Ribuan Buruh Perempuan Peringati Hari Perempuan Sedunia

Massa aksi dari Komite Aksi Hari Perempuan Sedunia saat menggelar aksi memperingati Hari Perempuan Sedunia di Jakarta (8/3/2013)

Meski sempat diguyur hujan deras, lebih dari 2000-an buruh perempuan tetap bersemangat memperingati Hari Perempuan Sedunia, Jumat (8/3). Mereka menagih janji pemerintah, termasuk Presiden, terkait perlindungan terhadap perempuan.

Mereka tergabung dalam Komite Aksi Hari Perempuan Sedunia. Sedikitnya 50-an organisasi tergabung dalam aliansi ini, diantaranya, Perempuan Mahardika, KSBSI, KSPI, KSPSI, FBLP, AJI, TURC, Pembebasan, Institut Perempuan, Kapal Perempuan, Migrant Care, Solidaritas Perempuan, dan lain-lain.

Komite Aksi Hari Perempuan Sedunia memulai aksinya sekitar pukul 13.00 WIB di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Lalu, setelah berorasi sebentar, massa aksi bergerak menuju Istana Negara.

Namun, dalam perjalanan ke Istana Negara, massa aksi menyinggahi sejumlah lembaga negara, seperti Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Informasi, dan Mahkamah Konstitusi.

“Sampai sekarang ini banyak perempuan yang jadi korban kekerasan, mendapatkan perlakuan diskriminasi di lingkungan dan di tempat kerjanya serta berbagai perlakuan buruk lainnya. Kami ingin menagih janji pemerintah terkait janji mereka melindungi perempuan,” kata Evi Permatasari, aktivis dari Sahabat Perempuan dan Anak Indonesia.

Tak hanya itu, kata Evi, kaum perempuan juga mengalami proses pemiskinan yang massif. “Itu karena masih kuatnya budaya patriarki, yang menghalangi perempuan berpolitik dan berkarya di ranah publik,” ujarnya.

Dalam tuntutannya, Komite Aksi Hari Perempuan menuntut pemerintah segera merealisasikan jaminan kesehatan murah dan massal bagi perempuan dan anak. Mereka juga menuntut melakukan pengawasan berlakunya affirmative action, antara lain, kuota 30% perempuan di parlemen.

“Bagi saya, kouota 30% perempuan di parlemen hanya salah satu bentuk perjuangan. Namun, yang lebih penting, perempuan yang punya kekuasaan tidak boleh memisahkan diri dari persoalan rakyat. Karena di dalamnya ada persoalan perempuan,” kata politisi perempuan yang juga anggota DPR, Rieke Diah Pitaloka, di sela-sela aksi.

Ia meminta semua kelompok dan organisasi perempuan untuk terlibat dalam perjuangan politik. Dengan begitu, perempuan punya ruang untuk memperjuangkan perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan secara lebih baik.

Tak hanya itu, Komite Aksi Hari Perempuan juga menyerukan perlawanan terhadap berbagai praktek yang merugikan buruh perempuan, seperti penangguhan upah, pemberangusan serikat pekerja, diskriminasi upah, kontrak kerja yang tak pasti, dan lain-lain.

“Perempuan banyak mengalami perlakuan diskriminatif di tempat kerja. Banyak hak pekerja perempuan, seperti cuti haid, cuti hamil, dan cuti melahirkan, tidak diberikan oleh pengusaha,” ujar Yanti, seorang buruh dari Bekasi, Jawa Barat.

Selain Komite Aksi Hari Perempuan Sedunia, peringatan Hari Perempuan Sedunia di depan Istana Negara juga digelar oleh Front Perjuangan Rakyat (FPR). FPR juga mengusung isu penghentian praktek kekerasan terhadap perempuan.

Di depan istana negara, ribuan buruh perempuan dan aktivis perempuan menggelar orasi politik. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan pembuatan mural.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut