Selamat Tinggal Century, Selamat Datang Kenaikan Harga!

Sanggahan institusi hukum di Republik Indonesia bahwa kasus Century tidak bermasalah, dengan tambahan backing dari presiden membuat DPR menjadi kehilangan kewibawaan. Kasus-kasus baru yang muncul pasca Century hanya akan mempercepat lupanya publik akan akhir dari penyelesaian kasus Century. Rakyat banyak yang sudah kebingungan dengan simpang-siurnya kasus, opini , dan isu tampak mulai memilih untuk melupakan kasus Century, lagi pula saat ini mereka sedang ditindas oleh persoalan neolib yang baru, yaitu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Kenaikan TDL akan memicu kenaikan harga hampir seluruh barang yang dibutuhkan rakyat. Seluruh komoditas di pasar-pasar trasidional seperti cabe, bawang putih, dan beras menunjukkan peningkatan harga yang sangat signifikan. Upaya liberalisasi dalam sektor kelistrikan nasional ini, disaat proses pelistrikan di seluruh daerah belum mencakup seluruh wilayah nusantara dengan kualitas yang memadai (tidak byar pet) adalah sikap politik pra elite negara ini yang ternyata lebih berpihak kepada korporasi ketimbang kesejahteraan rakyat.

Sebuah surat kabar beberapa hari yang lalu memprediksi akan ada peningkatan pengangguran sejumlah 1,7 juta jiwa dikarenakan oleh hancurnya industri kecil dan menengah akibat naiknya TDL. Sementara itu, wapres Boediono dan Menteri ESDM Darwin Zahedi pelan-pelan tapi pasti telah menyetujui pelepasan 70-80% produksi gas blok Donggi/Senoro kepada kepentingan ekspor. Hanya 20-30% yang diperuntukkan untuk memenuhi keutuhan gas untuk produksi listrik dalam negeri. Hal ini adalah sebuah agenda sistemik berikutnya yang tak kalah hebatnya dengan kasus Century.

Boediono adalah target selanjutnya (setelah Sri Mulayani terusir) dari kasus Century, ini diperkuat oleh vonis politik DPR lewat opsi C. Jika vonis politik ini tidak diperjuangkan oleh DPR, maka rakyat dapat menjustifikasi DPR tidak bertanggung jawab atas rekomendasinya sendiri. Kemunginan besar hal ini terjadi setelah kemunculan Sekretariat Gabungan (setgab), sebuah koalisi yang dibangun untuk mempetieskan kasus Century sekaligus stabilisasi rezim neoliberal sampai 2014. Dibalik setgab (baca: koalisi jahat) inilah Boediono kini berlindung. Mengucapkan selamat tinggal pada Skandal Century sama saja membiarkan Boediono selamat.

Pelajaran untuk rakyat adalah rakyat dapat lebih apresiatif terhadap partai-partai politik yang konsisten memperjuangkan kasus Century seperti PDIP, Hanura, dan Gerindra. Sebaliknya rakyat tidak akan memilih partai yang inkonsisten atau abu-abu seperti partai-partai di dalam Setgab. Kita lihat juga_dalam hal mereson kenaikan harga_hampir tidak ada partai yang berposisi untuk memihak rakyat, kecuali PDIP. Akan baik jika partai politik di luar Setgab lebih membuka diri terhadap peluang persatuan nasional dengan kelompok-kelompok gerakan ekstra parlemen. Jika ada teman di dalam parlemen, gerakan yang turun ke jalan akan lebih beringas “menyambut” (baca: menolak) datangnya kenaikan harga.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut