Sastra Nasional Yang Terabaikan

Situasi nasional Indonesia dewasa ini begitu memprihatinkan. Solidaritas nasional terus dirobek-robek. Minoritas merasa terus diancam dan tak ada jaminan hidup aman. Sementara itu di sisi ekonomi, kehidupan rakyat terus terpuruk. Sumber daya alam Republik yang dikenal melimpah tak juga menjadi alat untuk keadilan dan kemakmuran rakyat. Daya produksinya terus terpukul; bisa dikatakan kalah bersaing dengan produk luar. Para pelaku industri nasional pun mengeluh bila pemerintah dalam kebijakan energi seperti pasokan gas misalnya tidak bertindak membela Industri Nasional. Pemerintah maunya pragmatis saja kalau barang bisa disediakan murah mengapa harus capai-capai memproduksi sendiri entah itu beras, garam, ikan, dan lain-lain?

Melihat situasi nasional seperti ini seakan kita lupa terhadap raison d’etre Republik Indonesia. Di samping itu, tak boleh dianggap sepele juga adalah semakin payah dan rusaknya imajinasi rakyat Indonesia. Di samping kekerasan antar warga yang begitu memprihatinkan seperti pemerkosaan dan perampokan, kekerasan terhadap rakyat seakan tak berhenti semenjak pembantaian massal sebagian rakyat Republik di tahun 1965 pasca  Gerakan 30 September yang gagal. Kekerasan dan kekejian pasca peristiwa G 30 S itu berdampak sampai sekarang bahkan terus menjadi batu sandungan dalam membangun persatuan nasional.

Berkaitan dengan imajinasi yang payah dan rusak inilah kita memerlukan sastra. Karena, sastra memberikan imajinasi, gambaran kehidupan berikut cita-cita ideal dan tujuan hidup berbangsa dan bernegara terlebih sebuah bangsa yang proses terbentuknya disatukan karena kolonialisme yang telah berlangsung lama dan berusaha bebas dari nilai-nilai kolonialisme yang penuh dengan adu domba, intrik dan pecah-belah. Sampai sekarang, tak bisa dipungkiri bila pengaruh nilai-nilai dari karya Ramayana dan Mahabarata masih mendominasi nilai-nilai ideal dan moral rakyat di nusantara daripada Sastra Indonesia sendiri.

Indonesia adalah satu mahakarya sastra sendiri yang tentu saja membawa perasaan dan nilai-nilai sendiri sesuai jamannya. Sastra Indonesia yang kita maksud tentu tak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan melawan kolonialisme yang telah berlangsung lama di Nusantara. Dari perjuangan yang mengedepankan watak kedaerahan, nilai-nilai lokal, keagamaan sampai akhirnya tiba pada kesadaran perlunya perjuangan nasional melawan kolonialisme-imperialisme. Dengan begitu Indonesia sendiri sebagai kata adalah juga puisi perlawanan bagi Hindia Belanda yang menindas dan menghisap rakyat di nusantara. Dan berapa banyak orang yang menderita karena ngotot menyebut Indonesia daripada Hindia Belanda? Indonesia berbeda dengan Hindia Belanda, menjanjikan  dan mengikrarkan: kemerdekaan, persatuan nasional, solidaritas kemanusiaan, keadilan dan kemakmuran.

Dengan melihat posisi sejarah perkembangan Sastra Indonesia yang begitu melekat dengan perjuangan rakyat melawan kolonialisme seharusnya Sastra Indonesia menduduki posisi penting dalam membangun kepribadian rakyat dan bangsa Indonesia.  Tapi melihat perkembangan situasi nasional akhir-akhir ini yang begitu memprihatinkan itu tampak bahwa Sastra Indonesia seperti tak mendapatkan tempat dalam kehidupan rakyat yang berakibat: gagal dalam menjalankan tugas yaitu membangun bangsa yang berani, tidak tunduk pada kolonialisme, mandiri dan tentu saja menolak segala bentuk penjajahan di atas bumi sebagaimana ungkapan Preambule UUD 1945 yang merupakan ungkapan perasaan Bangsa Indonesia yang sangat ingin merdeka dan tahu serta berpengalaman bagaimana menderitanya hidup di bawah penjajahan; karena itu tak  menginginkan bangsa lain pun mengalami penjajahan serupa.

Dengan demikian di tengah keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang meluas, terutama pada kepemimpinan nasional yang dianggap lemah dan kurang greget dalam membela kepentingan nasional, terutama rakyat yang tak berdaya, haruslah juga dikembangkan dan ditumbuhkan sastra nasional yang dapat menjadi semangat dan cita-cita ideal berbangsa dan bernegara. Narasi sastra nasional inilah yang akan menjadi mimpi bersama dalam membangun Negara dan Bangsa. Tak hanya menjadi dongeng sebelum tidur, sastra nasional  bisa menjadikan Indonesia yang diperjuangkan dengan keringat dan darah itu semakin nyata bedanya dengan Hindia Belanda dalam tingkah laku sehari-hari terhadap bumi putera.

Proklamasi Republik Indonesia hampir 67 tahun yang lalu tentu didorong oleh berbagai karya cipta sastra yang menolak penjajahan berikut semangat kepahlawanan untuk mengakhirinya. Pengabaian terhadap sastra nasional: baik penciptaan, riset dan pembelajaran sebenarnya adalah pembunuhan terhadap watak perjuangan nasional rakyat Indonesia sendiri berikut perjuangan hidup untuk hari depannya yang lebih baik.

AJ SUSMANA, Anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Dendi Madiya

    Apa kabar sastra kita hari ini?