Revolusi Bolivarian Di Ujung Tanduk?

Pengumuman terbaru Dewan Pemilihan Nasional (CNE) Venezuela cukup mengkhawatirkan. Saat ini koalisi oposisi sayap kanan, Democratic Unity Roundtable (MUD), sudah menguasai 107 kursi. Sementara dua kursi masih belum diumumkan.

Dengan posisi tersebut, MUD sudah menjadi mayoritas tiga per lima di parlemen. Sebaliknya, koalisi sosialis yang sedang berkuasa, Great Patriotic Pole (GPP), hanya menguasai 55 kursi parlemen.

Apa artinya itu?

Dengan kekuasan mayoritas tiga per lima di parlemen, MUD bisa menggulingkan Wakil Presiden dan Menteri-Menteri Kabinet. Mereka juga punya kekuasaan memberi atau tidak memberi kewenangan khusus kepada Presiden.

Proses penghitungan belum selesai. Koalisi oposisi MUD sendiri berharap bisa meraih 111 kursi atau super-mayoritas di parlemen. Nah, jika mereka bisa menjadi super-mayoritas di parlemen, MUD punya kekuasaan untuk mengadakan referendum untuk menjatuhkan Presiden.

Tidak hanya itu, dengan kekuasaan dua per tiga atau super-mayoritas, MUD punya kewenangan menunjuk dan memberhentikan hakim Mahkamah Agung. Bahkan mereka bisa menyerukan pembentukan Majelis Konstituante untuk menulis ulang atau merombak konstitusi.

Segera setelah pemilihan, oposisi sendiri sudah mengumbar rencana-rencana terdekatnya. Manuel Rodriguez, koordinator dari gerakan oposisi, mengatakan bahwa prioritas pertama mereka setelah penghitungan suara selesai adalah menjatuhkan Presiden Nicolas Maduro.

“Konstitusi memungkinkan kita dan kita akan melakukannya,” kata dia dalam sebuah konferensi pers, Senin (7/12/2015).

Padahal, masa jabatan Presiden Venezuela adalah 6 tahun. Seharusnya, jika tidak ada pemakzulan, masa jabatan dia baru berakhir tahun 2019 mendatang.

Disamping itu, MUD berencana memberikan amnesti terhadap 70-an orang aktivis sayap kanan yang dipenjara karena mendalangi kerusuhan pada tahun 2014. Salah satu yang dibebaskan adalah Leopoldo Lopez, pemimpin tokoh oposisi yang dijatuhi hukuman penjara 13 tahun karena menghasut aksi berujung kekerasan.

Rencana lainnya, seperti diungkap mantan calon Presiden dari sayap kanan Henrique Capriles, akan menciptakan sebuah badan untuk menyelidiki dan menginvestigasi pemerintahan partai sosialis (PSUV).

Tidak hanya itu, MUD berencana menggunakan Majelis Nasional untuk membongkar semua kebijakan dan regulasi yang dulu dibuat oleh pemerintahan sosialis. Salah satunya UU harga yang adil, yang dibuat untuk mengontrol harga barang kebutuhan pokok. Juga merombak UU Perburuhan yang melarang PHK buruh.

Tentu saja, dengan kekuasaan super-mayoritas di parlemen, oposisi sayap kanan punya kekuasaan luar biasa untuk mengobrak-abrik banyak program dan capaian dari revolusi Bolivarian.

Menghadapi ancaman itu, koalisi sosialis yang dimotori oleh partai sosialis (PSUV) tidak tinggal diam. Jorge Rodriguez, kepala kampanye sosialis, menyatakan bahwa partainya dan pendukungnya tidak akan mentolerir setiap upaya untuk membalikkan semua capaian revolusi Bolivarian.

“Pencabutan UU akan menyebabkan PHK pekerja. Kami tidak akan membiarkan itu. Di sini kami punya rakyat yang bermartabat, Presiden Chavistas, dan pemerintahan revolusioner yang siap melindungi rakyat,” terangnya.

Presiden Maduro sendiri sudah menyerukan diskusi dan debat untuk mempertajam strategi revolusi. Hari Selasa (8/12/2015), dia memanggil semua perwakilan partai dalam koalisi GPP untuk mengadakan pertemuan khusus.

Pada hari Sabtu (12/12) mendatang, dia menyerukan pertemuan Dewan Rakyat, sebuah badan yang berisi perwakilan buruh, petani, masyarakat adat, pemuda, mahasiswa, perempuan, dan lain-lain.

Kemudian, pada hari Rabu (16/12) mendatang, maduro akan memanggil seluruh wakil-wakil PSUV untuk bertemu dan mengevaluasi keadaan serta membuat rencana kedepan. Sedikitnya 900-an wakil PSUV akan hadir di pertemuan ini.

Sementara itu, organisasi-organisasi revolusioner yang bekerja di akar rumput menyerukan agar segera dimulai sebuah “opensif revolusioner” untuk memperdalam revolusi.

“Ini waktunya untuk meradikalisasi revolusi, untuk bekerja memastikan kemenangan baru, untuk memelihara warisan Presiden Hugo Chavez,’ kata Luciana Vazquez, seorang organiser komunitas di distrik Mamera.

Revolusi belum menyerah. Seperti dicatat oleh Federico Fuentes, seorang aktivis di Jaringan Solidaritas Australia-Venezuela, kekuatan revolusioner di bawah Presiden Nicolas Maduro masih punya kekuatan: 20 Gubernur, 240 Dewan Lokal, 1000 komune, 40.000 dewan komunal, ratusan ribu milisi Bolivarian, dan 5 juta rakyat Venezuela yang setia pada revolusi sosialis.

Jadi, perjuangan untuk Revolusi masih berlanjut!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut