Krisis Kapitalisme Global Dan Dampak-Dampaknya

Krisis kapitalisme sekarang jauh lebih “dahsyat” dibanding krisis tahun 1930-an. Krisis ini tidak semata krisis sektor finansial. Dimensi keuangan hanyalah “gunung es” dari krisis inheren yang sudah lama mengendap di dalam sistem kapitalisme itu sendiri. Krisis ini merupakan krisis bermuasal dari problem akumulasi dan reproduksi kapital dalam ekonomi nyata (real).

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, kapitalisme telah mencapai tingkat sentralisasi kapital yang tak bisa dibandingkan dengan era-era sebelumnya. Ini ditandai oleh berkuasanya 500-an oligopoli yang mengontrol setiap produksi dan organisasi pertukaran di seluruh dunia. Ada dua gejala dominan di sini: (1) kapital finansial menjadi penggerak utama ekonomi global, dan (2) krisis kelebihan produksi dalam ekonomi real.

Para oligopoli ini memegang kekuasaan luar biasa, baik secara ekonomi maupun politik di hampir seluruh dunia. Mereka pula yang berkontribusi menggeser perekonomian dunia dari ekonomi nyata menjadi finansialisasi. Cara ini sangat menguntungkan bagi para oligopoli tersebut. 

Masalahnya, finansialisasi tidak menciptakan nilai baru. Ia hanya bermain-main pada modus spekulasi. Hanya industri, pertanian, perbankan, perdagangan dan jasa yang menciptakan nilai baru. Inilah yang menjelaskan mengapa ekonomi global selalu berhadapan dengan “gelembung”. Ini pula yang menjelaskan pecahnya gelembung kredit perumahan di Amerika Serikat.

Namun, di balik krisis finansial ini, terjadi pula krisis yang jauh lebih parah di sektor real: jatuhnya upah, bertambahnya pengangguran, peningkatan utang rumah tangga, dan lain-lain. Dunia pun jatuh dalam krisis mendalam: bank kolaps, pemerintah menggunakan dana publik untuk membailout bank-bank, rakyat kehilangan pekerjaan, anggaran layanan sosial dipangkas, harga pangan dan sembako meroket, lalu letupan sosial di berbagai tempat.

Respon Terhadap Krisis

Krisis ini makin mendalam dan meluas. Krisis sekarang tak sebatas hanya satu dimensi—misalnya, finansial saja—tetapi berdimensi luas (krisis sektor real, krisis pangan, ekologi, dan lain-lain). Geografi krisis juga makin meluas: krisis sudah mengamuk di sejumlah negara di Eropa (Yunani, Portugal, Italia, Spanyol, dan lain-lain).

Merespon laju krisis yang terus menderu-deru bak lokomotif, pemerintah negara kapitalis maju berada di dua pilihan: stimulus atau penghematan. Yang kedua ini yang paling banyak diadopsi—atas anjuran troika (IMF, Uni Eropa, dan Bank Sentral Eropa).

Dampak Krisis

Kebijakan penghematan telah memicu perlawanan rakyat di seluruh Eropa—Perancis, Italia, Inggris, Yunani, Spanyol, Portugal, dan lain-lain. Di Spanyol, muncul gerakan yang disebut “kaum amarah” (Los Indignados). Di Amerika Serikat muncul gerakan “Duduki Wall Street (Occupy Wall Street) yang segera menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Selain itu, kebijakan penghematan juga telah memicu perubahan politik di Eropa. Setidaknya sudah ada 11 pemerintahan yang terguling atau gagal melanjutkan jabatannya karena tak sanggup menanggulangi krisis. Selain itu, kita juga menyaksikan perubahan politik sejumlah negara Eropa yang condong ke kiri-tengah. Di Perancis, kandidat dari partai kiri-tengah (Sosialis), François Hollande, memenangkan pemilu. Di Yunani, koalisi kiri radikal—Syriza—berhasil meraih tempat kedua dalam pemilu (padahal partai ini baru berdiri di tahun 2001 lalu).

Krisis telah membawa konsekuensi: di satu sisi, terjadi penurunan pengaruh dan hegemoni AS di tingkat global. Sedangkan, pada sisi lain, terjadi kebangkitan kekuatan ekonomi baru (Tiongkok, India, Brazil, Afrika Selatan, dan lain-lain). Fenomena ini mendorong pergeseran dunia dari tata-dunia unipolar menjadi sedikit multi-polar.

Pentingnya Negara Bangsa (Nation-State)

Krisis kapitalisme global ditanggapi oleh banyak negara-negara di selatan sebagai kegagalan neoliberalisme—bahkan kapitalisme. Doktrin-doktrin neoliberal juga kehilangan legitimasinya. Salah doktrin neoliberal yang termentahkan adalah soal pengurangan peranan negara mengontrol pasar.

Muncul resistensi terhadap kapitalisme global dan jargonnya—globalisasi. Beberapa pemerintahan yang hendak bercerai dari ekspansi kapitalisme global kemudian memperkuat benteng “kedaulatan nasionalnya”. Atau, dalam ranah teori muncul gagasan “deglobalisasi”.

Proyek kedaulatan nasional ini meliputi pemulihan kontrol negara terhadap sumber daya alam dan tenaga kerja. Juga, upaya untuk menghidupkan proyek industrialisasi yang berorientasi pada pasar internal. Inilah yang terjadi di sejumlah negara Amerika Latin, khususnya Venezuela, Bolivia, Ekuador, Argentina, dan lain-lain.

Fenomena itu bahkan berkembang lebih jauh ke arah integrasi regional, khususnya di Amerika Latin dan Afrika. Di Amerika latin terbentuk pengelompokan regional bernama Komunitas Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Sedangkan di Afrika sudah ada organisasi bersama bernama Uni-Afrika (African Union).

Sementara itu, AS—yang tak mau kehilangan hegemoninya—terus menerus mengusahakan penggulingan terhadap rezim-rezim yang dianggap bertolak-belakang dengan kepentingan AS. Di Amerika latin, AS telah menggulingkan dua pemerintahan progressif, yakni Manuel Zelaya di Honduras dan Fernando Lugo di Paraguay.

Selain itu, AS juga masih terus menerus memupuk nafsu imperialistisnya guna menguasai sumber energi dan bahan mentah negara lain. AS memimpin penggulingan terhadap pemerintahan Mohamar Khadafi di Libya. Sekarang, AS berusaha menggulingkan rezim Asaad di Suriah.

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut