Romantik Revolusi ala Sukarno

“Tiada Revolusi dapat benar-benar bergelora, kalau Rakyatnya tidak menjalankan Revolusi itu dengan anggapan Romantik.” (Bung Karno, Taviv, 1964).

Apa yang anda bayangkan tentang revolusi yang romantik?

Jangan bayangkan dua sejoli saling mengumbar asmara di sebuah tempat sepi yang diterangi lilin, sambil ditemani gesekan biola. Juga bukan kisah perjuangan yang dibumbuhi roman percintaan. Atau cinta yang bersemi saat aksi massa.

Romantik revolusi punya pengertian yang lain. Bung Karno memberi contoh beberapa aksi-aksi revolusi yang romantik: “Danton pergi ke guillotine dengan rasa romantik, Rizal pergi ke tempat eksekusi dengan rasa romantik, pejuang-pejuang Rusia menggempur musuh di Stalingrad dengan rasa romantik, Rakyat R.R.T. dalam jumlah berjuta-juta sebagai semut menundukkan sungai Yang Tse Kiang dengan rasa romantik.”

Di sini, romantik terkait dengan sikap manusia revolusi: siap berkorban, bahkan menjemput maut, dengan perasaan terharu dan bahagia. Tidak ada lagi rasa takut, gentar, apalagi menyerah. Manusia revolusi siap mengorbankan hidupnya demi membayar tercapainya cita-cita revolusi.

Muncul pertanyaan, kenapa bisa demikian?

Atau, sebelum menjawab itu, mari kita lihat kejadian yang sederhana dulu. Misalnya, seorang atlet yang menyabet medali emas untuk negaranya pasti diliputi perasaan terharu. Atau seorang pemuda yang dilantik menjadi kadet, kendati akan diterjunkan ke medang maut, justru dihinggapi rasa bangga, terharu, dan bahagia.

Lagi-lagi, kenapa bisa demikian?

Pada titik itu, si atlet dan si kadet sedang melakukan perbuatan penting dalam hidupnya. Sebuah perbuatan yang berdampak bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga pada banyak manusia lainnya (bangsa dan kemanusiaan).

Pada titik itu, si atlet dan si kadet sadar akan diri dan keberadaan sosialnya. Dia sadar bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat sebuah bangsa dan dunia. Dan dia sadar, dirinya telah melakukan sesuatu yang berguna untuk masyarakatnya itu—sesuatu yang belum tentu dilakukan oleh manusia lainnya.

Begitu juga dengan manusia revolusi. Dia sadar akan diri dan keberadaan sosialnya. Dia merasa terikat dengan masyarakat yang melingkupi dirinya. Dia punya cita-cita untuk dirinya dan masyarakatnya. Dan ketika masyarakatnya itu terancam, atau bahkan ditindas, maka dirinya merasa memikul kewajiban untuk berjuang membela masyarakat dan cita-citanya.

Karena itu, seseorang bisa menghayati romantik-nya revolusi, hanya jika: pertama, dia sudah mengatasi ambisi pribadinya; kedua, punya cita-cita yang kuat untuk kebaikan bersama (kepentingan umum); ketiga; punya militansi untuk memperjuangkan cita-cita politiknya; keempat, punya keteguhan dan kesabaran revolusioner untuk menghadapi pasang naik dan pasang surutnya perjuangan revolusi.

Pertanyannya, apakah seorang teroris fundamentalis yang punya nyali mengorbankan nyawa dalam aksi bom bunuh diri bisa dikatakan seorang revolusioner romantik? Tentu saja bukan. Sebab, seorang teroris fundamentalis belum mengatasi ambisi pribadinya. Sekalipun itu ambisi pribadi di alam lain: surga. Teroris fundamentalis bukan berjuang untuk kebaikan bersama.

Namun, bukan hanya manusia revolusi yang romantik, tetapi revolusi itu sendiri juga romantik. Pertama, revolusi merupakan pekerjaan besar kemanusiaan untuk menjebol masyarakat lama dan membangun masyarakat baru. Masyarakat lama adalah penindasan, ketidakadilan, dan tidak demokratis. Sedangkan masyarakat baru adalah kemerdekaan, keadilan sosial, dan demokrasi.

Kedua, Bung Karno menyebut revolusi sebagai rantai kejadian-kejadian memukul dan dipukul, menggempur dan digempur, menjebol dan membangun. Nah, rantai kejadian-kejadian memukul dan dipukul, menggempur dan digempur, menjebol dan membangun disebut sebagai “irama romantik-nya Revolusi”. Dan memang, hidup dalam revolusi itu seperti vivere pericoloso (hidup menyerempet bahaya).

Ketiga, dalam setiap revolusi ada gejolak perasaan manusia. Kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, tetapi kadang juga bersuara jerit-pedih. Situasi itu, bagi Bung Karno, tak ubahnya nyanyian atau simfoni dalam setiap revolusi.

“Dentamnya Revolusi, yang kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, kadang-kadang bersuara jerit-pedih, sebagai satu keseluruhan kita dengarkan sebagai satu nyanyian, satu simfoni, satu gita, laksana dentumnya gelombang samudera yang bergelora pukul-memukul membanting di pantai, kita dengarkan sebagai satu gita kepada Tuhan yang amat dahsyat,” seru Bung Karno.

Pertanyaannya lagi, kenapa revolusi harus dihayati secara romantik?

Sebab, menurut Bung Karno, rasa romantik itulah yang menjadi kekuatan abadi dari perjuangan. Rasa romantik itulah yang membuat orang tetap menegakkan kepala ketika berhadapan dengan pasang-naik dan pasang surutnya revolusi.

“Tiada Revolusi dapat tetap bertegak kepala, jikalau Rakyatnya tidak sedia menjalankan korbanan-korbanan yang perlu, dengan tegak kepala pula, bahkan dengan mulut bersenyum, karena menganggap korbanan-korbanan itu romantiknya Revolusi,” kata Bung Karno.

Mungkin, diantara kita, ada yang beranggapan bahwa romantik revolusi itu hanya berlaku dalam revolusi fisik/perjuangan bersenjata: penindasan dan musuh sangat nyata. Sedangkan sekarang, bentuk penindasannya sangat halus dan musuhnya pun abstrak.

Saya kira, selama masih ada keinginan membuat revolusi, dalam hal ini perjuangan menciptakan tatanan masyarakat adil dan makmur, maka romantik revolusi itu tetap dibutuhkan. Sekalipun bentuk perjuangannya lebih damai, seperti aksi massa dan perjuangan politik melalui pemilu.

Rudi Hartono, pemimpin redaksi berdikarionline.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut