Sambut Kedatangan Jokowi, Aktivis di Sigi Bagikan Selebaran

Ilustrasi Mahasiswa bagi selebaran

Menyambut kabar kedatangan Presiden Joko Widodo yang direncanakan akan berkunjung ke Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal (GNP) 33 UUD 1945 Kabupaten Sigi menggelar aksi bagi-bagi selebaran kepada masyarakat, Selasa (6/1), di Bundaran Tugu Pemekaran Kabupaten Sigi, Jalan Karanja Lembah. 

Dalam selebaran yang dibagikan, mereka mengajak semua warga masyarakat untuk  bersatu dan bergabung dalam  GNP 33 UUD 1945, agar bumi, air, dan kekayaan alam dikelola oleh negara, untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat.

Ketua Serikat Tani Nasional (STN) Kabupaten Sigi, Zabir, menjelaskan, persoalan pangan akan menjadi ancaman besar bagi masyarakat di Kabupaten Sigi, jika tanah, air, dan sumber alam, tidak terkontrol oleh rakyat. Menurutnya, banyak tanah-tanah produktif untuk kepentingan pangan, seperti tanah, sawah, dan kebun, telah beralih fungsi menjadi area permukiman dan pembangunan perkantoran pemerintah.

“Tanah, sawah produktif yang sudah dikuasai warga bertahun-tahun di Desa Maku, Kecamatan Dolo misalnya, kini telah beralih fungsi menjadi komplek perkantoran pemerintah,” kata Zabir.

“Belum lagi rencana pengolahan air dari sungai Saluki di Gumbasa yang akan diserahkan pada pihak swasta untuk mengairi kepentingan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Palu,” tambahnya. 

Menurut Zabir, Kabupaten Sigi, mempunyai tanah yang cukup subur, kekayaan alam yang berlimpah dan mata air yang tidak pernah kering, potensi tersebut harusnya dimanfaatkan dan diolah oleh negara sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk kemakmuran rakyat.

“Jika pengelolaannya diserahkan ke swasta, tidak dilakukan oleh negara, maka kebutuhan air untuk sawah-sawah petani akan mengancam pangan di sigi,” Ujar Zabir.

Dalam aksinya, mereka juga menuntut Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, untuk membangun irigasi dan pengelolaan air untuk mengairi sawah-sawah petani dan meminta pemerintah untuk menghentikan segala bentuk perampasan dan penyerobotan tanah-tanah produktif yang dikuasai rakyat tanpa ganti rugi.

Selain itu, mereka juga menolak rencana penghapusan gaji 13 bagi para pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Polri yang sudah menjadi wacana luas dan meresahkan para abdi negara tersebut.

Aksi berlangsung lancar, tanpa penjagaan aparat kepolisian setempat. Namun demikian, beberapa personel dari satuan intel dan keamanan Polres Sigi tetap memantau jalannya aksi yang hanya berlangsung kurang lebih 1 jam.

Rudi Astika 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut