SBY Gagal Berantas Korupsi

SBY-bendera-demokrat-2

Masih ingat iklan anti-korupsi Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, saat kampanye pemilu 2009 lalu? Dua pelakon di dalam iklan itu, yakni Angelina Sondakh dan Andi Mallarangeng, sudah ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

Sebelum ini, sejumlah kader demokrat sudah tersangkut kasus korupsi, seperti M Nazaruddin (bendahara umum Partai Demokrat) dan Hartati Murdaya (anggota dewan Pembina Partai demokrat). Dari peringkat parpol terkorup, Demokrat menempati urutan kedua, yakni 8 kader. Peringkat pertama diduduki oleh Golkar.

Bulan Juni 2012 lalu, di hadapan pendiri dan deklarator Partai Demokrat, SBY berjanji akan menendang keluar kader partainya yang terbukti korup. Belakang, ketika Andi Mallarangeng terjerat korupsi, Partai Demokrat malah menyiapkan bantuan hukum untuk membela mantan Mempora itu.

Lebih parah lagi, pada peringatan Hari Anti-Korupsi se-dunia di Istana Merdeka, Senin (10/12), Presiden SBY menyerukan penyelamatan terhadap pejabat korup karena tidak faham aturan dan tidak niat. “Negara wajib menyelamatkan mereka-mereka yang tidak punya niat melakukan korupsi tetapi bisa salah dalam mengemban tugasnya,” kata Presiden SBY.

Bersamaan dengan itu, predikat negara terkorup terus disandang Indonesia. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia menempati urutuan ke-118 dari 176 negara. Kemudian, Indonesia didaulat sebagai negara terkorup di ASEAN. Survei Political & Economic Risk Consultancy (PERC) menyebut Indonesia sebagai negara terkorup di kawasan Asia Pasifik.

Beberapa hal di atas membuka mata kita, bahwa pemberantasan korupsi di bawah rezim SBY hanya sebatas kampanye. Pertama, SBY tidak punya desain kebijakan untuk mencegah praktek korupsi itu. Misalkan, aturan memaksa setiap pejabat negara untuk melaporkan kekayaannya. Jika ada pejabat memiliki gaya hidup melebihi nilai gajinya, maka si pejabat tersebut patut diperiksa KPK.

Dalam konteks ini, sepak terjang Jokowi, Gubernur baru DKI Jakarta itu, lebih patut mendapat pujian. Jokowi, misalnya, menjanjikan proses penganggaran berlangsung secara transparan, seperti membuka pengelolaan APBD melalui poster dan famplet ke massa rakyat dan sistem pengelolaan pajak online.

Kedua, SBY tidak bisa menciptakan sebuah gerakan pemberantasan korupsi yang bersifat kolosal dan menciptaan efek kejut bagi koruptor. Misalkan, kenapa pemerintahan SBY tidak membuat “sayembara” mencari koruptor. Sekalipun terkesan nyeleneh, tetapi kampanye ini bisa melibatkan partisipasi rakyat dalam memerangi korupsi.

Ketiga, SBY terkesan “melindungi” kader partainya yang terlibat korupsi. Seharusnya, kalau ada kader partainya yang terindikasi korupsi, maka SBY mestinya berdiri di barisan terdepan untuk mendepak kadernya itu. Yang terjadi justru sebaliknya: SBY tidak mengambil tindakan apapun.

Korupsi Menjadi Lifestyle

Dulu ada wacana khusus memberi pakaian khusus bagi koruptor. Idenya: supaya koruptor malu, dan dengan begitu calon koruptor pun akan berfikir dua kali untuk melakukan korupsi.

Namun, seperti kita lihat, korupsi sudah menjadi Lifestyle. Tahu bahwa mereka akan dikerubuti media, para koruptor pun menghias diri. Akhirnya, begitu muncul di gedung KPK atau ruang persidangan, mereka tampil bak selebritis.

Belakangan, pakaian tahanan KPK pun diubah oleh para koruptor menjadi lebih modis dan fashionable. Jangan-jangan, kalau ini sudah ngetrend, orang-orang malah beramai-ramai mencari baju model tahanan KPK. Bukannya membuat koruptor malu, baju tahahan itu malah jadi trend mode.

“Baju tahanan itu simbol yang memberi efek jera, tapi justru dibuat modis sama dia (tahanan) dan dibuat keren,” ujar Jubir KPK, Johan Budi, di Jakarta (20/11/2012).

Inilah mungkin disebut pembalikan makna simbolik. Baju tahanan KPK tak lagi dianggap sebagai simbol “pesakitan”, tetapi malah dianggap trend atau mode pakaian terbaru.

Dalam konteks ini, upaya memberi efek jera dan rasa malu kepada koruptor tidaklah begitu efektif. Tak heran, banyak orang yang melirik solusi “hukuman mati” sebagai cara ampuh membuat jerah para koruptor.

Anna Yulianti, pemerhati masalah sosial, HAM, dan perempuan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut