Sang Pianis, Saksi Mata Kekejaman Fasisme

The Pianist (2002)

Sutradara: Roman Polanski
Penulis: Ronald Harwood, Wladyslaw Szpilman
Tahun Produksi: 2002
Durasi: 150 menit
Pemain: Adrien Brody, Thomas Kretschmann, Frank Finlay, Maureen Lipman Emilia Fox, dan Michał Żebrowski

Ada banyak film yang bercerita tentang kekejaman fasisme. Salah satunya adalah The Pianist (2002), karya Roman Polanski. Film berdurasi 150 menit ini mengambil latar belakang seorang pianis Polandia, Wladyslaw Szpilman, yang menjadi saksi atas kekejaman Nazi saat menduduki Warsawa.

Kota Warsawa, pada tahun 1939, merupakan kota urban yang plural. Saat itu, sebelum kedatangan tentara fasis, dihuni oleh sejutaan penduduk. Sekitar 360.000 diantaranya adalah orang-orang Yahudi. Pada Januari 1945, seusai Nazi ditaklukkan di kota itu, jumlah orang Yahudi yang tersisa tinggal 20 orang.

Ya, inilah bukti konkret adanya holocaust. Inilah bantahan terhadap mereka yang menuding holocaust itu cerita fiktif. Dan, Wladyslaw Szpilman, yang berhasil selamat dari kejadian itu, adalah saksinya. Ia menulis sebuah memoir. Memoirnya itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Śmierć Miasta (Death of a City)”. Sayang, begitu terbit, rezim Stalinis di Polandia melarang buku ini.

Film ini dimulai dari awal kedatangan Nazi di Warsawa. Saat itu, Szpilman menjadi seorang pianis terkenal di Radio Polandia. Keluarga Szpilman, yang awalnya menduga Inggris dan Perancis akan menghalau fasisme, masih bertahan di kota itu hingga kedatangan Nazi.

Pelanggaran hak-hak kaum Yahudi pun dimulai. Awalnya, keluarga Yahudi dilarang memiliki uang lebih dari 2000 zloty (mata uang Polandia). Kemudian diikuti dengan berbagai perlakuan diskriminatif terhadap Yahudi: penggunaan tanda berupa ban putih, di larang berjalan di trotoar, menggunakan kendaraan umum, duduk di taman, dan lain-lain.

Lalu, Yahudi mulai ditempatkan di sebuah distrik khusus (ghetto). Ghetto ini lebih menyerupai penjara mengerikan: kematian, kelaparan, pembunuhan, dan lain-lain terjadi di situ. Puncaknya, pada Juli 1942, 300 ribu orang Yahudi diangkut dengan kereta menuju pembantaian di Treblinka.

Seluruh anggota keluarga Szpilman dikirim ke sana. Sedangkan ia sendiri berhasil diselamatkan oleh seorang polisi Yahudi. Sejak itulah, Szpilman mulai berjuang untuk tetap hidup. Awalnya, ia melakukan kerja-paksa di ghetto. Namun, di situ ia mulai terlibat dengan kelompok perlawanan bawah tanah Yahudi.

Ia kemudian melarikan diri. Ia disembunyikan oleh kawannya, Andrzej Bogucki dan Janina. Di sebuah kamar yang menghadap ke Ghetto, Szpilman menyaksikan pemberontakan anti-fasis yang digerakkan kaum Yahudi yang tersisa. Jumlahnya tak melebihi 200-an orang.

Ia kemudian ditolong oleh Michel Dzikiewics. Kebetulan, istri dari Dzikiewics ini bernama Dorota, perempuan yang pernah dekat dengan Szpilman. Szpilman disembunyikan di sebuah apartemen di kawasan orang Jerman. Di sinilah ia, dari balik tirai jendela, menyaksikan pemberontakan rakyat Polandia melawan fasisme.

Nazi menindas perlawanan itu. Sampai menghancurkan kota. Beruntung, Szpilman berhasil meloloskan diri. Hingga, dalam keadaan lapar dan haus, Szpilman berjalan di tengah “kota mati” dan memasuki reruntuhan gedung. Ia bersembunyi di atas loteng gedung itu.

Sampai pada suatu hari, ketika ia sedang berjuang membuka kaleng, Szpilman ditemukan oleh seorang tentara Jerman. Terjadi dialog singkat diantara keduanya. Szpilman mengaku dirinya seorang pianis. Lalu, singkat cerita, si Jerman ini menyuruh Szpilman memainkan piano. Keduanya menjadi akrab.

Si Jerman ini juga menyembunyikan Szpilman. Ia juga memberi makanan dan minuman. Sampai akhirnya, Warsawa berhasil dibebaskan oleh Soviet. Saat itu, Szpilman keluar dengan mengenakan jas tentara Jerman. Ia nyaris tertembak di tangan tentara soviet yang mengiranya tentara Jerman.

Szpilman tidak tahu nama tentara Jerman yang menyelamatkannya itu. Keterangan kawannya, yang pernah melihat tentara Jerman itu di kamp Soviet, tak cukup membantu. Meskipun Szpilman berusaha menyelamatkannya, tetapi tentara jerman itu tak diketemukan. Belakangan diketahui, tentara Jerman itu bernama Kapten Wilm Hosenfeld. Ia meninggal di kamp tahanan perang Soviet tahun 1952.

Sutradara Roman Polanski, yang saat itu masih anak-anak dan menyaksikan kejadian mengerikan ini, kelihatan tetap menahan emosi. Ia tetap fokus untuk mengangkat versi Wladyslaw Szpilman. Polanski, misalnya, tak terbawa emosi untuk menyorot perjalanan keluarga Szpilman di kamp pembantaian di Treblinka.

Sayang, begitu fokusnya pada penuturan Szpilman, Polanski gagal menangkap fenomena penting yang tak bisa diabaikan: pemberontakan heroik kaum Yahudi dan pemberontakan rakyat Polandia. Dua kejadian itu hanya disorot Polanski sebagai serpihan-serpihan kejadian di balik tirai jendela.

Szpilman, yang berjuang untuk survive di tempat persembunyian, juga terlihat agak apatis dengan perlawanan. Padahal, ia banyak berhubungan dengan orang-orang yang menjadi aktivis anti-fasis bawah tanah. Setidaknya, ia sempat menyelundupkan senjata untuk persiapan pemberontakan kaum Yahudi.

Ini film yang sudah lama: dirilis tahun 2002. Dan kami baru berusaha mengangkatnya 10 tahun kemudian. Tapi tak apalah, setidaknya film ini tetap perlu untuk ditonton oleh generasi saat ini dan di masa datang. Film ini bisa menjadi monumen peringatan bagi generasi sekarang dan masa depan, supaya kejahatan kemanusiaan dengan kedok apapuan tidak terulang lagi. Termasuk kejahatan kemanusiaan dengan dalih agama dan etnis tertentu.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut