Sandinista Unggul Dalam Pemilu Nikaragua

Kandidat sayap kiri, Daniel Ortega, dari Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN), dilaporkan unggul sementara dalam Pemilihan Presiden Nikaragua. Setidakanya 3,4 juta pemilih telah memberikan suaranya dalam pemilihan yang berlangsung damai hari Minggu (6/11) kemarin.

Tetapi belum disebutkan berapa persen perolehan suara yang didapatkan oleh Daniel Ortega dan para pesaingnya. Akan tetapi, dalam sebuah jajak pendapat menjelang pelaksaan pemilu, Ortega diperkirakan akan mendapat 48%. Angka itu sudah cukup untuk menjadikan Ortega terpilih dalam pilpres satu putaran.

Sementara jajak pendapat lain menunjukkan bahwa dukungan terhadap Ortega mencapai 59,6%. Ia unggul dari saingannya dari sayap kanan, Fabio Gadea, seorang pengusaha yang memimpin Partai Liberal Independen.

Banyak pesimisme menjelang pelasakanaan pemilu. Rata-rata media barat memprediksi terjadinya kekacauan dan kerusuhan saat pemilu. Akan tetapi, semua pesimisme dan tudingan itu terbantahkan saat rakyat Nikaragua berhasil melaksanakan pemilu secara damai. Bahkan partisipasi rakyat dalam pemilu cukup besar.

“Ada yang berusaha menebar ketakutan di tengah rakyat, tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Pemilu berjalan secara damai,” kata Daniel Ortega, sesaat setelah ia memberikan suaranya.

Ortega juga menjelaskan bahwa rakyat telah datang ke pemilihan tanpa rasa takut. “Ini pertama kalinya dalam sejarah Nikaragua, rakyat datang ke pemilihan tanpa rasa takut,” ujarnya.

Nikaragua memang negeri yang selalu dibayang-bayangi kekerasan. Nikaragua ditaklukkan oleh barat sejak Columbus mendarat di benua itu tahun 1502. Tahun 1909, Amerika Serikat juga terlibat dalam penjarahan dan penaklukan di negeri ini. Seorang pejuang anti-kolonial bernama Augusto Cesar Sandino memimpin perlawanan terhadap penjajahan asing. Ia dibunuh pada 21 Februari 1934.

Kemudian sebuah kediktatoran militer berkuasa selama 43 tahun di Nikaragua: Kediktaroran Somoza (1936-1979). Tetapi sebuah gerakan rakyat yang terinspirasi oleh sandinista berhasil menggulingkan diktator Somoza. Revolusi itu dipimpin oleh FZLN (Frente Sandinista de Liberación Nacional), dengan tokohnya José Daniel Ortega Saavedra.

Sandinista merebut kembali negeri ini dari kehancuran: tenggelam dalam utang, sangat bergantung kepada imperialis, dan ketiadaan modal. Akan tetapi, sekalipun begitu, pemerintahan Sandinista berhasil memulai perang melawan kemiskinan (dengan program Rencana Darurat Reaktivasi Ekonomi), perebutan tanah dan sumber daya dari tangan loyalis Somoza, menaikkan gaji pekerja, menurunkan sewa, pendidikan dan kesehatan gratis, dan kampanye pemberantasan buta-huruf.

Tetapi proyek ini sempat terhenti pada tahun 1990, ketika Sandinista dikalahkan oleh Violeta Barrios de Chamorro dari United Nicaraguan Opposition (UNO). Begitu berkuasa, Chamorro segera membawa Nikaragua dalam jalan neoliberalisme. Beberapa kemenangan revolusi juga berhasil dihancurkan, termasuk tanah-tanah yang dulu dikuasai rakyat dari keluarga diktator Somoza.

Tetapi, pada pemilu 5 November 2006, Sandinista kembali berkuasa. Daniel Ortega kembali menjadi presiden negeri yang sudah hampir hancur itu. Banyak yang mengatakan, pendekatan Ortega ketika mulai berkuasa kembali di tahun 2006 sangat mirip dengan cara Lula Da Silva di Brazil.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut