Selamat Hari Koperasi!

Pada tanggal 12 Juli 1947, gerakan Koperasi di Indonesia, yang merupakan gabungan dari koperasi-koperasi pribumi di seluruh Indonesia, yang sudah menjamur sejak Zaman Jepang dan Kemerdekaan, mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Dalam Kongres yang sama ditetapkan berdirinya SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia), yang kemudian pada Kongres Kedua di Bandung tahun 1953 berubah nama menjadi Dekopin. Semenjak itulah tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia, yang kemudian diperingati setiap tahunnya sampai saat ini.

Perintis Koperasi pertama di Indonesia sendiri adalah Raden Aria Wiriatmaja, seorang Patih di Zaman Kolonial Belanda pada akhir abad 19, yang mendirikan sebuah Koperasi Simpan Pinjam pada tahun 1896 di Purwekorto. Diceritakan, misi awal didirikan koperasi ini adalah demi menyelamatkan rakyat sekitar dari jeratan hutang pada rentenir di zaman liberalisasi paska tanam paksa abad 19. Karena hasil yang baik dalam berekonomi berhadapan dengan kapitalis, beberapa organisasi pergerakan nasional di awal abad 20 pun menggunakan koperasi sebagai prinsip ekonomi badannya, seperti Budi Utomo (1908), Serikat Dagang Islam (1911), Nadlatul Ulama (1918), dan seterusnya. Karena perkembangan gerakan koperasi yang membahayakan kepentingan kolonial inilah, tercatat Gubernur Jenderal Hindia Belanda dua kali (1915 dan 1933) berupaya menghambat perkembangan koperasi lewat serangkaian kebijakan.

Setelah Proklamasi Agustus 1945, dalam Konstitusi Republik Indonesia, atas perjuangan Bung Hatta sang Bapak Koperasi, akhirnya Koperasi mendapat ruang yang istimewa. Disebutkan pada Penjelasan Pasal 33 UUD 1945, bahwa sistem ekonomi Indonesia didasarkan pada asas Demokrasi Ekonomi— di mana produksi dilakukan oleh semua dan untuk semua, yang wujudnya dapat ditafsirkan sebagai Koperasi. Ini berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) wajib mengembangkan demokrasi dalam prinsip berekonomi bernegara, bukan malah sebaliknya meliberalkan perekonomian demi keuntungan kapitalisme seperti yang terjadi di bawah pemerintahan neoliberal dewasa ini.

Dalam era globalisasi neoliberal, koperasi adalah korban dari keberingasan korporasi global. Kemiskinan yang meluas sangat deras akibat neoliberal tak dapat lagi ditampung oleh keberadaan koperasi. Tak heran, belum lama ini pada 9 Februari 2010 dideklarasikan sebuah mazhab tandingan neoliberalisme yang menginginkan kembalinya arah ekonomi nasional kepada ekonomi konstitusi, yang para pemikirnya terhimpun dalam Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Disinyalir mereka ini adalah para ekonomi murid dari Sang Bapak Koperasi Bung Hatta sendiri.

Selain itu, patut diperhatikan masih kerap terdapat penipuan atas nama koperasi. Koperasi hanya dijadikan plank papan nama untuk merampok uang negara oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Alat demokrasi ekonomi ini hanya menjadi alat untuk menumpuk kekayaan pada segelintir pejabat dan kroninya, bukan seluruh rakyat. Salah kaprah inilah yang harus ditertibkan oleh Negara selaku pengawas kegiatan perkoperasian nasional.

Karena kami masih percaya bahwa Koperasi dapat dijadikan basis atau prasyarat industrialisasi nasional di masa depan. Atau setidaknya dapat menjadi penyelamat perekonomian rakyat di kala kemiskinan melanda.

Selamat Hari Koperasi ke 63!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut