‘Sabotase’ Listrik Di Venezuela

Venezuela.jpg

Hampir 70 persen wilayah Venezuela, pada hari Selasa (3/9/2013) malam, tiba-tiba ‘gelap-gulita’. Kejadian itu menciptakan kepanikan dan gangguan lalu lintas di kota Cacaras.

Menteri Kelistrikan Venezuela, Jesse Chacón, muncul di Televisi untuk menjelaskan penyebab pemadaman itu. Menurutnya, pembangkit listrik di wilayah Bajo Caroni, yang memasok 60 persen listrik Venezuela, mengalami gangguan.

Melalui akun Twitternya, Presiden Nicolas Maduro menyatakan 14 dari 23 negara bagian di Venezuela terkena mati listrik. Menurutnya, berhentinya pasokan listrik yang tidak wajar itu sebagai aksi sabotase. Ia pun menunjuk oposisi sayap kanan sebagai pihak yang bertanggung-jawab.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Menurut Maduro, sabotase pasokan listrik itu merupakan bagian dari perang level rendah yang dilancarkan oposisi untuk menghentikan Revolusi. Tetapi Maduro tidak menjelaskan secara detail bukti dan bentuk sabotase dimaksud.

Sebaliknya, pihak oposisi sayap kanan juga berkelik. Mereka menyalahkan belanja negara yang jutaan dollar kepada orang miskin sebagai penyebab krisis listrik. Bagi mereka, belanja yang terlalu besar untuk kaum miskin itu menyebabkan investasi untuk infrastruktur listrik berkurang.

Tetapi, tudingan oposisi itu dibantah pemerintah. Bagi pemerintah, sejak pemerintahan Chavez hingga sekarang, konsumsi listrik di Venezuela meningkat sangat pesat. Penyebabnya, kebijakan ekonomi yang pro-rakyat telah membuat kaum miskin bisa mengakses listrik untuk kehidupan mereka.

Selain itu, sejak nasionalisasi perusahaan listrik di tahun 2007, pemerintahan Chavez gencar melakukan investasi untuk pembangunan infrastruktur dan perluasan jaringan listrik di Venezuela.

Ancaman Pembunuhan

Sebelumnya, pihak berwenang di Venezuela sudah mengumumkan adanya rencana kelompok ultra-sayap kanan yang ingin membunuh Presiden Nicolas Maduro.

Menteri Dalam Negeri Venezuela, Miguel Rodriguez Torres, mengungkapkan bahwa sejumlah pihak di Venezuela, Amerika Serikat, dan Kolombia terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut.

Rodriguez juga memberitahukan, pada tanggal 15 Agustus lalu, dua orang warga Kolombia ditangkap di sebuah hotel di negara bagian Miranda. Dari tangan keduanya disita dua buah senapan, laser penglihatan, 10 seragam tentara Venezuala, dan foto Presiden Nicolas Maduro dan Presiden Majelis Nasional Diosdado Cabello.

Pihak intelijen Venezuela (SEBIN) sedang mencari orang Venezuela bernama Carlos Salcedo, yang dipercaya terlibat merancang pembunuhan dan menyuplai senjata kepada dua orang Kolombia.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut