Sang Penyair Dalam Perburuan

Seorang lelaki memandang hamparan hijau alam dari atas kendaraan umum yang ditumpanginya. Suara radio menyiarkan berita politik setelah penyerbuan kantor DPP PDI di Jakarta yang berujung pada kerusuhan dan pembakaran gedung-gedung pemerintah di Jakarta. Dalam berita itu disebutkan Partai Rakyat Demokratik (PRD) merupakan dalangnya. Lelaki itu terpekur tanpa kata, hingga adegan berpindah ke dalam sebuah rumah kayu tempat persembunyiannya.

Demikian sekuel awal film Istirahatlah Kata-Kata yang berisi penggalan kisah pelarian Wiji Thukul setelah peristiwa 27 Juli 1996. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini telah menjelajah ke sejumlah festival internasional di Asia, Eropa, maupun Amerika sejak pertengahan tahun 2016 dan akan segera tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 19 Januari 2017.

Kesan yang pertama muncul setelah menyaksikan film ini adalah kesunyian dan pergulatan batin yang begitu intens yang dialami oleh Wiji Thukul. Penggalan kisah yang menjadi pilihan sang sutradara memang tidak menghadirkan sosok Wiji Thukul sebagaimana yang dikenal atau dikesankan banyak orang, baik yang mengenalnya secara langsung atau hanya lewat cerita dan karya-karyanya; Wiji yang berapi-api, pembangkit suasana, dan gaya bicara yang (menurut beberapa kawan) lucu.

Seperti judulnya, Wiji dalam film ini seperti hendak mengistirahatkan kata-katanya yang justru menjadi senjata atau amusi utamanya dalam memperjuangkan keadilan; dan kerap, kata-kata itu, menjadi api pembakar semangat para demonstran atau menjadi penggugah kesadaran orang atas realitas ketidakadilan.

Kesan yang murung ini dapat dipahami dengan melihat latar belakang situasi saat itu, yakni represifitas rejim orde baru dengan ancaman “tembak di tempat” bagi yang dianggap terlibat dalam kerusuhan. Wiji Thukul, sebagai salah satu tokoh yang melahirkan Partai Rakyat Demokratik, tentu turut menjadi sasaran utama dari penangkapan atau bahkan bisa lebih dari itu.

Setelah berpindah ke beberapa daerah di Jawa, akhirnya Wiji menghabiskan waktu delapan bulan di Pontianak, Kalimantan Barat. Pilihan Pontianak sebagai fokus cerita ini menjadi menarik karena; pertama, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Wiji sempat tinggal (cukup lama) di Pontianak selama pelariannya, apalagi sampai mengetahui bagaimana kehidupannya.  Anggi Noen melakukan riset yang cukup mendalam tentang kehidupan Wiji di sana sehingga bisa menampilkan detail kesehariannya. Kedua, Pontianak adalah kota yang sangat jauh dari kehidupan dunia aktivis yang pada masa itu penyebarannya sebagian besar masih di kota-kota besar di Jawa dan sedikit kota lain di Sumatera dan Sulawesi. Dengan demikian Wiji menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari kesehariannya ketika berada di Jawa. Jauh dari kawan-kawan dan keluarganya. Ketiga, dengan mengetahui durasi waktu keberadaan Wiji di Pontianak dapat ditelusuri bahwa cukup banyak puisi yang ia ciptakan selama berada di pelarian tersebut. Persoalannya, bila dilihat puisi-puisi Wiji dalam kurun pelarian, sangat jarang ia terakan tempat puisi tersebut ditulis. Film ini pun diselingi dengan beberapa puisi sebagai latarnya.

Bagaimanapun, ada bagian dari film ini yang cukup menguatkan bayangan saya tentang Wiji Thukul sebagai seorang pecinta buku. Pada salah satu adegan ada seorang remaja yang coba mengajak Wiji bercanda. Ia (remaja ini) mengatakan sering merasa bersalah bila membaca buku tapi tidak selesai. Karena itu, lanjutnya, ia memilih untuk tidak membaca agar tidak merasa bersalah. Wiji bereaksi dengan menatapnya dengan wajah serius tanpa senyum, sehingga remaja tersebut menjadi salah tingkah.

Adegan ini mengingatkan saya pada cerita seroang kawan yang pernah tinggal bersama Wiji Thukul di Tangerang antara 1997-1998. Saat itu kawan ini membaca sebuah buku dan kemudian tertidur di lantai dengan buku tersebut sebagai bantalnya. Wiji melihat ini sontak murka dan menyepak bokongnya sembari menghardik, “buku untuk dibaca, bukan jadi bantal!”. Kecintaan Wiji pada buku (ilmu pengetahuan) ini juga tercermin dari beberapa puisinya.

Berbeda dari film dokumenter “Wiji Thukul, Penyair Demonstran” yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi nasional, meskipun bercerita tentang tokoh yang nyata, sutradara Istirahatlah Kata-Kata mengaku telah menginterpretasikan kisah Wiji Thukul secara bebas guna membentuk alur ceritanya. Namun interpretasi bebas tersebut tidak melenceng secara substansi dari sejarah dan prinsip perjuangan yang dijalani Wiji Thukul.

Akhirnya, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Terutama bukan sebagai hiburan tapi sebagai pembelajaran sejarah. Bagi penonton yang belum mengetahui (setidaknya) sedikit latar belakang tentang kiprah Wiji Thukul, akan butuh energi ekstra untuk mencerna film ini. Karenanya (bagi calon penonton dengan kategori di atas) disarankan untuk mencari informasi awal tentang sosok ini sebelum berangkat ke bioskop. Selanjutnya, seperti dikatakan sutradara Anggi Noen saat pemutaran perdana di Institut Français d’Indonésie  18 November lalu, tidak cukup satu film untuk menceritakan sosok Wiji Thukul. Mungkin juga akan sangat menarik untuk mengambil kisah selama Wiji berada di Tangerang sebelum akhirnya “hilang” hingga sekarang.

Dominggus Oktavianus

Istirahatlah Kata-Kata (2017) | Durasi: 97 Menit | Negara: Indonesia | Sutradara: Yosep Anggi Noen | Produksi : Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films | Pemain:  Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Manalu, Dhafi Yunan, dll

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut