Sekilas Sejarah Lagu “Darah Rakyat”

“Tidak ada revolusi tanpa lagu-lagu.” Slogan gerakan musik kerakyatan di Amerika latin itu banyak benarnya. Revolusi Agustus 1945 di Indonesia salah satu buktinya.

Pada saat Revolusi Agustus 1945 menggelora, ada banyak lagu perjuangan yang lahir. Yang populer hingga sekarang, seperti Maju Tak Gentar, Bagimu Negeri, Bangun Pemuda-Pemudi, Teguh Kukuh Berlapis Baja, dan masih banyak lagi.

Tetapi ada satu lagu yang sangat populer kala itu, paling memiliki daya membakar semangat, tapi terlupakan. Lagu itu berjudul “Darah Rakyat”. Anda bisa mendengar daya semangat lagu itu di sini. Begini liriknya:

Darah Rakyat masih berjalan
Menderita sakit dan miskin
Pada datangnya pembalasan
Rakyat yang menjadi hakim (2x)

Hayo, hayo bergerak sekarang
Kemerdekaan ‘tlah datang
Merah warna panji kita
Merah warna darah rakyat (2x)

Kami bersumpah pada rakyat
Kemiskinan pasti hilang
Kaum kerja akan memerintah
Dunia Baru Pasti Datang (2x)

Hayo, hayo bergerak sekarang
Kemerdekaan ‘tlah datang
Merah warna panji Kita
Merah warna darah rakyat (2x)

Beberapa sumber menyebut, pencipta lagu ini bernama Legiman Hardjono. Dan sampai sekarang, belum ada sumber lain yang membantahnya. Lagu ini diciptakan oleh Legiman di bulan Agustus-September 1945.

Lantas, siapa Legiman Hardjono?

Legiman Hardjono adalah salah satu pemuda revolusioner yang berkontribusi besar di masa-masa awal berkorbarnya Revolusi Agustus 1945.

Sidik Kertapati dalam bukunya, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, menyebut nama Legiman sebagai pemuda buruh Kereta Api. Pada September 1945, Legiman bersama dengan Wikana, pimpinan Angkatan Pemuda Indonesia (API), merancang aksi pengambialihan Djawatan Kereta Api dari tangan Belanda.

Sedangkan Razif dalam makalah berjudul Buruh Kereta Api dan Komunitas Buruh Manggarai menyebut Legiman sebagai pentolan Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA). AMKA ini berperan besar dalam aksi pengambilalihan Djawatan Kereta API dari tangan Belanda. Belakangan, pada November 1945, AMKA melebur ke dalam Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Selain aktif di AMKA, Legiman juga tercatat pernah menjadi pimpinan Partai Rakyat (PR). Partai ini sangat dekat dengan pemikiran dan garis politik Tan Malaka. Tidak mengherankan, pada November 1948, PR bersama sejumlah partai Tan Malakais lainnya melebur dalam Murba. Di Murba, Legiman menjabat anggota Dewan Politik partai.

Belakangan, entah karena apa, Legiman bersama dengan Sidik Kertapati menyeberang ke Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal, PKI merupakan seteru dari Murba. Dia pun berganti nama menjadi Ismail Bakrie (Lihat di sini: http://histmove.ouvaton.org/pag/chr/pag_002/fr/gloss_PKI.htm).

Lagu Revolusi

Lirik Darah Rakyat sangat mewakili semangat dan keadaan revolusioner saat itu. Tidak mengherankan, lagu ini cepat sekali menjulang dan menjadi himne kaum revolusioner.

Seperti dicatat Soe Hoek Gie dalam bukunya, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Pada 19 September 1945, saat Rapat Raksasa di lapangan Ikada Jakarta, lagu Darah Rakyat dituliskan di selebaran dan dibagi-bagikan ke ratusan ribu massa.

Lagu Darah Rakyat dinyanyikan oleh ratusan ribu massa yang mengikuti Rapat Raksasa di Lapangan Ikada, disamping lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, dan Bagimu Negeri. Konon, DN Aidit yang memimpin massa menyanyikan lagu itu.

Usai peristiwa itu, lagu Darah Rakyat makin populer di barisan kaum revolusioner, terutama kaum muda, laskar rakyat, dan organisasi-organisasi berhaluan kiri. Banyak pemuda-pemudi yang terpanggil ikut revolusi karena lagu itu.

Lagu ini populer hingga keluar Jawa. Seperti diceritakan oleh Amiruddin Noer dalam bukunya, Putri MelayuKisah Cinta dan Perjuangan Seorang Gadis Melayu di Tengah Kecamuk Pembantaian, lagu Darah Rakyat juga populer di Sumatera, tepatnya di daerah Sumatera Utara. Lagu ini dinyanyikan oleh pemuda revolusioner, laskar rakyat, dan gerakan buruh. Hampir di semua truk-truk yang mengangkut pejuang menuju medan perang bergema lagu ini.

Namun, seiring dengan meletusnya banyak revolusi sosial di daerah, termasuk peristiwa tiga daerah (revolusi sosial yang bergolak di tiga daerah, yaitu Brebes, Pemalang, dan Tegal), revolusi sosial di Solo, revolusi sosial di Sumatera Timur, lagu Darah Rakyat pelan-pelan mulai dilarang.

Dan memang, kalau kita resapi makna liriknya, Darah Rakyat seakan berseru untuk revolusi sosial. Terutama pada lirik “Pada datangnya pembalasan/ Rakyat yang menjadi hakim”, kaum revolusioner ini memaknai sebagai saatnya untuk melakukan pembalasan terhadap para penindas rakyat, terutama tuan tanah, kolaborator Jepang, dan birokrat warisan kolonial.

Itulah sebabnya lagu Darah Rakyat sempat menghilang lama. Pada Desember 1963, lagu Darah Rakyat kembali menggema. Kali ini di Istana Negara, ketika Presiden Sukarno membuka Musyawarah Besar Kedua Angkatan 45.

Terkenal di Malaya

Saking populernya, lagu Darah Rakyat juga populer di Malaya (Malaysia). Dinyanyikan oleh barisan revolusioner di Malaya, terutama Partai Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) dan sayap-sayap organisasinya.

Hanya saja liriknya sedikit diubah. Lirik Merah warna panji kita diubah menjadi Merah putih panji kita. Kenapa merah putih panji kita? Untuk diketahui, PKMM yang berdiri pada Oktober 1945 banyak diinspirasi oleh Revolusi Agustus 1945. Cita-cita politik mereka disebut Indonesia Raya dan benderanya dinamai “Sang Saka Merah-Putih”.

Sejak awal pendiriannya, bahkan semenjak masih bernama Kesatuan Melayu Muda (KMM), para pendiri PKMM memang banyak dipengaruhi oleh tokoh pergerakan di Indonesia, terutama Sukarno dan Tan Malaka.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut