Sejumlah Tokoh Dukung Perjuangan Rakyat Kolhua

Sejumlah tokoh memberikan dukungan moral kepada rakyat di kelurahan Kolhua, Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang sedang berjuang menolak rencana pembangunan bendungan di atas lahan mereka.

Minggu lalu, mantan anggota DPR Vicktor Laiskodat datang memberikan dukungan kepada rakyat Kolhua. Kedatangan Victor, yang juga tokoh masyarakat Helong, disambut rakyat Kolhua dengan upacara adat.

“Saya harus berperan. Tidak boleh atas nama apa pun orang susah ditindas oleh orang besar. Di mana-mana orang kecil itu yang akan menang. Yang penting satu dalam doa, satu dalam perjuangan,”  kata Victor, seperti dikutip Victorynews-media.com

Sementara itu, tadi malam (30/5), dukungan kembali datang dari sejarahwan dan pendiri Soekarno Institute, Peter Appolinius Rohi. Kedatangan Peter Rohi ini langsung disambut oleh aktivis Front Rakyat Tolak Bendungan Kolhua di posko mereka.

Dalam perbincangannya dengan para aktivis dan masyarakat Kolhua, Peter Rohi menyampaikan apresiasinya terhadap para petani Kolhua yang berjuang mempertahankan tanah garapannya.

“Bapak-ibu sementara dalam tahapan mempertahankan hak dan itu memang butuh perjuangan yang kuat, belum lagi kalau menuntut hak tentu butuh energy yang lebih besar lagi,” katanya.

Menurutnya, jika masyarakat dipindahkan, belum tentu mereka bisa hidup seperti semula di tempat baru. Kalaupun mendapat ganti rugi berupa uang, kata dia, hal itu juga belum cukup karena akan habis terpakai.

“Beda halnya dengan tanah, bisa dimanfaatkan terus hingga anak cucu kedepan,” tegasnya.

Ia pun berharap agar petani tetap berjuang mempertahankan apa yang menjadi haknya. Baginya, Pemkot Kupang masih bisa mengoptimalkan sumber air lain untuk kebutuhan pemenuhan air bersih. “Janganlah alasan pemenuhan air bersih justru merugikan petani,” ujarnya.

Ia juga mengeritik perilaku pemimpin saat ini yang kurang peduli dengan nasib rakyatnya. “Pemimpin sekarang sudah melupakan tradisi kepemimpinan para pemimpin terdahulu, termasuk para raja-raja Timor di jaman dahulu, mereka tidak akan pernah mau makan jika rakyatnya belum makan,” tuturnya.

Menurutnya, pemimpin sekarang justru tidak peduli dengan apa yang dimakan oleh rakyatnya. “Para pemimpin sibuk dengan urusan sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk menguatkan perlawanannya terhadap kebijakan Pemkot Kupang, rakyat Kolhua telah membangun organisasi bernama Serikat Petani Kolhua (SPK) dan Satgas Tani untuk pemuda tani.

Rencananya, masyarakat Kolhua akan menggelar aksi massa ke kantor DPRD NTT pada 17 Juni mendatang.

Yosep Asafa

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut