SBY Didesak Kecam Rencana Agresi AS Terhadap Suriah

Presiden SBY didesak mengambil sikap tegas untuk menolak agresi militer terhadap Suriah. Pasalnya, agresi militer yang dikomandoi oleh AS itu justru akan membawa malapetaka kemanusiaan di Suriah.

Hal tersebut disuarakan oleh Staff Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD, Alif Kamal, di Jakarta, Sabtu (31/8/2013). Menurutnya, keharusan SBY untuk tegas menolak agresi sesuai dengan amanat Pancasila dan pembukaan UUD 1945.

“Salah satu azas Pancasila kita adalah perikemanusiaan. Agresi dengan dalih apapun tidak dibenarkan, karena hanya akan membawa korban dan menghancurkan nilai kemanusiaan,” ujar Alif.

Selain itu, kata Alif, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, pemerintah Indonesia seharusnya bertindak aktif untuk mencegah setiap upaya agresif dari negeri-negeri imperialis yang berusaha mencaplok atau mengintervensi masalah internal negara lain.

Menurut tuduhan senjata kimia yang ditimpakan ke pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah, Alif menegaskan bahwa ada investigasi mendalam yang melibatkan PBB dan tim independen untuk melihat dan memeriksa langsung fakta di lapangan.

“Dulu AS menggunakan senjata pemusnah massal sebagai dalih melakukan agresi terhadap Irak. Belakangan, tudingan itu tidak terbukti dan hanya rekayasa AS saja untuk mengincar minyak Irak. Sekarang dalih yang sama mau dipakai ke Suriah,” paparnya.

Menurut Alif, terkait penggunaan senjata mematikan, mestinya AS juga harus didipaksa bertanggung-jawab atas penggunaan pesawat tak berawak yang menyerang warga sipil di Afghanistan dan berbagai tempat lainnya. AS juga yang mensponsori penggunaan bom atom dan senjata kimia ketika mengebom Jepang dan Vietnam.

Menurut Alif, krisis di Suriah tidak lepas dari intervensi asing, termasuk imperialisme AS, yang menghendaki perubahan politik di Suriah untuk memuluskan kepentingan ekonominya.

Sejauh ini, posisi pemerintahan SBY di Indonesia masih membebek di belakang kepentingan imperialis AS. Bahkan, pada tanggal 7 Januari lalu, Presiden SBY mendesak  Bashar al-Assad mengundurkan diri sebagai Presiden Suriah.

“Diharapkan akan ada satu proses transisi politik agar lahir pemimpin lain yang bisa diterima oleh masyarakat Suriah dan menyayangi rakyatnya,” kata SBY kala itu.

Pernyataan SBY menuai kritik saat itu. Pasalnya, dengan melontarkan pernyataan itu, SBY sudah mengintervensi masalah internal bangsa lain. Persis sesuai dengan keinginan AS. Padahal, Indonesia sendiri punya banyak masalah internal, seperti meluasnya ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan SBY. Juga ketidakpuasan rakyat di Aceh dan Papua terhadap pemerintahan pusat di Jakarta.

Sejauh ini, kecaman keras terhadap rencana agresi AS terhadap Suriah disuarakan oleh Rusia, Iran, China, Venezuela, Ekuador, Bolivia, dan negara-negara Amerika Latin lainnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mangara Gultom

    Lebih baik anggota FPI diberangkatkan untuk jihad di Syria…..drpada buat onar di Republik ini.