“Samudero Budoyo” Berjuang Merawat Seni Jaranan

Jaranan atau yang kita kenal sebagai kuda lumping adalah kesenian yang berakar pada masyarakat agraris. Selaiain sebagai sarana hiburan, jaranan juga merupakan ekspresi kaum tani dalam merayakan atau menunggu masa panen.

Sebagai seni diluar pagar Keraton, jaranan hadir dengan segala kesederhanaannya, peralatan musiknya, tari-tarinya, mantera-manteranya yang tidak ikut pakem mapan kaum ningrat.

Ditambah fenomena “ndadi”  (kesurupan), menjadikan pertunjukan berbalut magis ini demikian menarik.

Terkait seni jaranan tadi, Sukir Anggraeni dari berdikarionline.com berkesempatan menemui Joko Tingkir, seorang buruh tebang-tanam sekaligus Pimpinan Kelompok Seni Jaranan Samudero Budoyo. Kami berbincang tentang aktifitas, harapan juga masa depan kelompok seni tradisional ini.

*

Samudero Budoyo dibentuk tahun 2016, sebelumnya memakai nama Krido Budoyo. Sebagai sebuah komunitas seni, Krido Budoyo sudah berdiri dan aktif berkesenian selama dua puluhan tahun. Seiring berjalan waktu, anggota dan pengurusnya (yang kebanyakan buruh tani) silih berganti, ada yang pensiun, pindah pekerjaan dan sebagainya.

Nama Samudero Budoyo, ungkap Joko, didapatkan melalui petunjuk. “Jadi nama itu tidak asal comot tapi kita dapat wahyu lewat mimpi, bahkan sampai tiga kali mimpi”, ungkapnya.

Samudero Budoyo mengandung arti Samudera, yang itu kiasan bermakna besar dan luas, jadi mungkin petunjuk yang datang lewat mimpi tadi menginginkan (kelompok) kesenian ini menjadi besar namanya dikenal luas masyarakat. “Dan Alhamdulillah kelompok jaranan ini saya rasakan semakin maju dalam kepemilikan properti pementasan, salah satu ukuran yang tadinya kita cuma ada lima (topeng) barongan sekarang sudah punya lima belas”, ujarnya.

Komunitas ini berdiam di Desa Mataram Udik, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah. Anggotanya kini ada 35 orang terdiri dari buruh, masyarakat sekitar komunitas. “Terkadang ada juga orang datang dan kebetulan bekerja di sekitar sana (meski hanya sebagai pekerja musiman) juga turut tampil”, tambah Joko.

Untuk regenerasi, komunitas ini melatih kanak-kanak berusia sekitar SD – SMP, tapi saat pertunjukan yang tampil dalam pertunjukan tetap yang senior dan dewasa.

*

Kepengurusan komunitas ini terdiri atas Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Rutin berlatih dua minggu sekali, kerap tampil ditanggap dalam acara hajatan warga, sunatan, pernikahan dan seterusnya.

Kelompok jaranan ini sangat tahu bahwa penanggap hiburan ini biasanya dari kalangan menengah – bawah. “Kita siap bagi siapapun yang ingin nanggap di acara apapun dan tidak ada tarif khusus. Tapi memang besar kecilnya nominal tarif ditentukan jarak tempuh, karena semakin jauh otomatis semakin mahal karena untuk akomodasi kita harus bawa peralatan dan perlengkapan pentas, tapi tergantung penjanjian kita dengan yang punya hajat. Jadi terkait sound system, tarub/tenda, konsumsi dan sebagainya itu harus dibahas detil dan jelas dengan yang mau menanggap kita,” terang Joko.

Samudero Budoyo memberlakukan semacam manajemen terbuka terkait order tanggapan dan nilainya. Jadi, kalau ada yang mau nanggap untuk tampil di satu tempat, mereka musyawarahkan dulu dengan seluruh anggota, apakah itu akan diambil atau tidak, hitung-hitungan pengeluaran berapa, untuk akomodasi berapa, untuk konsumsi berapa. Semuanya diputuskan lewat rembugan. Kalau harga tidak pas, maka sesuai keputusan bersama order tidak diambil.

Begitu juga terkait pendapatan dan pengeluaran yang sisanya dibagi rata. Biasanya, yang lebih  diutamakan adalah fee (bayaran) untuk para penari yang masih belia, sebagai penyemangat, bentuk apresiasi agar mereka terus belajar dan mencintai kelompok ini. Sementara kalau untuk anggota lain yang sudah dewasa, mereka punya penghasilan sendiri dari hasil kerja utamanya sebagai buruh tadi. “Rejeki itu relatif, tapi yang terpenting adalah komitmen kita untuk melestarikan kesenian ini agar tidak punah karena itu budaya bangsa kita sendiri,” tutur Joko.

*

Untuk aliran/pakem dalam bermain jaranan, Joko menjelaskan ada bermacam jenisnya: Ada Pegon, Sutren, Banyumasan dan seterusnya. Ada jaranan dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pakem Pegon itu model “kesetrum” (istilah lain untuk kesurupan, –ed) secara paralel yang berarti kalau sudah ada satu anggota kelompok jaranan yang ndadi (kesurupan tadi), itu bisa menular ke penonton. Hanya Gambuh (si pawang penyembuh) atau sesepuh jaranan itu bisa membentengi supaya yang kesurupan tidak terjadi kepada kaum perempuan. Karena biasanya Gambuh itu adalah seorang laki-laki, maka menjaga agar perempuan tidak kesurupan itu penting. Sebab, metode pengobatannya harus memegang tubuh orang yang kesurupan.

Dalam Pegon ada Pegon untuk tari-tarian, Pegon irama untuk Barongan, irama Reog untuk Ganongan.

Pakem Sutren yang kesurupan hanya orang-orang tertentu atau orang-orang pemain jaranan itu sendiri tanpa melibatkan penonton. Jadi demit yang akan merasuk ke tubuh si pemainnya bisa diatur.

Sementara pakem Banyumasan lebih banyak mengandalkan tari-tarian.

Samudero Budoyo menganut aliran atau pakem Pegon karena alasannya itu lebih banyak diminati masyarakat meski pada umumnya tidak paham dengan masalah pakem dalam jaranan. “Jadi menurut saya, Pegon ini lebih ramai dan menarik bagi saya, karena orang tidak tahu jungtrungannya yang penting kesurupan,” ujar Joko.

Dijelaskannya lagi, Sajen berupa ayam hidup, disajikan sebelum pertunjukan dan ayam harus berkelamin jantan. Sebelum ndadi, ada tahapnya terlebih dulu yakni lewat media tari-tarian, selanjutnya kala pukulan si pengendang semakin cepat temponya (titir) disitulah proses kesurupan dimulai, biasanya pemain atau penonton yang sudah kesurupan tadi akan terjatuh.

Lebih menarik lagi, Pegon melibatkan masyarakat penontonnya untuk lebih aktif dan kritis. Contoh saat pertunjukan (di kerumunan penonton yang tanpa kita tahu) ada pengamat masalah busana, pengamat masalah ukelan/tari-tarian, ada pengamat masalah gending (mumpuni atau tidak wiyogonya) yang mereka itu akan menyampaikan pendapat juga masukan positif kepada kelompok jaranan tersebut seusai pertunjukan.

Untuk divisi musik skuadnya bernama Wiyogo; yakni delapan orang pemain gamelan terdiri atas kendang, slompret, gong, kenong, saron, demung serta pesinden.

Di Samudero Budoyo tidak ada spesialisasi pemain atau tugas mutlak dibebankan ke satu orang. Setiap anggota baik penari dan pemainnya harus bisa menguasai minimal tiga materi; harus bisa menari, bisa barongan dan bisa bermain musik, dengan begitu menjadi efektif.

*

Ketika ditanya terkait harapan dan masa depan kesenian ini, Joko berharap seni jaranan bisa menjadi seni perekat semua bangsa. Joko mengaku tidak berkecil hati dalam membina kesenian jaranan agar bisa bertahan dan tetap disukai masyarakat, karena sebagai komunitas seni tradisional jaranan bisa berpadu dengan seni populer.

Di sela tari-tarian bisa memasukkan unsur seni populer dan sangat mungkin berkolaborasi dengan musik modern, seperti tambahan drum, organ ataupun alat musik lain dan menghasilkan gabungan nada pentatonis dengan diatonis.

Gamelan sendiri bisa dipakai untuk segala macam musik hingga masyarakat tidak jenuh dengan suguhan irama reog, jaranan atau barongan saja, karena bisa menyisipkan unsur-unsur populer tadi di sela-sela babak atau saat di tari-tarian dengan 1-2 lagu yang sedang tren macam Suket Teki, Jaran Goyang yang itu jadi selingan pertunjukan.

Dikatakan Joko, Samudero Budoyo akan selalu ikut perkembangan jaman, tidak melulu monoton dalam pertunjukan. Tetap ada improvisasi supaya seni jaranan ini bisa menarik kaum muda, jaranan tidak lagi terlihat kumuh dan ketinggalan jaman.

Harapan lain kepada para pemangku kekuasaan komunitas ini menginginkan peran aktif pemerintah (dalam hal ini Kementerian yang membidangi Seni Budaya) bisa membina, merawat, dan melestarikan karena ini adalah salah satu kekayaan dan kekuatan sekaligus jatidiri bangsa.

Selain peran pemerintah, komunitas ini juga menginginkan peran aktif masyarakat untuk ikut mendukung setiap kegiatan kelompok seni tradisional yang masih ada seperti; Jaranan, Ludruk, Wayang Kulit, Reog, Wayang Orang dan sebagainya. Mendukung disini bisa berupa dukungan moril maupun materil dalam kegiatan-kegiatannya; seperti para orang tua jangan ragu dan membolehkan anak-anaknya bergabung belajar dalam sebuah kelompok seni tradisional, tentu dengan tidak menganggu tugas utama si anak tersebut sebagai siswa atau pelajar.

*

Terakhir Joko Tingkir berpesan kepada komunitas/kelompok seni tradisional yang masih ada untuk kreatif, inovatif agar tetap bertahan dan lebih maju. Selain itu, kelompok atau komunitas yang ada harus menjalin komunikasi satu dengan yang lain agar kompak dalam berjuang melestarikan budaya bangsa, entah bagaimana caranya yang pasti dengan sekuat tenaga dan mudah-mudahan cita-cita luhur itu bisa selalu terwujud.

“Agar seni tradisional yang digeluti ini juga menarik bagi generasi milenial maka ajaklah mereka untuk mau bergabung tapi tidak dengan paksaan. Latih, kenalkan tari-tarian dan semua materi yang ada dengan semenarik mungkin. Ikuti perkembangan jaman sehingga kita tidak lagi di cap kuno. Karena hanya dengan cara tersebutlah warisan budaya ini akan selamat dari kepunahan,”pungkasnya. *

SUKIR ANGGRAENI

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut