Rizal Ramli: Bangun Jakarta tanpa Tangisan

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli mengeritik rencana Pemerintah DKI Jakarta menggusur pemukiman warga Bukit Duri, kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Menurut dia, penggusuran tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila. Apalagi, warga sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu dan rutin membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Kalau niatnya sesuai Pancasila ya harus manusiawi, jangan sok kuasa. Kita bisa bangun Jakarta tanpa tangisan,” kata Rizal saat menjadi pembina upacara di peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI di Bukit Duri, Rabu (17/8/2016).

Rizal menjelaskan, proyek normalisasi Ciliwung harusnya bisa dilakukan secara manusiawi, tanpa penggusuran. Sebagai solusinya, dia mengajukan konsep pembaruan kota atau urban renewal.

Pembaruan kota, lanjut Rizal, bisa dilakukan dengan membangun apartemen empat lantai bagi warga Bukit Duri. Dengan luas wilayah 2,3 hektare, masing-masing warga bisa diberi jatah lahan seluas 50 meter persegi untuk hunian.

Rizal kemudian mengkalkulasi, setelah apartemen dibangun, masih ada lahan sisa seluas 1,5 hektar, yang bisa dipakai untuk membangun taman atau tempat bermain.

Menurut hitungan Rizal, kalau pembangunan lahan itu ditenderkan ke swasta, maka Pemprov DKI Jakarta bisa meraup untung sebesar Rp 25 juta per meter persegi atau Rp 400 miliar.

“Uang itu bisa digunakan untuk pembangunan di Bukit Duri. Warga bisa dapat gratis, tidak perlu bayar uang sewa,” kata Rizal.

Solusi itu, ujar Rizal, lebih manusiawi ketimbang warga digusur dan direlokasi ke Rusun Rawa Bebek, Jakarta Timur. Selain lokasinya yang jauh dan di pinggiran kota, warga juga diharuskan membayar biaya sewa Rp 1,2 juta per bulan.

Di kesempatan yang sama, warga Bukit Duri mengajukan konsep mereka yang disebut “Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri” yang pernah disampaikan Joko Widodo saat menjabat Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 16 Oktober 2012.

Kampung Susun wahana lingkungan yang secara incremental komunitas warganya membangun unit-unit secara fleksibel pada struktur dasar yang telah terpasang. Di sini komunitas warga dapat lebih berperan aktif untuk menggali alternatif yang paling applicable dan acceptable, guna memperoleh suasana dan lingkungan kampung yang sesungguhnya.

Siti Rubaidah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut