyn telah membawa Partai Buruh dari kiri-tengah sebagaimana sebelumnya di bawah kepemimpinan Tony Blair dan Gordon Brown ke arah kiri-garis keras.

Keputusan parlamen Inggris ini menimbulkan kekecewaan yang mendalam bagi massa demonstran yang berkumpul di luar gedung parlamen. Bulan Agustus lalu sebuah laporan menyebutkan serangan AS di kota Atmeh, Suriah, telah menewaskan enam orang anak-anak dan tiga warga sipil lainnya.

Mardika Putera

Catatan: Diolah dari Telesur

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut