Revolusi Olahraga Di Venezuela

Chavez-tinju

Sebelum Chavez berkuasa tahun 1999, sepak Bola Venezuela sama sekali tidak diperhitungkan. Di peringkat FIFA saat itu, Venezuela hanya bercokol di urutan 110. Namun, sejak tahun 2012 ini, peringkat Venezuela sudah di 40.

Tahun 2011 lalu, di perhelatan Copa America, Timnas Venezuela membuat kejutan besar. Gabriel Cichero dan kawan-kawan berhasil membawa Venezuela ke semi-final setelah menghempaskan Chile 2-1. Inilah pertama kalinya sepak bola Venezuela menembus semi-final Copa America.

Olahraga Venezuela memang sedang bangkit. Tak hanya sepak bola, Venezuela juga mulai merajai baseball, softball, dan judo. Di ajang South American Games, atlet-atlet Venezuela merebut medali di berbagai cabang olahraga, seperti panahan, bolan volley, softball, belah diri, dan bowling. Lalu, di Olympiade Beijing tahun 2008, kontingen Venezuela membawa 110 pemain—jumlah tertinggi dalam sejarah negeri itu.

Sebelum Chavez berkuasa, olahraga Venezuela diabaikan. Atlet-atlet Venezuela tidak mendapat penghargaan berarti. Lalu, investasi pemerintah untuk pembangunan olahraga juga sangat minim. Sarana dan fasilitas olahraga dikuasai oleh pihak swasta dan susah diakses oleh rakyat.

Di era neoliberal, olahraga menjadi sesuatu yang ekslusif. Banyak pusat-pusat olahraga dihancurkan dan diganti pusat bisnis. Dan, kalaupun ada yang dipertahankan, maka pengelolaannya sudah sangat bisnis. Kepentingan korporasi juga sangat kuat mencengkeram olahraga Venezuela.

Alhasil, begitu berkuasa tahun 1999, perjuangan pertama Chavez adalah mendemokratiskan olahraga. Dan, di dalam konstitusi Bolivarian 1999, olahraga dinyatakan sebagai hak konstitusional rakyat. Dikatakan, setiap orang berhak atas olahraga sebagai jalan meningkatkan kualiatas hidupnya.

Presiden Chavez, seperti Soekarno di Indonesia, sangat menyadari, bahwa olahraga bisa menjadi alat membangun mental suatu bangsa. Olahraga menjadi pelajaran wajib di sekolah negeri dan swasta. Dana sebesar 1,6 juta dollar AS digelontorkan untuk mendanai pendidikan jasmani di sekolah-sekolah.

Di tahun 2006, Chavez menggelontorkan dana 7 juta dollar AS untuk memperbaiki fasilitas olahraga. Kemudian, hampir 5 juta dollar AS untuk mendanai program olahraga di sekolah dan komunitas-komunitas.

Untuk mendemokratiskan olahraga, Venezuela berjuang agar seluruh fasilitas olahraga bisa diakses oleh rakyat tanpa pandang bulu. Bersamaan dengan itu, cara-pandang rakyat terhadap olahraga juga diubah: tidak lagi melihat olahraga sebagai pertandingan atau kompetisi untuk saling mengalahkan, tetapi sebagai alat menjalin persaudaraan, persahabatan, dan solidaritas.

Dengan dukungan orang-orang Kuba, Venezuela berhasil memassalkan olahraga bagi rakyatnya. Olahraga dihadirkan di jalan-jalan, komunitas, taman, sekolah-sekolah, dan lain-lain. Rakyat Venezuela juga didorong melakukan aktivitas olahraga apapun, baik olahraga fisik maupun olahraga otak. Kegiatan ini sejalan dengan misi Barrio Adentro Sport, yang telah melibatkan 9 juta orang (34,6% dari populasi) untuk terlibat dalam kegiatan olahraga sehat di komunitas.

Tak hanya itu, Venezuela juga berusaha membangkitkan olahraga-olahraga tradisional yang nyaris punah. Orang-orang Venezuela sadar, bahwa beberapa jenis olahraga modern, seperti Kriket, justru dibawah oleh kolonialisme Inggris di Amerika Latin sebagai alat dominasi.

Kemudian, sejak Agustus 2011 lalu, Venezuela menciptakan UU olahraga yang baru. UU baru ini makin menegaskan upaya pemerintah Venezuela untuk mendemokratiskan olahraga dan mengatur keterlibatan industri di dalam olahraga.

Menariknya, proses pembuatan UU ini melibatkan para atlet. Dalam proses penyusunan draft, para atlet diminta berkontribusi dan memberikan masukan. Mereka juga terlibat dalam memperdebatkan draft RUU sebelum disahkan. Bandingkan dengan Indonesia, dimana atlet tidak pernah terlibat dalam proses penyusunan kebijakan di bidang olahraga.

UU ini juga menjamin keterlibatan atlet dan pelatih olahraga Venezuela dalam Federasi Olahraga Venezuela. Di Indonesia, Federasi Olahraga banyak dikuasai oleh bekas pejabat militer, birokrat, dan petinggi partai politik. Lalu, UU olahraga Venezuela memastikan setiap olahragawan menerima jaminan sosial.

Partisipasi perempuan juga makin besar dalam kegiatan olahraga. UU olahraga Venezuela menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam mengakses olahraga tertentu.

Olahraga telah mengambil peranan penting dalam Revolusi di Venezuela. Chavez bersikeras, bahwa revolusi harus mensosialisasikan olahraga bagi seluruh rakyat dan menjadi alat utama dalam pembangunan manusia baru.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut