Resensi: Tanah Air Beta, Ketika Pilihan terhadap Merah Putih Meminta Pengorbanan

Film yang dibuka dengan situasi politik pasca-referendum 1999 ini mengetengahkan sekelumit kisah konsekuensi pilihan politik terhadap kehidupan kemanusiaan masyarakat yang memilih untuk setia kepada NKRI. Pemirsa akan dihentak oleh dialog pembuka yang mengetengahkan pencarian sanak famili di tapal batas antara Timor Leste dan NKRI, yaitu di daerah Matoain. Terkisahlah Abu bakar (Asrul Dahlan Griffit) yang sedang mencari istrinya yang baru dinikahi minggu lalu dan Tatiana (Alexandra Gottardo) bersama putrinya Merry (Patricia) yang sedang mencari Mauro, putranya yang terpisah di Timor Leste.

Sangat jelas tergambar  kondisi masyarakat akibat perubahan situasi politik yang sedang terjadi. Kesulitan air, kesulitan mendapatkan BBM, kondisi pendidikan yang masih cukup memprihatinkan. Adalah Merry dan Carlo (Yahuda Rumbindi), dua orang siswa sekolah dasar darurat yang didirikan di salah satu kampung pengungsian. Merry sangat merindukan kehadiran kakaknya Mauro tinggal terpisah Timor Leste, sementara Carlo adalah anak yang hidup sebatang kara. Ayahnya yang tentara mati tertembak dan ibunya meninggal karena sakit TBC.

Indahnya langit Atambua memang belum seindah nasib rakyat yang menginjakkan kaki di atas tanahnya. Kondisi ini dipaparkan oleh secara sederhana, namun sangat mengena di hati para penonton. Film yang disutradarai oleh Ari Sihasale bersama rumah produksinya Alenia Pictures dan berdurasi sekitar 1,5 jam ini lebih lanjut mengisahkan tentang keresahan hati seorang ibu dan seorang saudari terhadap Mauro. Berbagai upaya dilakukan agar dapat bertemu anak dan kakak tercinta.

Di dalam alurnya yang agak perlahan, diketengahkan juga persahabatan yang erat antara Tatiana dan Merry dengan berbagai golongan masyarakat. Tatiana dan Merry bersahabat dengan Abu Bakar yang muslim dan juga keluarga etnis Tionghoa. Tergambar beberapa kali pasangan pengusaha Tionghoa yang dibintangi oleh Robby Tumewu dan Thessa Kaunang itu membantu kehidupan perekonomian Tatiana dan Merry. Simpati luar biasa ditunjukkan pasangan itu kepada Merry saat ingin menemui kakaknya di perbatasan Matoain.

Sisi lain yang sangat menarik di dalam film ini adalah penceritaan mengenai tokoh Carlo. Seorang anak yang mendapatkan julukan sebagai anak nakal, ternyata mempunyai kebesaran hati sebagai seorang sahabat dan keuletan yang luar biasa dalam mempertahankan hidupnya yang sebatang kara itu. Dalam salah satu adegan diperlihatkan Carlo harus mencuri ayam dari lokasi sabung ayam karena ia dan Merry kelaparan. Nuansa nasionalisme pun cukup kental mewarnai film ini. Sepanjang pemutaran film bendera Merah Putih sebagai pilihan hidup sebagian rakyat Timor Lorosae berkibaran di langit biru Atambua. Tatiana sebagai guru pun tak lupa mengajarkan murid-muridnya lagu Indonesia Tanah Air Beta agar kecintaan terhadap merah putih senantiasa bergema di sanubari putri-putra Timor pengungsian di Kupang

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala, slalu dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata

Sungguh mengharukan mendengar lirik-lirik di atas dinyanyikan oleh koor suara renyah anak-anak murid Ibu Guru Tatiana. Demikian indahnya sampai-sampai kita, sesama Warga Negara yang juga cinta Indonesia, menitikkan air mata. Akhir kata, film ini sangat kami anjurkan untuk ditonton semua kalangan, khususnya terutama bagi generasi muda yang selalu bimbang tentang makna pengorbanan dalam nasionalisme. (LF)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Andreas Kusumajaya

    Harusnya lebih banyak Film Bernuansa Cinta Tanah Air kayak gini! Bukannya Film Setan GAK JELAS!