SBY Dan Komunikasi Dengan Rakyat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan meramaikan dunia twitter. Melalui akun [email protected], Presiden SBY akan menyapa penduduk dunia maya (netizen), khususnya yang berstatus warga negara Indonesia.

Soerang Presiden punya akun twitter bukan hal baru. Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga punya akun Twitter. Bahkan, Obama sudah berhasil menyeret 29 juta lebih pengikut. Presiden Venezuela Hugo Chavez juga punya twitter. Dan melalui akunnya itu, Chavez banyak berbicara soal rencana kebijakannya.

Menurut Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, Presiden SBY akan menggunakan akun twitternya untuk berkomunikasi langsung dengan rakyat Indonesia. Presiden merasa, seperti diungkapkan Julian, twitter lebih berpengaruh ke masyarakat ketimbang media sosial yang lain.

Memang, pengguna twitter di Indonesia cukup besar, yakni 9,5 juta akun. Namun, jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia, angka itu masih kecil (hanya sekitar 4% dari total penduduk Indonesia). Artinya, jika mengandalkan twitter sebagai alat komunikasi, rasanya itu belum tentu bisa efektif.

Selain itu, kalau niatnya hendak berkomunikasi dengan rakyat, momentumnya sudah lewat. Usia pemerintahannya sebentar lagi berakhir. Dan inilah yang terasa sangat ganjil. Di ujung masa jabatannya, tiba-tiba Presiden SBY “ngebet” sekali berkomunikasi dengan rakyat. Sampai-sampai meniru Jokowi melakukan “blusukan” ke kampung-kampung. Kenapa tidak dilakukan ketika ia baru memegang jabatan?

Berkomunikasi dengan rakyat memang penting. Namun, komunikasi sendiri hanya cara untuk mendengar dan menyerap berbagai persoalan. Masalahnya, semasa pemerintahan SBY, hampir setiap hari rakyat datang ke depan istana membawa persoalan. Namun, justru Presiden SBY yang enggan keluar menemui mereka dan menyerap tuntutannya.

Masalahnya, komunikasi antara Presiden SBY dengan rakyatnya tidak berjalan timbal-balik. Ketika rakyat mengeluh dengan begitu banyak persoalan di sekitarnya, Presiden SBY malah balik curhat. Ketika kerukunan antar umat beragama terancam oleh praktek intoleransi, Presiden SBY juga tidak turun tangan.

Ketika rakyat menuntut kesejahteraan, eh, Presiden SBY malah memutuskan mencabut subsidi. Saat petani meminta jaminan pasar atas hasil produksinya, Presiden SBY malah ikut instruksi WTO untuk membuka pasar Indonesia terhadap impor pangan. Pendek kata, antara harapan rakyat dengan kebijakan Presiden tidak nyambung. Selama dua periode menjabat sebagai Presiden, SBY hampir tidak punya kebijakan yang melindungi kepentingan rakyat.

Lantas, apa gunanya komunikasi Presiden SBY dengan rakyat selama ini? Benarkan Presiden SBY mau mendengar dan menyerap keluhan dan keinginan rakyatnya? Atau, jangan-jangan SBY hanya pura-pura berkomunikasi dengan rakyat, tetapi di belakang layar ia bersekongkol dengan kepentingan lain yang berlawanan dengan kepentingan mayoritas rakyat Indonesia.

Kiranya kecurigaan itu tidak berlebihan. Banyak pihak yang sudah menyimpulkan, bahwa sebagian besar kebijakan ekonomi-politik kita global, yaitu IMF, Bank Dunia, dan WTO. Warna kebijakan ekonomi-politik kita sangat sejalan dengan kepentingan tiga lembaga tersebut, seperti privatisasi, penghapusan subsidi, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain.

Bayangan kami, ketika berbicara soal komunikasi dengan rakyat, Presiden seharusnya memangkas jarak antara kebijakannya dengan rakyatnya. Artinya, Presiden berusaha mengkomunikasikan atau mengkoherenkan antara kebijakannya dengan keinginan rakyatnya. Jadi, ketika Presiden menyapa rakyat, ia harus siap mendengar, menyerap, dan mengambil kesimpulan dari berbagai persoalan yang dikemukan rakyat. Nantinya, itulah yang dijadikan bahan oleh Presiden untuk merumuskan sebuah kebijakan.

Tapi, ya, rakyat kita kan sudah kritis. Dan, mereka yang di jejaring sosial juga banyak kritis. Bahkan, tak jarang kebijakan SBY ‘dibantai’ di jejaring sosial, termasuk Twitter. Boleh jadi, kalau Presiden SBY nongol di Twitter, rakyat bisa langsung menyampaikan protesnya. Supaya Presiden SBY sadar, bahwa selama ia menjadi Presiden, banyak rakyat yang tidak puas dengan kebijakan dan kinerjanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Wanandi Kabu

    Niat SBY hendak berkomunikasi dengan rakyat, momentumnya sudah lewat.
    Usia pemerintahannya sebentar lagi berakhir. Dan inilah yang terasa
    sangat ganjil. Di ujung masa jabatannya, tiba-tiba Presiden SBY “ngebet”
    sekali berkomunikasi dengan rakyat. Sampai-sampai meniru Jokowi
    melakukan “blusukan” ke kampung-kampung. Kenapa tidak dilakukan ketika
    ia baru memegang jabatan?

    Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/editorial/20130413/sby-dan-komunikasi-dengan-rakyat.html#ixzz2QPriOTqJ

    Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook