Respon Soal Pendidikan, Aktivis Jember Buka Posko Pengaduan

Merespon momentum tahun ajaran baru 2013/2014 di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Sekretarian Jember Peduli Rakyat Miskin (Seknas Beras) membuka posko pengaduan, Jumat (12/7/2013).

Menurut Sapto Raharjanto, biro agitasi dan propaganda Seknas Beras, mengatakan, setiap tahun ajaran baru di Jember, orang tua murid selalu dipusingkan dengan mahalnya biaya pendidikan.

“Tahun lalu di Jember, biaya daftar ulang untuk penerimaan siswa baru di SMA/SMK Negeri rata-rata 1,5 – 2 juta rupiah. Sedangkan untuk DSP (Dana Sumbangan Pembangunan) atau uang gedung rata-rata 4 sampai 5 juta rupiah,” ungkapnya.

Ia memperkirakan, kondisi semacam itu akan kembali terjadi di Jember tahun ini. Hal tersebut dianggap akan sangat menyulitkan para murid dari latar-belakang keluar miskin.

“Hal ini haruslah menjadi keprihatinan kita bersama, dan hal ini haruslah kita suarakan sebagai suatu gerakan sosial bersama karena pendidikan merupakan sebuah proses kaderisasi suatu bangsa,” ujarnya.

Sapto juga mengeritik orientasi pendidikan yang makin mengarah ke neoliberalisme. Hal itu, katanya, telah membuat tujuan mulia pendidikan tenggelam dalam limbah-limbah industri kapitalis.

“Pendidikan menjadi mahal dan tidak berkualitas, dan hanya bertujuan mencetak peserta didik siap pakai bagi industri kapitalis,” kata Sapto.

Dalam seruannya, Seknas Beras menuntut agar komersialisasi pendidikan dihapuskan. Selain itu, mereka menolak segala bentuk pungutan liar yang memberatkan orang tua siswa. Tak hanya itu, Seknas Beras juga menuntut transparansi alokasi dana Pendidikan  baik dari APBN maupun  APBD Kabupaten Jember yang mengalir ke Dinas Pendidikan beserta penggunaan anggarannya.

Risal Kurnia

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut