Seniman Pembuat Patung Dirgantara Itu Berpulang

Edhi Soenarso, salah seorang pematung terkemuka Indonesia, telah berpulang pada hari Senin (4/1/2016) malam, pukul 23.13 WIB, di Rumah Sakit Jogja International Hospital.

Telah berpulang ke pangkuan Allah SWT, pematung Indonesia Empu Ageng Edhi Soenarso, malam ini pukul 23.15 di RS Jogja International Hospital,” demikian ditulis akun Facebook resmi milik Institut Seni Indonesia Jogjakarta, Selasa (5/1/2015).

Jenazah Edhi akan dimakamkan pada hari ini, Selasa (5/1). Upacara pemakaman akan dimulai pukul 13.00 WIB, di rumah duka di Desa Nganti RT 2 RW 7, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Edhi lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 2 Juli 1932. Selain sebagai seniman, dia adalah pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada masa revolusi nasional, Edhi yang masih berusia belasan tahun turut berjuang. Dia bertugas sebagai telik sandi dan komandan pasukan sabotase. Lantaran aktivitasnya itu, pada tahun 1946, Edhi ditangkap Belanda dan dipenjara 3 tahun.

Di balik jeruji besi inilah Edhi mulai berkesenian. Dia belajar pada seorang tahanan lainnya. Anak muda pemberani ini belajar kerajinan tangan dan menggambar.

Pada tahun 1949, Edhi dibebaskan. Begitu keluar penjara, Edhi berusaha menyusul induk pasukannya di Jogjakarta. Dia pun berjalan kaki dari Bandung ke Semarang, terus ke Jogja. Tiba di Jogja, ternyata induk pasukannya sudah long-march ke Jawa Barat. Dia pun melapor di ke Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar (KUDP).

Saat bolak-balik ke kantor KDUP itulah Edhi menyaksikan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) sedang menggambar. Hatinya terketuk untuk bergabung. Dia tiap hari nongkrong di kampus ASRI.

Suatu hari, pelukis besar jaman itu Hendra Gunawan menghampiri dan menanyakan asal-usulnya. Singkat cerita, Hendra menawari Edhi belajar di ASRI. Tetapi Edhi tidak punya ijazah. Akhirnya, Edhi diterima jadi “Siswa Pendengar” di kampus seni tersebut. Selain di ASRI, Edhi juga sempat bergabung dengan kelompok Pelukis Rakyat yang didirikan oleh Hendra Gunawan dan Affandi.

Edhi lulus dari ASRI tahun 1955. Lalu, karena bakat seninya, dia mendapat beasiswa dari UNESCO untuk belajar seni di  seni di Kelabhawa Visva Bharati University Santiniketan, India. Ia kembali ke Indonesia tahun 1957.

Nah, Edhi adalah salah seorang pematung kepercayaan Bung Karno. Tahun 1959, Edhi dipanggil Bung Karno ke Jakarta untuk membuat patung “Selamat Datang” untuk menyambut pesta olahraga ASIAN GAMES 1962. Edhi berhasil menyelesaikan patung perunggu setinggi 9 meter (dipangkas jadi 6 meter) itu dalam setahun. Hingga sekarang, patung “Selamat Datang” masih berdiri gagah di tengah Bundaran Hotel Indonesia.

Selain itu, Edhi juga dipercaya Bung Karno untuk membuat patung “Pembebasan Irian Barat” di tahun 1962. Patung ini untuk menghormati perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari kolonialisme Belanda. Patung yang berdiri gagah di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ini dikerjakan oleh Edhi dan kawan-kawan selama satu tahun.

Edhi juga yang ditugasi oleh Bung Karno untuk membuat Patung Dirgantara. Tujuannya untuk menghormati pejuang dirgantara Indonesia sekaligus memperlihatkan visi besar Indonesia kedepan. Proses pembuatan patung ini sempat terhambat oleh peristiwa G 30 S/1965 dan persoalan biaya. Tetapi Edhi berhasil menyelesaikan pembuatan patung Dirgantara tahun 1965. Sekarang orang menyebutnya “Patung Pancoran”.

Begitulah, Edhi bukan hanya terlibat dalam revolusi fisik, tetapi juga menciptakan karya monumental yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia hingga sekarang.

Selamat jalan, Bung Edhi. Bung Karno menunggumu!

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut