Sang Pengubah Jalannya Sejarah

Tanggal 5 Maret, 5 tahun lalu, dunia kehilangan salah satu tokohnya yang berpengaruh. Saya berani bilang, orang ini punya andil besar dalam mengubah jalannya sejarah dunia. 

Tahun 1998, Hugo Chavez, bekas komandan pasukan terjung payung, memenangi Pilpres Venezuela. Saat itu dunia, termasuk Venezuela, masih dalam kungkungan neoliberalisme. Fatwa Perdana Menteri bertangan besi Inggris, Margaret Thatcher, masih berlaku: There Is No Alternatif.

Di hadapan Chavez hanya ada dua pilihan: melanjutkan neoliberalisme atau mencari jalan lain. Dan seperti anda ketahui, Chavez memilih yang kedua. Dia memilih merombak tatanan ekonomi, politik, dan sosial-budaya Venezuela agar lebih berkeadilan sosial di bawah panji-panji “Revolusi Bolivarian”.

Pilihan Chavez tidak gampang. Dia nyaris tidak punya sekutu. Hanya Kuba yang juga terisolasi. Tetapi Chavez, yang sejak belia mengagumi Simon Bolivar—pejuang pembebasan Amerika Latin dari kolonialisme Spanyol, pantang menyerah.

Chavez memilih bersandar pada rakyatnya. Dia berkeliling Venezuela, mengetuk pintu rumah orang-orang miskin, dan mengabarkan bahwa saatnya Rakyat Venezuela menjadi “pembangun” negerinya. Mereka yang berabad-abad terabaikan tiba-tiba diajak mengurus Negara.

Rakyat terbangunkan. Berdirilah beribu-ribu organisasi. Berdirilah Dewan Komunal—semacam Dewan Rakyat—yang menjadi ruang rakyat manapun, termasuk si miskin, untuk berbicara dari urusan perbaikan kampung hingga pembuatan Undang-Undang Negara.

Yang terpenting, Chavez memanggil kembali Negara sebagai “pelayan publik”, sesuatu yang tidak dikehendaki oleh pengusung neoliberal. Negara kemudian mengambil kendali kembali terhadap sektor-sektor strategis, termasuk pengelolaan minyak.

Untuk pertamakalinya dalam sejarah Venezuela, keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam dialirkan ke rakyat banyak melalui lusinan program sosial: misi kesehatan gratis, pendidikan gratis, pemberantasan buta-huruf, misi perumahan, misi pangan murah, dan masih banyak lagi.

Revolusi Chavez berhasil mengangkat jutaan orang dari lembah kemiskinan. Sebelum 1998, kemiskinan ekstrim di Venezuela hampir 21 persen. Menjelang akhir hayat Chavez, tingkat kemiskinan ekstrim berkisar 5 persen.

Sejak Chavez berkuasa, pelan-pelan jalannya sejarah dunia bergeser dari jalan buntu, neoliberalisme dengan jargon “there is no alternative”, yang menyebabkan kemiskinan, ketidakadilan sosial dan kerusakan ekologi. Chavez menemukan jalan baru, yang disebutnya “sosialisme abad 21”.

Tetapi pergeseran ke jalan lain ini tidak gampang. Imperium di Amerika Utara dan elit Venezuela tidak suka dengan perubahan jalan itu, karena mengancam kepentingan ekonomi dan politiknya. Berbagai upaya mereka lakukan untuk melengserkan Chavez: kudeta terhadap Chavez tahun 2002, upaya oposisi menghentikan produksi minyak di tahun 2002-2003, upaya destabilisasi (guarimba) di tahun 2004, dan lain-lain.

Chavez jadi inspirasi. Pemimpin yang memiliki keyakinan politik seperti dirinya bermunculan di Amerika latin: Lula Da Silva di Brazil (2002), Nestor Kichner di Argentina (2003), Tabare Vazques di Uruguay (2005), Evo Morales di Bolivia, Rafael Correa di Ekuador, Daniel Ortega di Nikaragua, dll (2006). Politik Amerika latin berayun ke kiri. Banyak yang menyebutnya dengan istilah “pasang merah di Amerika Latin”.

Sejak itu, neoliberalisme bukan hanya terusir dari halaman Venezuela, tetapi hampir semua tempat di Amerika latin. Tahun 2006, Amerika latin resmi bercerai dengan agenda Perdagangan Bebas Amerika (FTAA). Bersamaan dengan itu, blok kerjasama baru yang berbasiskan kerjasama dan solidaritas berdiri: Alternatif Bolivarian untuk Amerika (ALBA) di tahun 2004, Bank Selatan di tahun 2009, dan Komunitas Negara-Negara Amerika latin dan Karibia (CELAC) di tahun 2011.

Bersamaan dengan itu, wajah Amerika latin pelan-pelan berubah dari kawasan yang dicekik perang saudara, penyuplai imigran, hingga perang antar geng narkoba menjadi menjadi sebuah kawasan baru di dunia yang berhasil mendorong emansipasi sosial dan ekonomi.

Berdasarkan laporan Komisi Ekonomi Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), hanya dalam satu dekade lebih dari 94 juta orang berhasil keluar dari lembah kemiskinan dan terangkat menjadi kelas menengah baru.

Hampir semua negara Amerika latin yang diperintah kiri, seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Uruguay, Nikaragua, Brazil, dan El Salvador, berhasil memerangi kemiskinan dan ketimpangan. Tidak hanya itu, sektor pendidikan dan kesehatannya juga menggeliat lebih maju.

Sayang sekali, elit Amerika latin yang beratus-ratus abad menikmati hak istimewa di kawasan itu, dengan sokongan penuh dari Amerika Serikat dan barat, tidak pernah mentolerir setiap jengkal perubahan di kawasan itu.

Mereka, dengan senjata uang dan medianya, pelan-pelan berhasil membalikkan keadaan. Dilma dan partai buruh digulingkan lewat kudeta parlemen di Brazil, kemudian penerus Kirchner dan Peronisme dikalahkan dalam pemilu Argentina, sementara revolusi warga di Ekuador terhenti akibat penghianatan kawan sebarisan.

Di Venezuela, revolusi yang dikobarkan oleh Chavez masih berlanjut. Nicolas Maduro, sang pemegang tongkat estafet revolusi Bolivarian, masih berdiri kokoh mempertahankan revolusi, meski digempur oleh oposisi kanan di dalam negerinya dan agresi dari luar.

Namun, apapun yang terjadi di esok hari, kita tidak bisa menyangkal bahwa Chavez telah membawa banyak perubahan di bawah kolong langit ini. Dia sudah menunjukkan bahwa, jika ingin mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, jangan pakai resep neoliberalisme; jika ingin pendidikan dan kesehatan bisa menjangkau seluruh rakyat, jangan serahkan pada mekanisme pasar.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut