Ini Soal Kesenian Dan Tanah Untuk Rakyat!

Sang Penari

Sutradara : Ifa Isfansyah
Tanggal rilis : 10 November 2011
Pemain : Prisa Nasution, Nyoman Oka Antara, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang
Penulis : Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

Dusun Dukuh Paruk mendadak ramai. Rakyat desa bersuka-cita di mana-mana. Itu terjadi lantaran desa miskin ini baru saja memiliki Ronggeng baru. Srintil (Prisa Nasution), nama ronggeng baru itu, segera jadi buah bibir.

Tidak terkecuali di kalangan laki-laki, yang tidak sabar lagi menunggu proses “bukak klambu”. Para lelaki berduit pun berlomba-lomba mengajukan tawaran tertinggi. Meskipun Ronggeng sangat melekat pada tradisi dan kepercayaan rakyat setempat, tetapi tidak sedikit lelaki berduit yang berusaha “melampiaskan nafsu” lewat hiburan rakyat ini.

Bakar (Lukman Sardi), seorang pemuda komunis yang baru tiba di desa, turut menyimak pembicaraan soal perlombaan “bukak klambu” itu. Tetapi Bakar tidak setuju kalau Ronggeng sekedar dimaknai hanya soal “seks”. Ia pun mengatakan bahwa soal Ronggeng adalah soal kesenian rakyat.

Srintil sendiri tidak mengejar uang. Dirinya menjadi ronggeng karena ingin mengembalikan nama baik keluarga dan demi kemakmuran kampung.  Maklum, ronggeng sebelumnya, Jeng Nganten (Happy Salma), mati keracunan oleh bongkrek buatan kedua orang-tuanya. Orang kampung tidak pernah lupa kejadian itu.

Untuk idealisme itu, ia rela merenggangkan hubungan dengan kekasih tercinta, Rasus (Oka Antara). Rasus sendiri tidak rela kekasihnya “dibeli” oleh lelaki lain. Rasus adalah pemuda miskin yang menyambung hidup sebagai kuli di perkebunan singkong. Upahnya sangat sedikit. Ini membuatnya menerima tawaran menjadi tentara di kota.

>>>

Itulah sekilas kisah yang diangkat oleh Ifa Isfansyah dalam film “Sang Penari”. Film ini sendiri diadaptasi dari kisah dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini mengambil latar-belakang tradisi dan kehidupan penduduk di sebuah desa miskin di Banyumas, Jawa Tengah, pada tahun tahun 1960-an.

Di tangan Ifa Isfansyah, kita mendapat gambaran visual mengenai kehidupan rakyat Indonesia pada tahun 1960-an: miskin, terhisap oleh tuan tanah, harga beras sangat mahal, dan masih banya rakyat yang buta-huruf.

Diceritakan bagaimana seorang propagandis PKI bernama Bakar berhasil membangkitkan perlawanan petani. Rakyat, umumnya petani, pada awalnya menerima nasib sebagai takdir. Tetapi berkat agitasi pemuda komunis itu, rakyat pun bangkit melawan tuan tanah.

Desa Dukuh Paruk bun beranjak menjadi “merah”. Sebagian besar penduduk, termasuk kru penari Ronggeng, berada di bawah pengaruh PKI. Tentara pun mengirim anggotanya untuk mengontrol aktivitas PKI di desa itu.

Tetapi ada yang saya tak setujui dari penggambaran film itu: seolah-olah warga desa itu menjadi anggota PKI karena diperdaya. Mereka tidak bisa baca-tulis, juga tidak terlalu faham soal politik, tetapi tiba-tiba menjadi anggota PKI karena tidak bisa membedakan antara “kupon makan” dan “kartu anggota”.

Bahwa ada yang seperti itu, saya fikir itu bersifat kasuistik. Tetapi tidak bisa disimpulkan bahwa PKI memperdayai rakyat desa agar menjadi anggotanya. Jika kita baca dari sejarah yang baru terungkap, banyak penduduk desa menjadi anggota PKI karena berbagai alasan; setuju dengan program PKI, tertarik dengan perjuangan dan semangat berjuang anggota PKI, punya kasus yang dibela oleh PKI, dan lain-lain.

Dalam banyak kasus, banyak yang menjadi anggota PKI adalah pendukung Bung Karno. Sedangkan PKI sendiri merupakan pendukung paling setia dari pemerintahan Soekarno, bahkan melebihi kesetiaan PNI (Partai Nasionalis Indonesia).

Film ini juga berhasil membongkar pandangan orang yang menganggap ronggeng sebagai hiburan berbau seks. Di sini, Srintil sebagai penari ronggeng justru adalah seorang altruistik; ia rela mengorbankan kepentingannya, bahkan tubuhnya, demi rakyat Dukuh Paruk. Tetapi, sekalipun rela “ditiduri” oleh banyak lelaki Dukuh Paruk, tetapi ia tegas menolak Marsusi, tuan tanah yang punya motor merah itu.

Dalam film itu, PKI, sebuah partai penentang feodalisme, justru tidak memusuhi tradisi dan hiburan rakyat itu. Bakar, aktivis PKI di desa Paruk, berhasil menggunakan hiburan rakyat ini sebagai sarana perjuangan. Caranya: hiburan ronggeng ditempeli agenda “pidato politik”.

Bakar juga berhasil menjadikan ronggeng sebagai daya tarik untuk mengumpulkan massa rakyat dalam acara rapat akbar (vergadering). Pendek kata, PKI telah berperan membuat hiburan rakyat ini menjadi progressif dan pembawa pesan politik.

>>>

Tiba-tiba meletus peristiwa G.30/S di Jakarta. Dalam sekejap, keriuhan dusun Dukuh Paruk berubah menjadi kelam. Ormas kanan dan tentara menangkapi penduduk desa atas nama “pembasmian kaum komunis”.

Srintil pun menjadi korban. Ia ditangkap bersama warga desa lainnya. Desa Dukuh Paruk pun lengang seperti kehilangan seluruh penghuninya. Tidak sedikit diantara penduduk desa, umumnya rakyat biasa, dieksekusi di tengah jalan. Mayat-mayatnya dibuang ke sungai.

Kisah kelam peristiwa 1965 belum berakhir di sini. Di tempat penyekapan, para tahanan ini mendapat siksaaan dan perlakuan keji lainnya. Bahkan Srintil harus rela berkali-kali “dibom” di luar atas persetujuan petugas militer. Kisah seperti ini juga sering kita temukan dari pengakuan para wanita yang menjadi korban peristiwa 1965.

>>>

Film ini cukup menarik untuk ditonton, terlepas dari berbagai kontroversi di dalamnya. Hanya saja, untuk memudahkan memahami peristiwa yang melatar-belakangi film ini, ada baiknya anda membaca kisah novelnya dan buku-buku sejarah.

Film ini juga banyak menggunakan bahasa penduduk desa, yaitu bahasa Banyumasan. Hal itu akan mempersulit orang yang tidak mengerti bahasa tersebut. Tetapi, kelihatannya sang sutradara Ifa Isfansyah justru berusaha membawa kita seolah-olah hidup di tengah jaman itu, beserta kehidupan masyarakat desa yang masih sangat kental.

Film ini juga merekrut pemain film terkenal, seperti Slamet Rahardjo (dukung ronggeng), Landung Simatupang (kakek Srintil), Dewi Irawan, Tio Pakusadewo, Happy Salma, dan Teuku Rifnu Wikana.

Hidup ronggeng rakyat!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut