Sastra Nasional Yang Bagaimana?

Buku (@Taste of Tradition)

Temu Sastra Indonesia 2012 yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Bale Sastra Indonesia dengan tema: Estetika Lokal dan Peran Negara dalam Kesusastraan, sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Tinggallah mewujudkan rencana-rencana besarnya. Bisa dicatat dari pemberitaan di media yang muncul, antara lain, menghasilkan karya-karya sastra yang diakui dunia.

Pemerintah via Wamendikbud bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, juga berjanji memasukkan sastra menjadi bagian penting kurikulum di sekolah-sekolah, setara dengan kurikulum pendidikan sains. Rencana kegiatannya antara lain: “…menyelenggarakan International Festival Oriental Literature bertajuk La Galigo, “Festival Sastra Maritim” di Manado, dan “Festival Internasional Sastra Lisan” di Ambon. Agar bangsa lain bisa melihat Indonesia melalui karya-karya sastranya, karena selama ini kita tidak ada karya sastra yang bisa dijadikan bahan studi,” seperti yang disampaikan Radhar Panca Dahana ( http://www.fokuskini.com/2012/11/rencana-besar-dibalik-temu-sastra-indonesia). Semua rencana itu patutlah diapresiasi dan didukung, terutama kembalinya sastra ke sekolah dan menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan nasional.

Akan tetapi ada dua catatan yang perlu disampaikan di sini sebagai urun rembug mengenai pembangunan Sastra Indonesia yang lebih baik dan terutama dalam membangun kepribadian bangsa.

Pertama, konsepsi mengenai cita-cita besar Sastra Indonesia masih belum jelas. Apa isi dan arahnya? Terlebih di tengah keterpurukan bangsa di berbagai bidang seperti penguasaan sumber daya alam yang minim, kemiskinan yang masih nyata menghantui; masih ditambah dengan berbagai konflik antar warga negara yang berpotensi memecah belah bangsa yang seakan lupa pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Sastra tentu saja memberikan imajinasi pada pembacanya. Pengarang Sastra Indonesia berperan mengisi imajinasi warga negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 baik untuk masa lalunya, masa kini dan  masa mendatang. Karena itu sastra nasional diperlukan baik sebagai program,  cita-cita maupun dalam isian gagasannya bila dipertentangkan dengan rekolonialisme yang makin nyata saat ini; akibatnya bukan sekadar kewilayahannya saja yang nasional walau ini penting. Dengan begitu Sastra Nasional memiliki tugas mengisi imajinasi Rakyat Indonesia tentang kehidupan dan perjuangannya dalam menuju masyarakat yang bergotong royong, adil dan makmur melawan tawaran imajinasi yang dekaden, kolonialis, inlander dan berbagai nilai yang disodorkan kaum penjajah dan imperialis. Dalam kacamata Bung Karno, sastra nasional berkewajiban memanggul tugas pembangunan jiwa-jiwa yang berkepribadian setia terhadap cita-cita nasional sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945 yang  merupakan Sakti Ketiga yaitu berkepribadian di bidang Kebudayaan tanpa melupakan kerja Sakti Pertama: Berdaulat di bidang politik dan Sakti kedua: berdikari di bidang ekonomi.

Ki Hajar Dewantara dalam kerangka memperkuat Kebudayaan Nasional sebagaimana cita-cita Revolusi Agustus itu menyatakan: “Sesudah pemulihan kesatuan negara dari bangsa kita, berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945, maka pastilah proses saling mendekati antara rakyat di segenap kepulauan kita itu akan berjalan pula; proses itu dapat dan harus kita permudah dan kita percepat. Misalnya dengan perbaikan hubungan kapal udara, kapal laut, kereta api, mobil, postelpon-postelegrap, radio, harian dan majalah, perpustakaan, kesenian, pendidikan, pengajaran dan kebudayaan, dan lain-lain usaha yang dapat mempermudah dan mempercepat perkembangan ke arah kesatuan itu. ….Tetapkanlah sebagai dasar kesatuan bahwa: Kebudayaan Nasional Indonesia ialah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan  yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang ciptaan baru, yang berjiwa nasional. Dalam pada itu janganlah segan-segan:

  1. menghentikan pemeliharaan segala kebudayaan lama, yang merintangi kemajuan hidup perikemanusiaan
  2. meneruskan pemeliharaan kebudayaan lama yang bernilai dan bermanfaat bagi hidup perikemanusiaan, di mana perlu dengan diperubah, diperbaiki, disesuaikan dengan alam dan zaman baru
  3. memasukkan segala bahan kebudayaan dari luar ke dalam alam kebudayaan kebangsaan kita, asalkan yang dapat memperkembangkan dan atau memperkaya hidup dan penghidupan bangsa kita (Kebudayaan Nasional dan Hubungan dengan Kebudayaan Bangsa-Bangsa Lain dalam Buku Peringatan Taman Siswa 30 Tahun, Cetakan III, Yogyakarta, 1981;h.120)

Kedua, Budayawan Radhar Panca Dahana sangat kurang teliti atau lupa atau tidak menganggap penting ketika berkomentar tentang ide penyelenggaraan Temu Sastra Indonesia itu dengan mengatakan: “…menyambut gembira karena di sepanjang tiga dekade ini Indonesia nihil diskusi, kritik, debat dan keramaian sastra yang serius dan mendalam.”

Nihil? Bagaimana bisa? Padahal dalam tiga dekade ini Sastra Indonesia penuh debat, kritik yang menguras energi bahkan berdarah-darah bila kita mengingat bagaimana Orde Baru membungkam berbagai ekspresi Sastra yang tak diharapkan dan Penyair Wiji Thukul dibikin rusak bola matanya karena kepalanya dibenturkan ke badan mobil. Tak cukup dengan itu, Wiji Thukul dilenyapkan bersamaan dengan beberapa aktivis demokrasi lainnya. Bila ditarik mundur 30 tahun, pada tahun-tahun 1980-anlah, karya-karya Buru Pramoedya Ananta Toer terbit: Bumi Manusia, cetakan pertama 25 Agustus 1980, Anak Semua Bangsa 1981, Jejak Langkah, 1985, Rumah Kaca, 1988. Karya-Karya itu diakui dikancah internasional yang membuat Pramoedya Ananta Tour menjadi langganan Kandidat Penerima Nobel dari Indonesia. Walau Pram tak berhasil menerima Nobel, Pram mendapatkan penghargaan atas karya kreatifnya dari Yayasan Ramon Magsaysay yang menimbulkan   debat dan kritik luar biasa di pertengahan tahun 1990-an hingga pada lengsernya Jendral Besar Soeharto. Patut dicatat juga adalah perdebatan dan kritik yang mengiringi kemunculan novel Saman karya Ayu Utami pun Laskar Pelangi Andrea Hirata.

Silahkan dibuka-buka lagi arsip-arsipnya.

Imajinasi apa yang muncul dalam novel Saman? Lalu, ada Laskar Pelangi Andrea Hirata? Apakah keduanya mencerminkan jiwa Sastra Nasional yang anti imperialisme? Membawakan visi kebudayaan nasional yang berlandaskan Tri Sakti atau pun konsepsi kebudayaan nasional Ki Hajar Dewantara? Tentu ini membutuhkan ruang pembahasan tersendiri.

AJ Susmana, anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker). Aktif menulis esai, cerpen dan puisi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut