Rusia Selidiki Insiden Tenggelamnya Kapal Perang Cheonan

Rabu, 16 Juni 2010 | 22.39 WIB | Dunia Bergerak

SEOUL, Berdikari Online: Utusan tinggi Rusia di Seoul pada Rabu menyatakan bahwa tim penyidik Rusia membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu untuk menyimpulkan penyebab tenggelamnya kapal perang Cheonan milik Korea Selatan (Republik Korea-RK) pada 26 Maret lalu.

Rusia memulai penyidikan independennya sendiri sejak 31 Mei untuk menguji temuan penyidikan multinasional yang menyalahkan Korea Utara (Republik Demokratik Rakyat Korea – RDRK) atas insiden yang menewaskan 46 awak kapal perang tersebut.

Duta besar Rusia untuk Korea Selatan, Konstantin Vnukov, menekankan pentingnya mengungkap penyebab sebenarnya dari tenggalamnya kapal tersebut dan mengidentifikasikan dengan penuh kepastian pihak yang bertanggung jawab.

Pernyataan ini menyusul upaya diplomatik kedua negeri Korea yang bertikai itu di Dewan Keamanan PBB.

Korea Selatan telah secara resmi meminta Dewan Keamanan PBB untuk mempertimbangkan tindakan yang “pantas” atas insiden tersebut.

Namun, Sin So Ho, Duta Besar RDRK untuk PBB pada Selasa lalu mengatakan bahwa penyidikan pihak Korea Selatan adalah rekayasa.

Sin memberi contoh, Republik Korea menghadirkan bagian belakang torpedo sebagai “bukti material” serangan torpedo RDRK

Namun, sejak tenggelamnya kapal tersebut, sejumlah kapal AS dan Korea Selatan yang dilengkapi perangkat deteksi yang sangat canggih tidak menemukan bukti material apa pun meskipun melakukan pencarian intensif selama 50 hari di tempat kejadian, demikian penjelasannya.

Lalu “tiba-tiba muncul kapal nelayan, dan ia mengklaim telah menemukan sisa torpedo sepanjang 1,5 meter hanya lima hari sebelum pengumuman ‘hasil investigasi’ itu.”

“Bila seseorang melakukan serangan secara rahasia, maka ia tidak akan meninggalkan jejak. Inilah pemahaman dan pengetahuan yang sudah umum,” katanya.

Lagipula, “para ahli memandang bahwa tulisan [di tubuh torpedo] tidak dapat tersisa karena tingginya suhu ledakan torpedo,” katanya.

Menurutnya, Amerika mengambil keuntungan terbesar dari seluruh insiden ini, dengan menggunakannya untuk mengonsolidasikan koalisi antara Korea Selatan, Jepang, dan AS.

Mantan Perdana Menteri Jepang yang mengundurkan diri, Yukio Hotoyama, mengatakan bahwa Cheonan adalah “faktor kunci” di balik keputusannya untuk menerima penolakan AS terhadap pemindahan pangkalan militernya di Jepang.

Sin menambahkan, waktu pengumuman investigasi tersebut pada 20 Mei adalah penting, karena pemilihan lokal di Korea Selatan dimulai pada hari itu.

Diplomat RDRK tersebut mengulangi permintaannya agar Pyongyang mengirim tim penyidikannya sendiri untuk kasus ini.

“Bila Dewan Keamanan secara resmi memperdebatkan kasus ini hanya dengan “hasil investigasi” unilateral dari Selatan tanpa verifikasi dari RDRK, yang jadi korban, itu artinya Dewan Keamanan mendukung salah satu pihak yang bertikai dan menyingkirkan lainnya,” katanya.

Claude Heller, dubes PBB dari Meksiko yang menjadi Presiden Dewan Keamanan untuk bulan ini, menyatakan pada Senin lalu, bahwa Dewan Keamanan hingga saat ini belum mengambil kesimpulan dan masih akan berkonsultasi terkait insiden ini.

Sementara itu, hari ini Angkatan Laut Korea dan AS sepakat mempererat kerjasama menghadapi serangan laut dari RDRK, sebagaiaman dilaporkan oleh lokal media yang mengutip pernyataan para perwira angkatan laut. (Yonhap/Xinhua)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut