Sepenggal cerita mengenai keberhasilan aktivis mahasiswa menggagalkan perdagangan manusia

Cerita menarik datang dari kawan-kawan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Banyumas. Mereka baru saja berhasil menggagalkan rencana perdagangan manusia oleh sebuah yayasan penyalur TKI fiktif.

Menurut penuturan Alvin Yulityas, salah seorang aktivis LMND Banyumas, aksi penggagalan ini berawal dari laporan LSM Seruni, bahwa ada sebuah yayasan penyalur TKI fiktif sedang menyekap sejumlah perempuan.

Segera setelah mendapatkan kabar itu, para aktivis LMND ini mendatangi rumah korban untuk mengecek kebenaran informasi ini. Mereka mendatangi rumah ibu Sri, salah seorang korban.

Kepada para aktivis LMND, keluarga Ibu Sri menceritakan bahwa seorang yang mengaku ketua yayasan TKI di Purwekerto mendatangi rumah korban dan menjemput paksa.

Setelah diteliti keberadaan yayasan yang dimaksud, diketahui adanya indikasi perdagangan manusia (human trafficking) karena sejumlah keganjilan, seperti yayasan tersebut tidak terdaftar di Disnaker dan pemalsuan sejumlah dokumen.

Segera setelah itu, aktivis LMND ini meluncur ke tempat yang diindikasikan tempat menyekap para korban. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aktivis pun melaporkan kejadian ini ke Polisi.

Sempat terjadi adu mulut antara aktivis dan pelaku, sebelum akhirnya polisi datang dan menangkap pelaku. Saat berita ini diturunkan, pelaku sedang menjalani pemeriksaan di kantor Polisi.

Modus Operandi

Modus operandi para pelaku tergolong sangat kasar. Awalnya, pelaku menjerat para calon korbannya dengan membuat mereka berutang, yaitu dengan memberikan pelatihan kerja dan bahasa.

“Jadi, korban ini dibawa ke Jakarta, lalu diberi pelatihan. Setelah itu, mereka dianggap berutang. Nah, itulah alasan untuk melakukan jemput paksa,” ujar Alvin dalam wawancara dengan Berdikari Online.

Tidak hanya itu, setelah para korban dibawa paksa dan ditaruh di penampungan sementara, para pelaku membuat dokumen-dokumen palsu mengenai identitas para korban, seperti Kartu Keluarga, SKCK, dan paspor.

Anehnya, setelah dicek ke pihak terkait macam Disnaker, ternyata yayasan-yayasan penyalur TKI itu tidak memiliki ijin resmi dan tidak terdaftar.

Memanfaatkan Kemiskinan

Kondisi kemiskinan menjadi lahan subur bagi pelaku kejahatan perdagangan manusia untuk melancarkan aksinya.

Di desa-desa misanya, rakyat semakin sulit mendapatkan pekerjaan tambahan, terlebih sektor pertanian sudah tidak lagi menjanjikan. Sementara di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dll, situasinya tidak lebih baik: mencari lapangan pekerjaan sama sulitnya dengan mencari jarum di tengan lautan.

Para pelaku kejahatan datang menawarkan mimpi, yaitu pekerjaan yang baik di luar negeri, upah yang tinggi, dan kemudahan untuk diberangkatkan.

Meskipun kisah pilu para TKI di luar negeri sudah terdengar hampir setiap hari di layar kaca, tetapi tetap saja banyak rakyat Indonesia yang menaruh mimpi untuk sukses di luar negeri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • sya’bani

    waaaahhhhh…alvin pahlawan Human Trafficking hehehe….

    buat LMND,semoga bisa mengungkap kasus2 yang lain yang ada di Banyumas.semangat……

  • i’ank

    memang diindonesia sudah tidak menjanjikan kesejahteraan beruntung Rakyat banyumas yang terbelit masalah pas ketemu para pejuang kampus seperti kalian dan wah.. teruslah berjuang kawan gumilang,alvin irawan jojo, arum dan kawn2 yang lain