Sekali Lagi, Jangan Abaikan Kritikan Rakyat!

Pada suatu hari, ketika Presiden AS George W Bush sedang menggelar konferensi pers, seorang wartawan stasiun TV Al-Baghdadia, Muntazer al-Zaidi, melemparnya dengan sepatu sebagai bentuk protes terkait invasi ke Irak. Tidak lama kemudian, koleganya dari Inggris, yaitu Tony Blair, juga mendapat perlakuan yang sama saat berkunjung ke sebuah peluncuran buku di Dublin, Irlandia. Ini adalah bentuk protes tatkala sang pemimpin mengabaikan kritikan luas rakyatnya.

Di Indonesia, pasca curhat Presiden SBY meminta kenaikan gaji di depan Pati TNI/Polri, rakyat pun menyampaikan kritik berupa sindiran: “kumpulkan koin untuk gaji presiden”. Meskipun gerakan ini tidak dilakukan dengan jumlah massa yang banyak, juga tidak perlu dilakukan di depan istana negara, tetapi pemberitaan mengenai “pengumpulan koin untuk SBY” cukup membuatnya “tersinggung”.

Dan, karena dianggap gerakan yang cukup inspiratif dan kreatif, berbagai kelompok gerakan pun mengikutinya. Tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga dilakukan oleh berbagai kelompok pergerakan di daerah-daerah. Ini membuat SBY makin berang, dan berencana mempidanakan demonstran pengumpul koin untuk presiden.

Bukan hanya gerakan kumpulkan koin yang membuat SBY gerah, tetapi aksi protes di setiap kunjungannya ke daerah membuatnya “naik darah”. Seperti rencana kunjungan SBY ke NTT, misalnya, jauh-jauh hari aktivis dari Front Rakyat Anti-Imperialis Neoliberal (FRAIN) sudah mempersiapkan “aksi massa besar”.

Tersiarnya kabar mengenai “rencana aksi massa besar-besaran” ini membuat SBY dan cecunguknya bertindak reaksioner. Melalui sebuah koran lokal di NTT, gubernur menggandeng sejumlah organisasi menyampaikan seruan agar rakyat NTT menyambut kedatangan SBY dengan suka-cita. Tidak hanya itu, cecunguk SBY di NTT juga mengerahkan preman bayaran untuk mengintimidasi aksi mimbar-bebas aktivis FRAIN.

Teror dan intimidasi pun ditebar untuk menghalangi rencana aksi massa menentang kunjungan SBY di NTT. Di sejumlah kampus di NTT, pihak birokrat kampus mengeluarkan ancaman skorsing dan drop-out (DO) jika ada mahasiswa yang berani turun aksi saat kedatangan SBY. Para Lurah–atau orang-orang yang mengaku Lurah-dikerahkan untuk mendatangi rumah warga dan kos-kosan untuk menekan para orang tua mahasiswa dan pemilik kos-kosan agar melarang anaknya mengikuti aksi protes saat kunjungan SBY.

Jika ditelusuri dan diperiksa dengan baik, kemunculan kritik tersebut merupakan manifestasi dari berbagai ketidak-becusan SBY menyelesaikan berbagai persoalan rakyat; mulai dari persoalan ekonomi seperti pengangguran, kemiskinan, dan kehancuran industri nasional; ketidakmampuan pemerintah menjamin kebebasan berkeyakinan; dan ketidakmampuan pemerintah memberantas korupsi.

Akan tetapi, meskipun hari ini rejim reaksioner SBY berhasil menekan para pengumpul koin, juga berhasil menebar teror dan ketakutan terhadap rakyat NTT, tetapi masa depan pemerintahan SBY akan berhadapan dengan “krisis legitimasi”. Bahkan, jika sebelumnya seruan “penggulingan SBY-Budiono” masih terdengar samar-samar, maka sekarang seruan itu makin terang dan nyaring.

Sudah saatnya berbagai bentuk kritik pedas itu, baik yang berseliwerang di jejaring sosial seperti facebook dan twitter maupun di warung kopi, rumah-rumah, pabrik, pasar-pasar, dan kampus, harus diubah menjadi “aksi massa politis”. Berbagai kritik itu perlu diberi satu “arah politik” yang jelas, yaitu mengganti selekas-lekasnya pemerintahan boneka imperialis ini dengan pemerintahan nasional yang mandiri dan berdaulat.

Dan, untuk mengingatkan rejim SBY, berikut ini kami tuliskan puisi dari penyair besar pada saat perjuangan melawan rejim orde baru, yaitu Wiji Thukul, yang juga kader Partai Rakyat Demokratik (PRD):

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Berangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Perlawanan masif mutlak harus dibangun, pendidikan kritis rakyat kecil, penyadaran akan fungsi dan kedudukan rakyat dalam bernegara, people power dan konstitusi..