Resensi: Tegak Kibarkan Jatidiri

Enampuluh lima tahun sudah pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Jaker merayakan dengan Festival Kemerdekaan, dikemas 8 mata acara, dan kali ini kita hadir dalam acara: Peluncuran Bedah Buku 2 Buku Puisi: “Kawan dan Berlawan” karya Dominggus Oktavianus & “Negeriku” karya Agus Jabo.

Agus Jabo, aktivis politik sejak zaman tirani totaliter militerisme Suharto dan bahkan sekarang, mudahan tidak salah, menjabat posisi orang pertama memimpin PRD. Sebagian besar puisinya mencetuskan interpretasi atas pengalaman langsung dan tanpa jarak terhadap suasana lingkungan. Keberadaannya fisikal terlibat langsung sebagai komponen dalam ceruk kreasi sepanjang proses kreatif teks puisi: “……./Aku bahan ranting kering di depan rumah/menghangatkan diri/sambil membenam ubi/dalam bara api/bapak ibuku/tertawa riang/dalam dinginnya hawa pegunungan/sambil menikmati kopi di tangan/……”(2009).

Puisi ini karya kesatu dalam “Negriku” diantara 41 sajaknya, terdiri dari 1 sajak tahun 2007, 10 sajak tahun 2008, 27 sajak tahun 2009 (termasuk 1 sajak di lembar gerbang buku) dan 3 sajak tanpa tarikh.

Memotret fisikal diri diantara suasana lingkungan alam dan suasana sosial tegas nampak juga pada “Pulang Sekolah”(2009), “Jika Malam Tiba”(2009),”Berburu”(2009),”Jika Hari Hujan”(-), ”Jika Kemarau Tiba”(-), “Waktuku”(2009). Episode-episode faktual suasana lingkungan alam dan suasana sosial sedemikian rupa setidaknya memancing pembaca akan tergugah terhadap situasi obyektif.

Potret dirinya diantara peristiwa (bukan suasana) sosial, lebih menggumuli kesadaran subyektifnya, dalam sajak “Barisan Ibu”, “Celah Kelambu”, “Untuk Kawanku”.

Misalnya “Untuk Kawanku”(2008) : “ awal tahun 98/aku dikrangkeng/sendiri/tanpa kawan/………. empat bulan/ aku disel isolasi/di kantor Polisi/tidak kena sinar matahari/ kenapa kamu menekan aku/untuk keluar dari garis ini?/tidak Kawan akan aku lewati jalan ini/sampai nanti”

Separuh karyanya pada tahun 2008 lebih memuat opini bergandeng impressi ataupun kontemplasi.

Kita simak  “Terapung” (2008): “nusantara/di tengah arus/pusaran/ekonomi dunia tanpa jangkar/ kompas/serta haluan/………./ditinggalkan/peradaban dunia/di dalam/rimba belantara”.

Hal yang sama “Gilimanuk-Ketapang”, “Nusantara”, “Tuban”, “Untuk Nanda di Aceh”, “Kawan”. Demikian pula satu-satunya karya 2007, berjudul  “Untuk Dominggus” : “ada dua srigala/di hati kita/Revolusi dan Cinta”. Demikian pula “Celah Kelambu”(2009), “Waktuku”(2009), “Lirih”(2009), “Sunyi”(2009), “Kampung-Kampung”, dll.

Sajak-sajak potret dan opini disebut diatas juga memuat sikapnya meski sebatas silhuet.

Karya- karya lainnya dalam antologi itu, bercorak mensubyektivisasi pendirian.

Tuntutan penting dalam proses kreatif. Kesadaran subyektifnya merupakan komponen dalam teks, antara lain “Pluit 1994”(-), dikutip sbb : “senja telah tiba/buruh/keluar pabrik/seperti barisan tentara/pulang bertempur tanpa senjata/mentari sembunyi di batas cakrawala/para tuan berkumpul/menghitung laba……….semangat mereka /sedang tertantang/hidup bagi mereka/ adalah berjuang” Demikian juga “Terjang” (2008): ”bangkitkan semangat di dada/ membara/ wahai semua anak bangsa/kepalkan tinju kita bersama/kita ayunkan derap langkah bersama…………..”

Segala  yang dikemas diatas adalah rangkain tehnis proses berkreasi bukan mengenai substansi kreasi dan bukan tehnik artistik. Dalam hal artistik puisi dapat ditelisik ada tidaknya anasir yang menggayut pada struktur fisik kreasi seperti musikalitas rima maupun irama, diksi, gaya bahasa (personifikasi, metafora,hiperbola), tipografi, citraan (visual, taktil, auditif, perasa, penglihatan) dll menggunakan majas, denotasi maupun konotasi, Kearifan-lokal Batak menyebut puisi menguhal (mengungkap kuat dan positif) energi kata-kata. Bahasa puisi sangat padat, seperti dimaksud Klara Akustia: kalimat puisi berisi formula (baca: konsepsi). Tinggi tehnik artistik jika tehnik dimaksud mempesona publik sehingga publik mengadopsi menjadi miliknya. Apalagi  jika adopsi berlangsung dalam waktu singkat. Kita tahu masyarakat menyimpan memori estetik berlimpah, diwarisi oleh zaman. Seloka, bidal, gurindam, pantun, umpasa (peribahasa), ujar-ujar, pasemon, disamping tehnik artistik modern, kontemporer, eksperimen, exigram, dll. Sajak Agam Wispi menguhal potensi rima pantun bercitra penglihatan, dalam “Berdebur Ombak Berdebur” (1964) : “Berdebur ombak berdebur/pulau Kayangan jauh ditengah/hancur hatiku hancur jika nelayan tidak berumah/……..” Dengan explorasi musikalitas yang lain yaitu jenis irama bercitra perasa, tampil elegan otonomi Toto Sudarto Bachtiar : “Sepuluh tahun yang lalu, dia terbaring/Tetapi bukan tidur sayang/sebuah lubang peluru, bundar didadanya/senyum bekunya mau berkata: kita sedang perang/…..” (“Pahlawan Tak Dikenal, 1960). Giyanto Subagio mahir  mendulang tehnik estetika konotasi seperti juga Agus Jabo pada kebanyakan sajaknya.

Giyanto Subagio memotret fakta “Hari-Hari Terakhir Mantan Tukang Sapu” :

“Engkong Hasan, engkau tidur di atas kardus/makan dan sehari-hari dari menjual kardus/waktu mati pun engkau dikafani di atas kardus……../Tuhan, semoga tak ada lagi orang yang mati sia-sia di jalanan/bagaikan bangkai seekor anjing kurapan/yang tergeletak di atas trotoar” (2008)

 

Otonomi proses kreativitas dimiliki penyair menata genre yang inklusif  bukan duplikat. Pilihan tehnik artistik si seniman merupakan kebebasan otoritas insaninya yang tentu waskita dengan tanggungjawab.  Diantara puisinya Agus Jabo, banyak bertehnik tutur “…../perang kolonial meletus di dunia/bumi nusantara kembali membara/tentara NICA bertekuk lutut tanpa daya/Dai Nippon menjadi penguasa diraja/pemimpin Asia Raya/nusantara/kembali berduka/lepas dari colonial/berpindah ke dalam kekuasaan laras senjata/……

”Rantai Kolonial I” (2009). Seberapa mampu tehnik itu menyingkirkan jarak teks dari publik, disitu peran artistik dikaji. Bambang Oeban dengan tehnik bertutur juga dalam “Bagaimana Indonesia”: “Ada terdapat pada buku sejarah dunia/tergores cerita tentang sebuah negeri/nasibnya penuh luka dan berdarah/itulah negeri kita, negeri Indonesia/Berabad-abad negeri ini/………Apalah maknanya/tetes darah terakhir para pahlawan/kalau hari ini masih banyak tukang sulap/ menyulap uang rakyat/jadi kekayaan pribadi/…..” (-) Kujumpa di Fb sosok Inu rajin menulis puisi, salah satu “Moyangku Pelaut” : “bahari sudah kau takluk/menjamah setengah dunia/ samudra kau kenal tingkahnya/genit ombak kau jinakkan/para camar berebut salam/dan badai teman setia perjalanan/gelombang kau belah,pecah/layarmu sampai kepelosok/bersatu nyawamu pada perahu/nusantara/nenek moyangku memang pelaut”

Model artistiknya dengan majas hiperbolik tegar diekspresikan dengan kata kata pilihannya.

Tidak mudah mengkontruksi tehnik sehingga kreasi menjadi milik publik, perseorangan maupun komunitas yang lebih mencerahkan batin, lebih mencerdaskan nalar atapun lebih membangkitkan spirit. Sebaliknya alangkah gampang menggubah ciptaan sehingga publik terengah-engah dan berkata “cape deh tak tahu apa maunya” meski telah lama mempelajarinya. Sementara itu puisi slogan, memang cepat terpahami, namun tidak serta merta mencerahkan karena durasi waktunya hanya sejenak di kepala kemudian reges, sebab tanpa getah terpulut ke hati.

Sebagaimana S.Sudjojono menyebut kreasi adalah “keto’ jiwa”, atau yang lain menyebut anak rohani, yang dibahasakan Rendra berwujud bentuk dan isi:  “…..kekuatan bentuklah yang bisa menjadi jembatan antara seniman dan publiknya………kekuatan yang bisa memuaskan publik dalam hal mutu adalah isi seni itu….”

Saya mengajak melesak ke pandangan Aristoteles tentang isi suatu karya cipta: “……bahkan puisi lebih filosofis dari pada sejarah………” dan pandangan Hegel: “…..selain filsafat tak ada yang lebih filosofis dari sejarah…….” Meski dua pendapat berbeda namun keduanya tidak menolak esensi filosofi dalam seni, hanya mempersoalkan  peringkat saja. (Agar tidak berhenti pada perkara keistimewaan puisi dan keistimewaan sejarah, sesungguhnya lebih penting mencari jawaban pertanyaan: Apa yang menggerakkan puisi sehingga berbuah filosofi, apa yang menggerakkan sejarah sehingga berbuah filosofi?)

Perdebatan dua filosofi itu menentukan bobot filosofi dalam isi seni, merangsang pertanyaan: berisi apa atau berhikmat apa puisi Agus Jabo? Juga apa basis filosofinya?

Hal yang menyangkut isi kreasi ialah isu nilai-nilai, isu tujuan dan isu identitas yang diguyubkan sang seniman melalui karyanya. Termasuk menghitung seberapa massif bobot masing-asing isu. Sepert kuat arus listrik dideteksi berapa amper, seandainya ada instrumen dan satuan tehnis pengukur bobot isu itu. Karena itu rasa dan nalar publik yang mengukurnya.

Agus Jabo seperti kita semua tahu dia salah satu pelaku sejarah reformasi yang menukilkan gagasan gagasan maupun  interpretasi atas fenomena-fenomena susul menyusul, bahkan saling tabrakan. Terutama masa rezim totaliter militerisme Suharto berkuasa, berlangsung gergasi pamungkas rezim orba, diantaranya terpenting depolitisasi mereduksi jatidiri. Pematung Dolorosa Sinaga pada pargelaran pameran “Pembawa Impian” tanggal 8 Maret 1995 di TIM, menampilkan karyanya “dua lelaki berbadan emas tanpa kepala” Persepsi kita memandang patung itu patut berkonteks Indonesia.

Tanpa kepala, fantasi Dolo Rosa itu dahsyat atas personifikasi siapa tubuh dari emas itu, di masa berkuasa rezim totaliter militeristik orba. Karya itu luar biasa menguncang bawah sadar. Tiap orang menafsir sesuai imaginasi masing-masing. Bahkan bisa interpretasi saling berbeda berebutan tempat dalam batin seseorang. Tanpa kepala itu apakah personifikasi insan terzalimi di negeri kaya raya berlimpah emas? Jika iya, insan itu tentunya lawan dari rezim. Atau tubuh emas itu symbol tokoh atau instansi orba kemaruk kuasa harta yang natural menumpuk emas bagi dirinya dan karena hampa kepala, maka muncul otot yang kejam? Rasa dan nalar anda, terserah, menginterprestasikan, Fenomena tanpa kepala, entah personifikasi siapapun tubuh itu, itu bermakna betapa pandir mereka yang berkuasa. Fenomena tanpa kepala, itu mengguratkan dicerabutnya identitas Indonesia secara paksaan. Depolitisasi! Pengaruhnya sampai kini masih membawa akibat utamanya atas usia segenerasi Agus Jabo dan generasi berikut, bahkan sekarang.

Memiliki identitas adalah pilihin tidak tertaut dengan usia. Demikian untuk kebangsaaan Indonesia, maupun tiap insan warganegara. Begitulah mesin arloji berdetak linear, alamiah menyusun usia semakin tua. Menjadi dewasa bukan buah mesin mekanik apapun. Enam puluh lima tahun merdeka tidak otomatis dewasa. Kedewasaan merupakan pilihan menemukan keyakinan tentang jatidiri. Bisa berlangsung perseorangan maupun bersama komunitas. Berproses dari mencari sehingga menemukan “kepala yang terpenggal oleh rezim orba Suharto” Kutemukan esai Wenri Wanhar “Indonesia Merdeka?” pada kumpulan esai terbitan Jaker minggu  lalu “Bunga Rampai Melawan Penjajahan Baru” menyajikan fakta sejarah yang ilmiah tak terbantah. Patut ditambahkan penegasan dalam esai tersebut  bahwa entitas Indonesia mulanya (1850) hanya untuk domain ilmiah, khususnya akademisi etnologi, kemudian 1912 Soewardi Soerjaningrat membawanya masuk domain sosial. Mula pertama entitas Indonesia bermakna dan masuk domain politik yakni oleh partai politik pertama di nusantara. Perlawanan tani bersenjata tahun 1926 adalah fakta pertama kalinya gerakan politik bersenjata bersukma roh lintas daerah, suku dan keyakinan merupakan rahim mengkonsepsi nyawa, darah, harta dan airmata tidak terhitung banyaknya berkorban, menjadi  jaringan kromosom pembentuk gen jati diri nation Indonesia yakni anti imperialisme dan sisa feodalisme dalam politik, ekonomi dan kebudayaan, sebagai manifesto peradaban yang terkonstruksi dari konsekuensi sejarah oleh penjajahan kolonialisme Hindia Belanda dan fasisme Nippon yang turut menjadi faktor obyektif pembentuk patriotisme nation Indonesia itu. Inilah visi sejati bangsa Indonesia. yang menciptakan energi sekaligus menjadi suar menuntun rakyat Indonesia merealisasi gagasan-gagasan sesuai tuntutan obyektif. Bung Karno menguhalnya menjadi Pancasila, menyempurnakan bahasanya yakni berformula Trisakti. Institusi Trisakti inilah berwenang mendeteksi benar tidaknya, adil tidaknya jujur tidaknya, tepat tidaknya bentuk dan isi kreativitasi, termasuk kreasi seni sastra, dalam hal ini puisi.

Tokoh Multatuli meski gen biologisnya partikel Belanda namun karena hidup terkait kongkrit di tengah ruang dan waktu bahkan melihat merasakan sendiri peritiwa penderitaan masyarakat petani bercocok tanam paksa, membentuk batinnya ber-gen anti menjajah, Oleh Chairi Anwar puisinya “Hari Esok Olanda di Djawa” diterjemahkan sbb: Dan djika mentari turun ke Barat/ Samar agak dibelakang uapan darah/ Dia menerima erangan maut/ sebagai tanda pisah penghabisan dari Olanda” Tentang fungsi seniman Multatuli ungkapkan dengan metafora benih : “………kalau benih pandai berkata, tentu akan mengeluh bahwa tumbuh disertai pedih. Pahlawan dan pujangga mengerti maksud saya dari keluhan benih itu” Maksudnya ajakan berlawan.

Patung Dolorosa juga menyadarkan berlawan. Patut diberi salut kepada yang mampu meretas kerangkeng rezim dan sanggup memiliki kepala menemukan wajahnya lagi, memulihkan identitas jatidiri. Termasuk kewajiban bagi penyair jika dia rakyat Indonesia, mengkontruksi identitas itu dengan intrumen bentuk dan isi yang harmonis.

Sekadar contoh harmoni bentuk dan isi. Puisi HR Bandaharo berbentuk majas konotatif, mengumandangkan hikmat ke dalam memori dan menginspirasi publik, diantaranya mungkin kita : …..derita dan duka dari zamanku/kudukung di punggung/…..Tak seorang berniat pulang/walau mati menanti……” kutipan dari “Tak Seorang Berniat Pulang”(?) Atau bentuk hiperbola oleh Chairi Anwar : “Aku ini binatang jalang/………..?Aku mau hidup/ seribu tahun lagi” Agam Wispi memilih kearifan kekuatan seloka: “pita merah dan matahari/cinta berdarah sampai mati”.

Dia juga kuat dalam irama seperti : “Di depan kantor tuan bupati/tersungkur seorang petani/karena tanah/karenatanah/Dalam kantor barisan tani/si lapar marah/karena darah/karena darah/Tanah dan darah/memutar sejarah/dari sini nyala api/dari sini damai abadi” kutipan “Matinya Seorang Petani” (-) Harmoni bentuk dan isi yang bermutu atau dengan lain kata “tinggi mutu bentuk kombinasi tinggi mutu isi” mampu intensif mensubyektivasi gagasan penyair ke jiwa dan memori publik. Dan publik terus menerus merenungkan serta melisankannya.

Dapat dipastikan inspirasi kreatif Agus Jabo, sang kreator, bukan berasal dari kekosongan melainkan karena adanya integritas pribadi yang otonom atas  lingkugan alam, kondisi sosial dan dirinya sendiri. “Negriku”, kumpulan puisinya yang disebut “syair syair perjuangan” menampilkan kembaran batinnya, subyektivisasi jiwa dan pemikirannya. mengenalkan figur Agus Jabo, masa kini. Sejauh mana puisinya menjangkau dan berapa banyak publik melisankannya berkepanjangan, itulah ukuran tinggi harmoni mutu bentuk dan mutu isi karyanya. Dan nanti karyanya yang berikut diukur demikian pula. Demikianlah ritus memantau eskalasi dan komitmen pikirannya, subyektivisasi dirinya, terlebih tentang gen apa sesungguhnya terdapat dalam dirinya, akibat dari konstruksi manifesto peradaban yang bergerak dahsyat serta kemungkinan integritasnya di depan: apakah sekadar hanya figur dipantau atau juga sekaligus panutan. Dia sudah berkreasi Tentu publik menunggu yang lebih bermutu seiring perkembangan rohaninya.

Fakta keadaan anomali yang kita alami sekarang bertaut erat dengan metafora Dolorosa Sinaga bahwa “kepala yang dipenggal” memang kondisi nyata, terjadi penggerusan jatidiri. UUD 45 telah tergusur oleh UUD 2002, atas nama reformasi. Distorsi terhadap peradaban yang dicita-citakan Proklamasi 17 Agustus 1945 sangat sistimatis, kita telah terpuruk amat dalam. Kebijakan politik penguasa tidak memiliki infrastruktur kebudayaan menemukan yang dicari oleh Dolorosa Sinaga. Oleh karena itu demi mengawal perjalanan bangsa ini sesuai koridor Proklamsi 17 Agustus 1945 sebagaimana kata Putu Wijaya bahwa seniman adalah legitimator peradaban, upaya paling intens dan luas seharusnya tegak-kibarkan-jati-diri: patriotisme!

Jakarta, 26 Agustus 2010.

(Disampaikan pada acara Peluncuran Buku Puisi karya Dominggus Oktavianus dan Agus Jabo, di PDS HB Jassin – TIM, tanggal 27 Agustus 2010).

*Toga Tambunan, sastrawan dan pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mahardika Nyoman

    Selamat Pak Dominggus.
    Terimakasih berita/artikelnya Pak Toga.
    Yg seperti ini kita butuhkan bersama untuk membangun bangsa ini. Kemarin sy mengikuti posting Leonardo Rimba di Grup Spiritual Indonesia FB tentang tidak ada yg namanya jati diri, sangat bertentangan dg upaya kita ini, bahkan cenderung bertendensi makar. Alasannya demi kebebasan berbicara. Antek2 RMS kali ya…
    Mari kita hadapi bersama semua tantangan ini demi anak cucu kita. Sukses untuk kita semua