Revolusi, Perempuan Dan Keberanian

Sejak di halaman awal Novel Larasati,  ditunjukkan sikap yang tak ragu untuk bertempur  menghadapi penjajah asing: “..tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. Aku akan main film yang ikut menggempur penjajahan.” Tokoh utamanya, yang bintang film, seakan mau berkata bahwa film adalah alat revolusi yang penting dan mendesak.

“Kau seniwati. Jelek-jelek aku seniman juga. Kalau Revolusi menang, kau akan dengar namaku sebagai seniman, sebagai pengarang. Aku banyak dengar tentangmu. Kau bisa berjuang lebih baik dengan senimu…Kau memang hebat (h. 23)

Keberanian melawan penjajahan asing ini tampak menjadi refrain dalam novel ini yang alurnya berjalan lurus dari awal sampai menang dengan selingan kecil masa lalu Larasati sebagaimana peribahasa: berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Dengan begitu keberanian adalah hasil dari latihan, praktek dan dukungan terus-menerus, bukan sekadar pemahaman teori saja. Larasati yang diawal merenungi: “Kalau aku lelaki, aku bakar seluruh perkampungan artileri ini. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia menyesali kelahirannya sendiri sebagai wanita. Kalau aku lelaki — aku bisa berbuat banyak.” Tetapi di bumi penjajahan, yaitu daerah pendudukan Belanda di Jakarta, Larasati justru semakin didorong untuk menjadi berani oleh keadaan dan juga pemimpin muda belasan tahun yang gugur dalam operasi malam mencegat patroli Belanda.

Judul Buku: Larasati Pengarang: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Lentera Dipantara Cetakan: 4, Maret 2009 Jumlah Halaman: 180; 13 x 20 cm
Judul Buku: Larasati
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 4, Maret 2009
Jumlah Halaman: 180; 13 x 20 cm

“Kau tidak takut lagi, bukan? Jawablah.”

Tak ada sesuatu apapun yang dapat dikatakan oleh Larasati selain menggeleng. “Tak perlu takut. Kau harus mendendam. Kita perlu dendam.” Dan ia tak bicara lagi…

Seperti hujan disentakkan dari langit, Larasati menggigil, menjerit. Anak itu mati. Ia baru mengenalnya namun tiada ternilai cintanya padanya. Begitu cepat datangnya cinta itu. Cinta untuk pertama kali dalam hidup. Beberapa jam yang lalu pemuda itu masih dianggapnya sebagai benggolan pembunuh. Ah, anak semuda itu. Sepuluh atau sebelas tahun lebih muda dari diri dan tubuhnya sendiri. Kalau umurnya panjang, aku rela melakukan segala perintahnya. (h. 107-108)

Nenek tetangganya pun turut memberanikan:

“..Kalau mesti terjadi sesuatu, hadapi dengan berani. Kau belum pernah dengar si Ma’in, itu ayah anak yang semalam gugur. Dia mati setengah tahun yang lalu, waktu menyerbu tangsi. Dia selalu bilang pada anak-anak itu: “Kalau mati dengan berani; kalau hidup, hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada — itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” (121)

Jatuhnya Yogya, sebagai ibu kota Republik, ke tangan Belanda pun dianggap sebagai tiadanya keberanian dan tiadanya konsistensi antara ucapan dan tindakan para pimpinan.

“Pura-pura! Belum apa-apa sudah kibarkan kain kafan! Mereka belum lagi kelaparan! Mereka belum lagi lecet! Kacuak-kacuak busuk yang cuma pintar pamorkan belangnya sendiri itu! Apa katanya dulu? Masing-masing mau pimpin perang gerilya! Dengan senjata apa saja: pacul, linggis, arit, golok, tombak, bamburuncing, ayoh, siapkan semua! Apa sekarang? Ternyata orang lama menyelamatkan dirinya sendiri-sendiri di bawah bendera kain kuburan! Mayat-mayat yang pandai sorak itu! (h. 134) Kritikan semacam ini juga bisa ditemui pada Petualang Trisnoyuwono (h. 287-288) dan juga pada karya yang dianggap kontra revolusi:” tanpa nama, domba-domba revolusi”, novel B. Soelarto, terbit tahun 1964 oleh n.v. Nusantara. Sebelumnya, tahun 1961 tampil dalam bentuk Drama dan mendapatkan hadiah sastra dari Majalah Sastra sebagai lakon terbaik.

“Perdjoangan kemerdekaan tidak mengenal menjerah, tidak mengenal kompromi! Tapi bapak sebagai seorang pemimpin, kini malah mau menjerah, mau kompromi. Bagaimana sih bapak ini!

aku sudah terlandjur dibakar api-semangat para pemimpin. Banjak djanji kesanggupan mereka. Untuk kalau perlu ikut langsung terdjun ke medan bersenjata. Nah, sekarang kesempatan itu terbuka.

Bitjara bapak memang tjukup diplomatis. Maaf djika aku terpaksa harus mengatakan bahwa sikap bapak-bapak ini adalah sikap bantji! Sikap egoistis! Ja, aku tau betul bahwa bapak-bapak hanja mau melarikan diri dari segala resiko, semata-mata hanja untuk mengedjar keselamatan diri pribadi sadja. (B. Soelarto, Tanpa Nama, domba-domba revolusi, n.v. Nusantara, 1964;68-71)

Walau Novel Larasati berlatar perang mempertahankan  Kemerdekaan atau  Republik Indonesia, 1945-1949, novel Larasati baru ditulis atau diumumkan tahun 1960 sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Bintang Timur/Lampiran Budaya LENTERA dari 2 April 1960 – 17 Mei 1960. Latar politik dari tahun diumumkannya Larasati adalah  semakin kencangnya tuntutan untuk menyelesaikan revolusi nasional: merdeka penuh atau merdeka 100 % dan pasca dibatalkannya perjanjian KMB secara sepihak oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Pembatalan dilakukan karena hasil-hasil KMB dianggap memberatkan Negara Republik muda kita seperti misalnya harus “mengambil alih hutang Hindia Belanda sebanyak 4.300.000.000 Gulden” sebagaimana dikisahkan Rosihan Anwar dalam Kisah-Kisah Zaman Revolusi, terbitan Pustaka Jaya

Mengenai KMB novel Larasati ini bersikap:

“Perundingan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan agung di dalam hati mereka. Konferensi Meja Bundar! Di sana-sini terdengar ejekan: Itulah kalau orang cuma pura-pura jadi revoluisioner! Banteng-banteng sudah kehilangan tanduknya, jadi banteng dungkul; sudah kehilangan otaknya! Singa tua ompong pun tak dapat dikalahkannya! Ha? Mana bisa Revolusi kalah, kalau jiwa revolusioner sendiri tidak patah? Orang lain lagi membela: ini hanya taktik bukan strategi! Ah-ah, mana bisa orang selalu ambil taktik kompromi dengan musuhnya, sampai akhirnya dirinya sendiri tidak ada?! Yang ada tinggal komprominya?!” (h. 173-174)

Sikap terhadap KMB dalam novel ini tampak sama dengan Novel Petualang karya Trisnoyuwono yang tahun diumumkannya hampir sama dengan Larasati. (Baca juga: Petualang, Trisnoyuwono, Sinar Harapan, Jakarta, 1981; 292-296). Petualang pertama kali muncul sebagai cerita bersambung dalam harian Pikiran Rakyat Bandung dengan judul Si Anak Hilang. Setelah mengalami perubahan-perubahan, dimuat dengan judul yang sama dalam majalah Trio pada tahun 1960. Setelah diadakan perbaikan-perbaikan beruntun, muncul dengan judul Petualang dalam majalah Djaja dan Purnama. Tahun 1981 diterbitkan Sinar Harapan dengan judul Petualang sementara Larasati karena hambatan politik baru terbit sebagai buku tahun 2000 oleh Hasta Mitra.

Sikap Petualang terhadap KMB bisa diringkas dengan umpatan: “Persetan penyerahan kedaulatan!!” oleh Herman tokoh utama novel Petualang ketika KMB itu ternyata tidak menjamin masa depan dan keselamatan hidupnya. Ia pun lari dari tahanan Belanda. Kisah yang sama dalam dunia politik nyata dikisahkan oleh Soemarsono: “Pada tanggal 13 Desember 1949 saya melarikan diri bersama yang membebaskan saya, karena tidak ada kemungkinan saya akan dilepaskan. Pasukan Belanda penjaga penjara sebanyak satu peleton dilucuti oleh pasukan gerilya yang waktu itu memang butuh senjata. Bersama mereka saya muter-muter di daerah Jawa Barat. Itu terjadi sebelum “Overdracht” sebab overdracht baru terjadi tanggal 27 Desember 1949.” (Soemarsono, Revolusi Agustus, kesaksian seorang pelaku sejarah, Hasta Mitra, 2008; 179-182)

Dengan latar politik “Revolusi Belum Selesai” itulah tendensi politik Pramoedya Ananta Toer terhadap arah Republik yang sudah diperjuangkan kurang lebih 15 tahun itu tampak menonjol dan semakin berpihak dalam Novel Larasati ini. Pada Larasati, dengan tokoh perempuan yang cantik, molek dan jelita, seorang artis film populer yang pernah menikmati kemewahan hidup dan kemasyuran; disayang dan diharap banyak pihak ditampilkan tema yang radikal berpihak yaitu Revolusi itu sendiri dan perlunya Keberanian untuk menghadapi penjajahan asing penyebab derita berabad  baik tua ataupun muda, lelaki atau perempuan, bermoral baik atau pun tidak seperti pelacur misalnya.

“Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air.” (h. 12)

“Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda.” (h.13)

“Memang aku hanya seorang pelacur, tuan kolonel. Tapi aku masih berhak mempunyai kehormatan. Karena, aku tidak pernah menjual warisan nenekmoyang pada orang asing.” (h. 36)

“Bagaimana pun juga kotornya namaku, aku akan tetap dapat berguna. Kotor? Tiba-tiba ia memberontak terhadap dirinya sendiri. Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi karenanya.” (h. 44)

Bung Karno pun tidak ragu-ragu bekerja sama dengan para pelacur atau sundal menurut Ali Sastroamidjojo  dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Partai Nasional Indonesia.

“Dalam gerakan PNI ku di Bandung terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota jang paling setia dan patuh daripada anggota lain jang pernah kuketahui. Kalau menghendaki mata-mata jang djempolan, berilah aku seorang pelacur jang baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini.” (Baca juga: Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Cindy Adams, Gunung Agung,Djakarta, 1966;111-115)

Revolusi sebagai tema berulang kali diucapkan Larasati. Betapa penting dan perlunya Revolusi untuk perubahan dan kemajuan umat manusia. Tanpa revolusi tak akan ada kemajuan.

“Ia tidak pernah belajar, tidak pernah mempelajari sesuatu pun. Mengapa aku sekarang dapat mengerti semua ini? ..Siapa yang gurui?

‘Revolusi,’ Ara menjawab. Dan sesungguhnya, ia dapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri: Rervolusilah gurunya selama ini. Hanya sang Revolusi yang agung ini…Revolusi melingkupi pengalaman puluhan abad. Revolusi melingkupi buku ribuan jilid.”

“Hanya Revolusi yang menentukan.”

“Kau tidak seperti dulu, Ara.”

“Tentu saja tidak. Apa gunanya Revolusi kalau tidak bisa mengubah aku?”

“Kau singa garang.”

“Di bumi penjajahan ini.”

“Kau bakal mati kelaparan.”

“Tidak, selama Revolusi menggelora.”

“Kau mata-mata Republik.”

“Setidak-tidaknya bukan anjing orang asing.”

Dan melalui mulut Chaidir, penyair yang bersemangat,  semua sektor diundang untuk terlibat dalam kerja-kerja revolusi.

” ‘Sandiwara?’ kata perdana menteri,’apa yang bisa diperbuat sandiwara dalam masa orang tidak membutuhkan seni apapun juga sekarang ini?’

Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri,’Dalam keadaan bagaimanapun setiap orang membutuhkan segala-galanya. Berikan apa yang mereka butuhkan. Tapi jangan padamkan api Revolusi. Berikan minyak pada api itu!’

Dan karena kata-katanya ini, sandiwara berkembang cepat laksana api di tengah-tengah padang rumput kering. “(h. 137 Lihat juga halaman 26)

Sebagai perempuan dan seniwati, Larasati pun merasakan bagaimana Revolusi tidak digerakkan menyeluruh: ” Kadang-kadang memang terasa olehnya bahwa heroisme dan patriotisme wanita di jaman Revolusi ini terletak pada kepalang-merahan saja! Tapi ia takkan meninggalkan kejuruannya. Ia cintai kejuruannya. Dan ia yakin melalui kejuruannya ia pun dapat berbakti pada Revolusi. Ia merasa dirinya pejuang, berjuang dengan caranya sendiri. (h. 26)

Dengan caranya sendiri itu, “Ia…telah mainkan cerita-cerita perjuangan dan hiburan di tempat-tempat yang sama sekali tidak penting di masa damai, biarpun tidak ada di peta bumi tempat dia bermain! Tidak ada pengagum, tidak ada pemuja, tidak ada honorarium barang sepeser — cuma makan nasi keras dan ikan asin, dan transpor di atas truk yang berdesak membanting-banting! Kadang-kadang tepuk-tangan pun tidak — karena penduduk dusun belum biasa bertepuk tangan, lebih biasa menerima segala diam-diam dengan hatinya.” (h. 26)

Dengan caranya sendiri itulah, ia pun dapat menyelesaikan tugas untuk menemukan pejuang yang lenyap tanpa kabar sekaligus membantu simpatisan Republik di daerah pendudukan untuk berjuang bersama di daerah Republik (h. 22, 61, 125) Larasati pun  bertemu dengan pejuang wanita yang dipenjarakan: Turinah namanya. “Wanita…berwajah pucat. Mukanya lebar, pendek, berbaju dan bercelana militer. Waktu melihat Larasati nampak ia sangat terkejut tapi segera menunduk. Juga Larasati sendiri terkejut. Ia pernah melihat wajah itu, di Yogya, belum beberapa bulan berselang. Mungkin salah seorang peminta otograf. Ia pun menunduk dan dengan sopan pelan-pelan menutup pada pintu selnya. (h. 58)

Membaca Larasati, Anda akan diagitasi agar Anda berpihak pada Revolusi dan diyakinkan bahwa revolusi pasti menang sebagaimana juga lagu perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru:

“Rakyat pasti menang. Pasti menang. Pasti Menang.”

“Revolusi tidak pernah kalah. Setiap kekalahan yang dideritakannya tidak lain dari kemenangan koruptor. Revolusi selalu menang!” (h. 134)

Pun sampai pada hari ini.

Kota Bumi, 31 Agustus 2014

AJ SUSMANA, pengurus Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD); penggiat di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut