Resensi Buku: Cerpen-Cerpen Perkenalan Dengan ‘Sang Penindas’

Soeharto

Sekiranya tanggal 11 Maret 2015 kemarin, jika tidak diruntuhkan oleh gerakan rakyat, rezim Orde Baru itu telah memasuki bentangan waktunya yang ke setengah abad. Namun angka ini tidaklah persis karena kesimpangsiuran penghitungannya. Ada yang mulai menghitungnya dari peristiwa Gestok, ada yang sejak digaungkannya Supersemar, dan ada juga yang memulainya dari Sidang MPRS. Tapi yang paling jelas bahwa tahun 1965 adalah tahun kegelapan dan tolak kemunduran bagi bangsa Indonesia yang sempat merdeka ini.

Tetapi keangkeran rezim Orde Baru dengan tokoh utamanya Soeharto, sang “The Smiling General”, sejak 50 tahun silam itu di masa sekarang ini malah kian memudar, bahkan tinggal tersisa dalam jelmaan cerita hampa dari sebagian rakyat yang mulai menua saja. Sementara generasi muda Indonesia belakangan kian memahaminya sebagai mitos ketimbang fakta sejarah. Apalagi postulat mainstream bahwa “sejarah hanya ditulis dan menjadi miliknya sang pemenang” terus dipegang teguh di negeri ini.

Sastra Untuk Kebenaran

IDENTITAS BUKU : Judul : Soeharto dalam Cerpen Indonesia Genre : Antologi Cerpen Editor : M. Shoim Anwar Penerbit : Yogyakarta, JEJAK, 2008 Halaman : vi + 221; 140 x 210 mm
IDENTITAS BUKU :
Judul : Soeharto dalam Cerpen Indonesia
Genre : Antologi Cerpen
Editor : M. Shoim Anwar
Penerbit : Yogyakarta, JEJAK, 2008
Halaman : vi + 221; 140 x 210 mm

Sehingganya upaya-upaya penyucian nama Soeharto dan Orbanya, serta pengukuhan status quonya sebagai pihak pemenang sejarah yang selalu patut dielu-elukan, masih terus berlangsung secara sistematis. Wajar saja, toh memang formasi kekuasaan di zaman demokrasi liberal ini pun tidak lain dari anak-anak ideologis rezim Orba itu sendiri. Dalam konteks inilah sastra tampil ke muka publik, bukan untuk sekedar menyuguhkan kisah reflektif nan estetik, melainkan mengambil sikap berpihak pada kebenaran.

Buku Soeharto dalam Cerpen Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Bentang Budaya di tahun 2001. Dan beruntung, di tahun 2008, kembali diterbitkan oleh Jejak dari kota Yogyakarta. Memuat 18 cerita pendek yang ditulis oleh 14 orang cerpenis kawakan, diantaranya: Y.B. Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram jamil, F. Rahardi, Joni Ariadinata, Indra Tranggono, M.Fudoli Zaini, Jujur Prananto, Agus Noor, Sunaryono Basuki KS, Bonari Nabonenar, Moes Loindong, Triyanto Triwikromo, dan Gus TF. Sakai.

Menjadi penting kiranya bagi saya untuk mengungkap kembali buku ini ke muka publik, sebab penerbitannya kurang massif dan popular. Padahal nilai sejarah yang dikandungnya amatlah penting untuk kembali dibaca khalayak. Khususnya penting sebagai sarana pengenalan bagi generasi muda yang belum sempat mengenyam langsung sensasi hidup di bawah teror kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun karena terlanjur ditumbangkan oleh gerakan reformasi 1998 yang setengah matang.

Uniknya hampir semua cerpen ini dengan berani ditulis ketika rezim Orba yang otoriter itu masih gagah perkasa, yakni kisaran tahun 1993 hingga 2000. Konsekuensi logisnya adalah dipergunakannya metode tersirat, dengan menyamarkan ekspresi kejengkelan politis para sastrawan penulisnya ke dalam berbagai kemasan simbolik dan metaforik. Namun, dengan gamblang pula kita bisa memahami bahwa semuanya mengambil sosok Soeharto dan praktek kekuasaannya yang menindas itu sebagai inspirasi utama.

Narasi Penindasan

Cerpen pertama berjudul Menembak Banteng yang ditulis oleh F. Rahardi di tahun 1993. Dikisahkan Jenderal Purnawirawan Basudewo terkejut setelah mendapat order dari Menteri Negara Urusan Satwa Liar untuk menembaki banteng-banteng di Taman Nasional Ujung Kulon. Lantaran populasi satwa ini dianggap sudah sangat memusingkan para petugas. Mereka mulai berani secara langsung mengganggu eksistensi badak bercula satu, satwa paling diistimewakan itu.

“You serius Broer? Banteng itu boleh ditembak? Berapa banyak yang mau ditembak?” tanya sang jenderal meyakinkan. “Ya, tapi yang tua dan besar-besarnya saja, terutama pejantan, mungkin sampai seratusan, supaya banteng-banteng itu bisa kembali dikendalikan,” jawab sang menteri di ujung telepon.

Di bulan September yang berdebu, sekitar 20 orang pemburu dengan segala perlengkapannya sudah berkumpul untuk menikmati safari berburu selama semingguan. Diantaranya ada konglomerat, purnawirawan jenderal, anak-anaknya, bintang film, jenderal aktif, dan ada pula penembak professional dari seantero negeri.

Banteng-banteng itu memang mulai beringas, pos pengintaian tampak sudah pada mulai miring karena sering jadi sasaran seruduk tanduknya. Populasi mereka memang berkembang begitu pesat, hingga pohon-pohon mulai banyak tumbang terinjak, beberap petugas pun kerap terluka jadi korban tendangan kaki banteng. Tapi bagaimana pun banteng adalah asset nasional yang tak boleh punah, hanya saja ia tak boleh membahayakan badak.

Tampaklah banteng tua yang melangkah anggun, pandang matanya ditebar ke seluruh penjuru, memang tugasnya bertanggung jawab penuh atas keselamatan kelompoknya. Suasana sepi sekali, hanya suara dengus napas dan rumput yang tercabut dan terkunyah oleh para banteng saja yang terdengar. Tapi tiba-tiba suara letusan bedil memecahkan pekik panik kawanan banteng yang berlari bubar.

Banyak yang roboh bertumpahan darah, tapi si banteng tua yang juga tertembak tak mau roboh. Dia berlari dan menunggu seluruh kawanannya berhasil masuk ke hutan. Dia tertembak sekali lagi dan mulai goyah, tapi ia mau memastikan semua warganya selamat, ia susul mereka tapi tubuhnya tak lagi sanggup, hingga akhirnya robohlah ia di dekat mata air, yang menjadi merah oleh cucuran darahnya sendiri.

Kisah ini jika dikaitkan dengan realitas politik Indonesia sepertinya cukup eksplisit untuk disebut sesuai dengan praktek dominasi politik kelompok elit Orba yang terdiri dari perselingkuhan konglomerat dan militer yang mengebiri kelompok nasionalis penerus Soekarno, yang di dasawarsa terakhir kekuasaan Orba basis massanya mulai bertambah signifikan dan mengancam kenyamanannya hingga harus dipotong lewat serangkaian represi.

Sedangkan cerpen Bapak Presiden yang Terhormat karya Agus Noor tahun 2000. Dikisahkan, Peang, seorang buruh tani di pelosok kampong, habis ditertawakan, diejek, dan dianggap gila lantaran ia ingin menemui Bapak Presiden dan menyerahkan surat tulisan tangannya yang berisikan keluhan dan permohonan agar penderitaan di desanya segera diselesaikan.

“Lho ndak papa tho? Namanya berusaha, daripada seperti kalian Cuma ngedumel di belakang kalau ganti rugi ini ndak adil dan mencekik!” balasnya mangkel. “iya, ndak papa, kalo kamu pengin mati ngenes, ato kepontal-pontal seperti si Dayat itu, saya kan Cuma ngelingkan kalau kamu itu wong cilik,” tegur orang-orang.

Dayat adalah tetangga peang yang menghilang sudah cukup lama, karena nekat menyebar kabar kalau Pak Lurah mereka itu semena-mena membakari tanaman cengkeh warga, meraibkan uang PBB, dan bantuan dari pusat untuk pengaspalan jalan. Ketololan Dayat berujung pada dijemputnya ia oleh para Hansip, dibentaki oleh Pak Lurah, dipukuli habis, dan raib entah kemana.

Peang merinding mengingatnya, tapi dia juga bingung harus berbuat apa lagi. Kampungnya yang hijau dan subur ini bakal digusur untuk jadi tempat latihan tempur tentara. Kata Pak Lurah, ini demi kepentingan Negara, karena serdadu itu dari rakyat untuk rakyat, bukan buat nakut-nakuti rakyat seperti kata para mahasiswa.

Dayat yang sering numpang nonton televisi itu selalu terngiang wajah Bapak Presiden dengan senyumnya yang ramah menyejukkan. Sering ia melihat sosok itu diberitakan begitu simpatik saat menyerahkan piagam Kalpataru, tampak sanyat pengayom sekali. Karena itu diam-diam ia nekat pergi ke Jakarta.

“Alaaaahh.. Peang, Peang, kok ya pikiran mu itu ada-ada saja! Kalau Cuma mau jadi kuli atau tukang bersihin got sih aku bisa bantu, lha ini minta anter ketemu Presiden,” ujar Jumirin, kawannya yang ditumpangi. Tapi teman-temannya itu juga mulai termenung, meski tampak tolol dan konyol, tapi Peang sedang berusaha mengentaskan nasib sedulur-sedulurnya di kampung halaman.

Akhirnya malam itu kontrakan sepetak yang dihuni berjejalan itu ramai, ada yang bercerita sebelumnya pernah seorang Baduy berhasil menemui Bapak Presiden bahkan tanpa sandal, orang yang keliling Nusantara pakai sepeda juga pernah berkenan ditemui. Dulu juga pernah ada pengamen yang setiap pagi menunggu mobil Presiden lewat lalu memberi hormat dan membungkuk, orang itu diundang di acara ulang tahun Presiden.

Mulai esok harinya, setiap pagi-pagi buta Peang sudah berdiri di pinggir jalan itu, dan jika sudah terdengar suara sirine pengawal, dia maju ke pinggir trotoar sambil membungkuk dan melambaikan surat yang sudah diamplopkannya. Peang merasa jamnya berdiri harus ditambah karena belum membuahkan hasil. Orang-orang mulai bosan melihatnya,juga teman-temanya yang punya kesibukan kerja mengadu nasib di kerasnya Ibu Kota ini.

Saking seringnya Peang membuat kegaduhan, teriak-teriak dan kadang berlari ke tengah jalan setiap ada mobil sirine lewat, polisi pun menyeretnya paksa hingga babak belur. Malamnya sembari demam panas dia mimpi dan mengigau, terbayang orang-orang sekampungnya diberondong senapan, ketakutan dan berbondong ngungsi entah kemana. Ini membuatnya semakin bulat tekad.

Sepanjang hari Peang kembali ke sisi jalan raya, berteriak “Bapaaaaak Presideeen!” setiap mobil sirine lewat. Kini ia tak lagi banyak berdiri, hanya berjongkok sambil mengayun-ayun amplop surat yang sudah lecek dan kumel. Hujan atau pun terik tak lagi dia rasakan, asap knalpot sudah tak ia pedulikan. Peang terus menunggu. Sampai tubuhnya mengempal jadi batu.

Yap, kisah ini tentu saja fiksi, tapi juga nyata ! sebagaimana kita ketahui di masa itu memang banyak sekali kampung-kampung rakyat yang harus digusur paksa dengan imbalan ganti rugi yang mencekik. Rakyat tak pernah bisa menolak kecuali sudah tak inginkan hidup jika tanahnya dibutuhkan oleh Negara. Entah buat dijadikan tempat latihan militer, bendungan, pabrik, atau lahan garapan kebun konglomerat. Pasca reformasi ini terbukti dengan tumbuhnya rentetan konflik agraria.

Seno Gumira Ajidarma di tahun 1996 menulis cerpen Paman Gober yang berkisahkan  semua penduduk Kota Bebek setiap harinya sama-sama menantikan satu kabar yang tak kunjung datang, yakni kematian Paman Gober. Dia seorang bebek tua yang terlalu kuat, licin, dan bertambah kaya setiap harinya. Gudang uangnya berderet dan penuh, setiap hari setelah menghitung semua uangnya yang tak berhenti bertambah, dia bakal mandi berenang di lautan uangnya sendiri.

Saking kayanya kadang ia lupa pabrik apa saja yang dipunyai, hamper taka da satu jenis usaha pun yang tak dimilikinya. Tapi meski jadi anggota nomor wahid di Klub Milyarder, Paman Gober sangat pelit pada keluarga. Keponakannya, Donal, tak pernah dibantu meski ia sudah bekerja sangat keras. Pun dengan cucu-ponkannya si Kwak, Kwik, dan Kwek juga selalu diperas tenaganya, tanpa pernah dibagi apa-apa, pun pada orang-orang lainnya.

Berkali-kali sudah gerombolan Si Berat coba merampoki gedung uang Paman Gober, tapi hanya kesialan yang mereka dapatkan. Tak bisa dipungkiri masa muda Paman Gober memang seorang pekerja keras, yang menghabiskan waktunya di lorong-lorong gua emas. Ia temukan sebuah gunung emas yang jadi modalnya menjadi taipan tanpa tanding.

Hal yang diprihatinkan oleh Nenek Bebek, seorang sesepuh yang mengasingkan diri, adalah meski Paman Gober begitu rakus dan pelit, tapi ia tak dibenci, malah sangat disukai anak-anak. Setiap ada yang mengecamnya, justru orang itu yang tak meraih simpati. “Dunia memang sudah jungkir balik,” ucap si Nenek.

“Mestinya bebek seumur saya ini tahu diri siap masuk liang kubur. Makanya ketika diminta jadi ketua Perkumpulan Unggas Kaya, getir saya rasakan apa tidak ada bebek lain yang mampu?” ucapan Paman Gober dalam buku otobiografinya. Begitulah entah kenapa ia memang selalu terpilih kembali dalam pemilihan yang tampak demokratis itu.

Tapi Paman Gober juga punya banyak musuh, hebatnya ia malah memelihara musuh-musuh yang tak pernah mampu mengalahkannya itu sebagai bukti kebesarannya. Ia juga sering muncul di TV, kalau sudah begitu tak ada kamera yang berani putus sekali pun kalimatnya sangat membosankan. Dia selalu menagnjurkan semua warga menirunya dalam bekerja keras, dia juga terus mengulang cerita tentang jasa-jasanya.

“Paman, kenapa tidak mengundurkan diri saja dan pergi ke pertanian untuk menyepi merenungkan arti hidup?” tanya Donal suatu hari. “Lho aku mau saja, menikmati itu sambil membuka butir-butir falsafah bangsa bebek. Tapi apa mungkin aku menolak dicalonkan? Menolak kehormatan yang diberikan para unggas?” jawabnya enteng.

Maka hari pun terus berlalu tanpa pergantian pimpinan. Demokrasi berjalan tapi tak memikirkan hal itu. Setiap pengurus boleh berganti-ganti tapi Paman Gober tetap berkuasa, tak ada yang mempertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwak, Kwek jadi kebingungan kalau membandingkannya dengan sejarah kota-kota lain. Generasi muda bahkan mulai tak mengerti lagi apakah memang pemimpin itu bisa diganti, dan mulai berpikir bahwa keabadian Paman Gober sudahlah semestinya.

Kisah ini menyiratkan keabadian kuasa Soeharto selama tiga dasawarsa lebih di negeri ini. Siapa yang menyangkal kekayaannya kian meluas dan bertambah setiap detik? Siapa yang membantah sejarah heroik tentangnya sudah begitu melekat dalam benak setiap bocah? Siapa pula yang berani banyak-banyak mempertanyakan kelanggengan kuasanya itu? dan siapa pula yang tidak pernah menanti datangnya kabar kematian sang penguasa yang sudah terlalu uzur itu?

Moes Loindong dalam cerpen Diam tahun 1996 memulai kisahnya, “Diam-diam orang-orang diam bertanya dalam diam..” “Apakah diam harus menunggu kali lima tahun lagi untuk perubahan?” dan pertanyaan orang-orang diam itu ternyata sudah diantisipasi oleh orang-orang yang sudah diprogram punya pendengaran supersonic.

“Sssst, Diam. Jangan main keributan. Jangan main Tanya. Nanti jadi kasus. Diam. Kalian tidak tahu di atas sana ada dalang keasyikan menggelar pidato tentang pembangunan membangun wayang dalam wayang? Mau merusak pakem? Menyebar isu?” ancam mereka.

Perlahan tapi pasti, diam menjadi kepatuhan sosial yang merata, pemerataan keresahan. Semua patuh di dalam persatuan dan kesatuan diam. Wayang terus digelar. Stabilitas kediaman harus dipertahankan demi keberhasilan dalang melaksanakan pembangunan lakon.

Kita bisa dengan mudahnya menangkap betapa di masa Orba, praktek pembungkaman rakyat terjadi begitu massif sebagai terror, yang diklaim sebagai syarat tercapainya stabilitas, persatuan, dan bla-bla-bla demi tercapainya program pembangunan Negara. Namun, inti dari semuanya adalah rakyat tak boleh mengusik kekuasaan yang sudah terlanjur nikmat bagi Soeharto, bagi kroni-kroninya.

Lain lagi cerpen Tembok Pak Rambo karya Taufik Ikram Jamil juga ditulis di tahun 1996. Dikisahkan dahulu kala pernah ada seorang raja yang bahagia setiap harinya melihat kesejahteraan rakyatnya. Padahal yang dilihatnya hanyalah tembok dengan lukisan yang dibuat para menterinya sedemikian rupa demi mengelabui, sehingga mereka bebas memeras rakyat dan korupsi.

Tapi lain dengan Syam, dia hanya bertugas membangun tembok rumahnya Pak Rambo, tak ada hubungannya dengan dongeng itu. Tapi dia sudah membongkar pasang, meninggikan, dan menambalnya sebanyak 17 kali. Dan Pak Rambo masih saja marah, membentaknya keras, “Sia-sia kau belajar ke Jerman kalau hanya membuat tembok saja tak becus! Awas kamu!.”

Ancaman dari orang seperti Pak Rambo tak pernah jadi main-main, dia bukan orang kecil. Menolak permintannya juga sama saja dengan membenturkan kepala sendiri sampai hancur. Tapi tembok seperti apalagi yang harus Syam buat agar tak lagi tembus pandang di mata Pak Rambo. Syam tak mengerti kenapa tembok yang dibuatnya dengan semen, batu bata, besi, dan air it uterus saja dianggap transparan. Segala bentuk artistik pun sudah diupayakannya.

“Kamu jangan main-main Syam! Buat apa susah payah tapi cuma bikin tembok tembus pandang? Saya Cuma minta tembok biasa buat memagar tanah ini!” tegur Pak Rambo. Tembok bahkan sudah ditinggikan hingga 50 meter, ditebalkan sampai 10 meter, bahkan Syam melapisinya dengan lempengan baja. Tapi Pak Rambo, dan orang-orang di sekitarnya tetap saja ngotot menyebut ini tembok tembus pandang, setiap yang di dalam bisa melihat keluar, dan yang di luar bebas melihat kedalam.

Syam kira ini ulah ilmu sihir, ia datangkan pula dukun ternama tapi tak buahkan hasil. Ini semakin tak masuk akal, bagi Syam ini tembok biasa, bahkan istimewa, dan sama sekali tak bisa ditembus oleh mata, bahkan oleh tabrakan sekali pun. Syam mulai menderita sakit kepala yang tak tertahankan, ia sempat jatuh pingsan di rumahnya.

Suatu pagi Syam terkejut melihat Pak Rambo mendatangi rumahnya, “Sudah seminggu saya membuat rancangan baru untuk tembok rumah ini, katanya. “Apa kau rasa ini semua perlu? Kau ini lucu, lucu sekali!” ucap Pak Rambo lalu terbahak-bahak. “Kau tak akan bisa menembok hati nurani. Tembokmu itu memang bagus, tapi tidaklah tembus pandang. Betapa pun tinggi dan lebarnya kau buat, aku masih bisa melihat orang-orang miskin dengan gubuknya, mereka kurang makan dan tidur, sedang aku apa yang tak ada?” ucapnya melunak.

“Tapi Pak, bukan hanya bapak yang melihat tembok ini tembus pandang,” bantah Syam. “Dengan kekuasaanku apa sulitnya menyuruh orang mengatakan apa yang aku katakan. Aku yakin dalam hati mereka anggap aku mulai gila,” jawab Pak Rambo.

Besoknya ia kembali bekerja, tapi Pak Rambo yang kemarin ramah itu mendadak jadi beringas, dan memarahi Syam habis-habisan. “Tapi Pak, kemarin Bapak bilang setebal apa pun tembok saya buat tak akan pernah bisa menutup hati nurani untuk memandang apa saja realita di baliknya,” bantah Syam. “Apa maksudmu? Cis, bedebah, kucing kurap!” maki Pak Rambo. “Kemarin bapak katakan sebenarnya ingin menutup hati nurani,” jawab Syam.

“Pukimak, haram jadah!” Pak Rambo mengamuk. Naluri Syam cepat bekerja, ia lompati jendela dan berlari kencang. Belasan orang dan rentetan peluru senapan sudah mengejarnya. Syam kira dia akan mati saat itu juga, tapi ia harus lari sebisanya, ia tak mau mati di ujung tembok buatannya sendiri. Beberapa saat dia lihat Pak Rambo sudah berdiri persis lima langkah di depannya, Syam gemetar lemas. Tapi sampai enam menit Pak Rambo tak juga membunuhnya, Syam meminta ampun. “Tak ada yang harus dimaafkan,” jawab Pak Rambo dengan teduh.

Syam terkejut mengingat betapa sesat tadi Pak Rambo mengamuk dan kini tampak ramah seperti kemarin. “jelas aku yang kemarin dan sekarang ini adalah hati nurani Pak Rambo. Jangan khawatir, sebentar lagi semua berakhir. Aku si Pak Rambo ini sekarang dagingnya sedang sakit keras karena ucapanmu barusan, mereka tak akan lanjut mengejarmu. Itulah yang mereka suka karena selama ini kau tidak salah, hati nurani mereka berkata begitu. Memang benar orang sulit menuruti kehendak hati nurani dan sulit membedakannya dengan nafsu,” jawab sosok itu.

Begitulah memang kenyataannya di masa Orba, betapa penguasa tunggal sudah berkeras menutup tembok nuraninya dan mengabaikan kenyataan pahit kehidupan rakyatnya. Dimana para punggawa kuasa di sekitarnya pun harus tunduk mengubur suara nuraninya dan paksakan diri mengikuti kebengisan pemimpinnya, hingga mereka akhirnya tak lagi bisa membedakan mana benar atau salah.

Bonari Nabonenar dalam cerpen Bukan Titisan Semar  tahun 1999 berkisah, dia hanya seorang kepala desa, bahkan mungkin terlalu tua untuk seorang kades seandainya kegesitan, kepekasaan, dan pamornya tunduk pada usia. Dia memang luar biasa, sering ia berpikir dirinya seorang titisan dewa, Kiai Semar, Batara Ismaya.

Lama kelamaan pikiran dan perasaan itu mengental jadi sebuah keyakinan. “Apakah dosaku berkeyakinan begitu, bukankah ini mengontrolku agar tak bertindak dosa: sewenang-wenang, aji mumpung, korup,” pujinya pada diri sendiri. Tapi yang terjadi justru sifat adigang, adigung, adiguna, korup, serakah, dan semua yang dikendalikan nafsu yang tumbuh pada Dia. Maka jadiluh kepala desa Kadhungmakmur itu pemimpin yang berwajah dewa tapi berhatikan setan.

Menjelang hari jadi desa ke-50 dikumpulkan para dalang untuk mencipta lakon Titisan Kiai Semar. Ini proyek besar, tapi berhari-hari sedang tak menghasilkan apa-apa. Perdebatan antar dalang semakin seru, beberapanya walk out. Hingga hanya tersisa seorang dalang. Dia mencoba membangun cerita dengan substansi acuan image positif pada si tokoh utama, yang tak lain maksudnya adalah si Kades itu sendiri.

Inilah yang membuat dalang lainnya surut, mereka sadar akan diajak merekayasa cerita yang penuh tipu daya. Mereka bergabung dengan kelompok yang sudah mbalelo pada Kades. Sebelum lakon Titisan Kiai Semar itu manggung, mereka lebih dulu mentas dengan lakon Semar Kembali ke Kahyangan selama tujuh hari tujuh malam. Tapi acara ini dibubarkan aparat keamanan.

Beredar desus di masyarakat kalau lakon itu bermaksud menyindir agar Kades yang uzur itu mundur saja dari jabatannya, kembali mengurus keluarga dan menikmati hari tua. Tapi warga juga khawatir kalau-kalau setelahnya terjadi keributan orang-orang berebut kekuasaan. Mereka tak berani membayangkan santet dan tenung bertebaran setiap malam, hujan panah dan tombak berhamburan setiap hari.

Hingga akhirnya setelah segala keributan terjadi di antara warga, Pak Camat merasa harus ikut campur. Dia putuskan waktunya Kepala Desa untuk lengser, dibutuhkan figure pemimpin lain yang bukan titisan dewa, tapi seorang manusia biasa. Sejak itu Dia tampak semakin tua dan loyo, hari-harinya dihabiskan menyelinap ke dalam bilik yang sepi.

Kisah ini eksplisit merujuk pada sosok Soeharto, dan soal intervensi camat yang membuatnya lesu darah, tak lain bisa kita anggap sebagai pihak imperialisme global, yang menghendaki langgengnya cengkeraman kuasa mereka atas negeri lemah seperti Indonesia. Jika sang  kaki tangannya sudah tak bisa diandalkan, dengan seteganya dia bakal turut menggulingkannya demi mengamankan posisi.

Dalam buku ini cerpen Agus Noor paling banyak dimuat:, ada tiga, dan satu ini paling frontal buat saya. Cerpen berjudul Senotaphium tahun 1999 yang mengisahkan seseorang dari masa depan secara tak sengaja membaca cerita dari sebuah buku tua di perpustakaan kakeknya. Tentang sebuah negeri bernama Inkolonesia, di sekitar 16 abad yang lalu. Ketika kereta api masih merayap di tanah, bukan melayang. Senjata api masih berupa mesin pelontar peluru timah yang melukai tubuh, bukan sinar laser yang melelehkan seperti sekarang.

Buku itu menceritakan seorang bernama Papa Hartanaga yang punya pengaruh besar di negeri Inkolonesia sedang menghadapi pengadilan dirinya. Serentetan tembakan menghujani tubuh tambun Papa Hartanaga, ia keluar dari pintu belakang Volvo hitam. Ratusan orang berteriak mencaci, mengacungkan poster hujatan padanya, tapi mereka terhalang pagar betis pasukan yang memblokade gedung.

Papa Hartanaga tetap kalem tersenyum, meski kelopak matanya tampak kelelahan. Semua orang berdesakan pagi itu, ingin menyaksikan peristiwa bersejarah, pengadilan si orang paling berkuasa yang baru saja dijungkalkan itu. Papa Hartanaga kini duduk sebagai terdakwa dengan setumpuk kasus pembunuhan dan penyalahgunaan jabatan. Tak ada yang pernah menyangka ini terjadi.

Dia sudah dinistakan mereka yang selama ini menjadi parasit di sekitar kekuasaannya. Bahkan banyak yang anggap pengadilan tidak cukup buatnya, mereka inginkan Papa Hartanaga segera dipancung atau disalib di tengah lapangan, dikuliti dan dijemur sampai kering di alun-alun. Kebencian padanya memang sudah amat menggelegak, tapi dia tetap tersenyum khas dan melambaikan tangannya kea rah kerumunan orang yang menghujatnya itu.

Serentetan tembakan kembali menghujani dirinya saat memasuki ruang pengadilan, para pengawalnya mati dengan dada meledak. Ia tersungkur dan saat mencoba bangkit, sebuah senapan mesin memberondong tubuhnya selama lima menit. Ia terpental dengan kepala pecah. Lebih dari 45 butir peluru bersarang di otaknya, 17 di jantungnya, dan total 1945 butir peluru di setiap senti tubuh tambunnya.

Rumah Papa hartanaga di Jalan Canarenasia luluh lantak dihantam roket. Sepuluh cucunya tewas seketika. Lima anaknya mati. Pihak keamanan kebingungan tak bisa menemukan dari koordinat mana peluru-peluru itu ditembakkan, ini jadi misteri. Orang-orang menduga ada kelompok radikal yang menyusun rencana ini, tapi ada juga yang menduga ini hanya rekayasa tentara, permainan mereka.

Orang-orang curiga tentara sengaja membuat kekacauan untuk membenarkan campur tangannya. Namun Jenderal Wirenatopolus membantah. “Ini semua ulah kelompok ular merah, gerakan ekstrem yang hendak mencipta ketidakstabilan politik,” ucapnya dalam siaran pers di TV. Tapi sang jenderal pun jadi sasaran tembakan hingga hancur berkeping-keping saat itu juga.

Tentara makin beringas atas nama mengamankan, setiap celah yang diduga sarang kelompok ular merah disikat habis. Tapi tembakan-tembakan misteri it uterus saja muncul, sepuluh menteri tewas. Seorang konglomerat yang belanja di plaza juga jadi sasaran. Orang-orang menduga keadaan makin kacau karena ada kelompok lain yang membalas dendam atas kematian Papa Hartanaga.

Selama berkuasa, ia memang tak punya batasan. Tak ada yang mungkin baginya. Barangkali para pemujanya tak menerima semua ini. Karena dari tangan Papa hartanagalah segala keajaiban di negeri Inkolonesia bisa terwujud dalam sekejap waktu. Ia ubah pelepah pisang jadi emas, bukit dan hutan jadi perkotaan, dan seterusnya.

Orang-orang mulai terbiasa dengan tembakan, dengan tiba-tibanya orang mati tergelapar tertembak di jalan. Orang-orang tetap saja berlalu lalang. Ini membuat resah Toni Krokak, seorang detektif swasta yang ngetop. Ia mencium keanehan dari semua persitiwa ini. Terutama saat aroma asing berembus dari Bukit Hargabangus, tempat berdirinya makam keluarga Papa hartanaga yang membentang luas hingga lembah.

Toni memeriksa semua mayat yang ditampung rumah sakit, tapi onggokan tubuh-tubuh itu hanya karet sintetis. Bau keparat semakin tercium dari makam, bahkan kini terdengar bunyi dentuman yang ramai. Toni memang dikenal sakti mandraguna, dengan bantuan para semut dia berhasil dibawa menyusup masuk ke dalam makam Papa Hartanaga.

Betapa takjub ia melihat orang ramai sibuk bekerja membangun gedung pencakar langit, jalan layang, kincir hidrolik, dan betapa semua ini terbangun dalam posisi terbalik. Makin ternganga ia saat melihat baliho raksasa berwajah Papa Hartanaga. Untuk apa kota ini dibangun di dasar makam.

Mendadak puluhan tentara bertopeng meringkus dan menodongnya dengan senjata. Maka lenyaplah kabar si Toni Krokak. Kekacauan di atas permukaan terus berlanjut hingga meluluhlantakan negeri itu. Sampai suatu saat kincir hidrolik berputar dan perlahan kota megah yang dibangun di dasar makan itu berbalik muncul ke permukaan, sedang negeri Inkolonesia amblas ditelan bumi, bertukar dengan negeri baru yang berjuluk Indonesia.

Begitulah Agus Noor lantang mengabadikan Soeharto dalam cerita pendeknya. Ia menohok kuasa Orba begitu gamblang dan sarkas. Tapi apa mau dikata, toh memang rezim ini punya dosa sejarah atas matinya jutaan jiwa rakyat yang tak berdosa, atas penyelewengan kuasa dengan membangun kroni-kroni dan memenjarakan musuh-musuh politiknya. Hingga menebar terror dan tanpa henti melakukan penghisapan terhadap rakyatnya sendiri.

Y.B.Mangunwijaya alias Romo Mangun juga ikut andil menulis cerpen berjudul Saran Groot Majoor Prakosa di tahun 1999. Entah mengapa, biasanya pukul 4-5 petang demo sudah usai, tapi hingga larut malam begini belum ada tanda kelelahan dari kedua pihak. Suara gedebug kaki para pemuda yang terbirit masih menggempa, dan terdengar bolak-balik seperti minta digebuki mereka teriak menantang, “Ayo sini kalau berani jangan pake pentung dan bedil biar jantan!”

Dari jalan terdengar lagi teriakan histeris, bukan main tak ada jeranya. “Namanya muda, yang satu kepala lebih banyak berisi mesiu ketimbang otak, yang lainnya penuh batu,” keluh si kakek sambil mengisap kelembak menyan. “Mbah, Mbah, tolon gkami sembunyi. Saya Kunto,” bisik salah satu pelari sambil mengetuk pintu. “Edan kamu Kun, bikin celaka Mbahmu!” sambil menarik masuk dua pemuda ke dalam.

Tak lama seorang aparat menggedor, “Mbah, tadi ada bajingan masuk sini?” tanyanya. “Bajingan? Tidak ada,” jawab si Mbah. Lalu ia masuk dan menyuguhkan teh buat dua pemuda tadi. “Kalau masih ingin demo silakan, Tapi kalo leher atau dadamu remuk jangan nangis,” tegur si Mbah pada dua pemuda yang sedang repot menggaruk wajah yang terkena gas air mata.

“Aparat brengsek, Harto harus turun!” seru pemuda Kunto tanpa arah. “Kun kalian ini mau apa sebetulnya?” tanya si Mbah. “Jelas tho Mbah, Soeharto dan harga harus turun. Sederhana, hanya itu,” jawab Kunto. “Lalu?” lanjut si Mbah. “Ya sudah, nanti dengan sendirinya keadaan membaik sebab orang satu itu kan biang keroknya,” jawab Kunto. “Yakin?” tanya si Mbah lagi. “Begini Mbah, tentu tidak sendirinya. Tapi anak kuncinya dulu diputar, kalau sudah njegleg, nah pintu terbuka, berarti zaman baru tampak,” jawab Bagio, pemuda satunya.

“Zaman baru seperti apa?” si Mbah lanjut bertanya. “Ya yang demokratis, tak ada korupsi, kolusi, dan nepotisme. Intel disuruh nginteli Ostrali saja. Juga jangan asal jeplak komunis, PRD. Saya ini PRD lho Mbah, dan SMID,” lonjak Kunto bangga sambil menunjuk dadanya pakai ibu jari. Si Mbah kembali menyalakan rokok kelobot khas dengan tembakau Kedu kelembak menyan di bungkus daun jagung muda gulungan sendiri.

Si Mbah geleng-geleng, “Anak-anak dol begini mau revolusi, sesudah turun, lantas mau apa?” katanya. “Sorry Mbah, tugas kami hanya jadi gerakan moral, kewajiban politisi dan para pakarlah membuat konsep,” jawab Kunto. “Bukan begitu Kun, kami juga punya konsep Mbah, kami menuntut sidang istimewa MPR/DPR, biar jalannya konstitusional,” sergah Bagio yang sedikit lebih pintar. “Untuk apa MPR/DPR beo bunglon itu disuruh bersidang istimewa nanti malah ngarang putusan yang aneh-aneh. Mereka itu Togog, tak kenal kesetiaan, serakah, plin-plan, lalim, dan oportunis,” jawab si Mbah.

“Dengar cerita si Mbah, tanggal 19 agustus 1045 jam  sore, tiga pemuda berkunjung ke seorang lelaki gagah berpangkat Mayor KNIL, Prakosa namanya. Jelek-jelek begini Mbah mu ini salah satu dari tiga pemuda patriot itu. Kami sedih karena sehari sebelumnya tentara PETA satu-satunya calon penopang RI yang baru dibentuk itu dibubarkan tanpa diprotes. Maka kami mengajak Mayor Prakosa itu agar mau ikut menyusun kekuatan militer Republik, karena Belanda sebentar lagi pasti datang.”

“Tapi si Groot Major itu pengecut, dia bilang untuk merdeka diperlukan jalan konstitusionaaaal.  Semuanya harus tertib hukum, secara de jure kerajaan Belanda masih berdaulat di seluruh tanah Hindia katanya. Tentu kami bergantian memberondongnya argumen, bahwa 8 Maret KNIL dan gubernur Jenderal sudah resmi menyerah pada tentara Jepang. Sekarang situasi revolusi, zaman serba baru total. Tapi si opsir berkulit gosong yang merasa dirinya setengah Belanda itu tetap ngotot, maka kami bertanya apa konsepnya soal kemerdekaan.”

“Segala putusan harus ditentukan parlemen di Holland sana. Harus dibicarakan dulu apa wilayah ini bakal jadi provinsi atau republik anak, siapa presiden dan wakilnya, apa bentuknya kerajaan, akan ditata seperti apa Indonesia ini sesuai dengan dekrit dari Sri Ratu Belanda, itu baru teratur, legal, tidak liar, diakui seluruh dunia,” tutup si Mbah. “Apa hubungannya dengan masalah kita sekarang Mbah?” tanya Kunto. Sang kakek tersenyum, mengisap dalam nikotin, dan pelan-pelan mengepulkan asap dari gigi-gigi omponya.

Begitulah Romo Mangun yang bermaksud menegur gerakan protes kaum muda agar punya konsep yang jelas, jangan jadi sekedar kaum reaksioner yang berlagak revolusioner. Jangan mudah percaya pada slogan konstitusional selagi pemegang kuasa atas jalur-jalur legal masih dipegang oleh politikus-politikus busuk warisan rezim lalim.

Demikianlah cuplikan separuh dari cerpen-cerpen yang mengambil inspirasi dari sosok “agung” Soeharto itu. Tentu saya melakukan banyak perombakan saat menceritakan kembali lewat tulisan ini, terlebih mungkin nilai etik dan estetik sastra dari para penulis aselinya malah jadi lenyap. Karenanya semoga buku ini segera dicetak ulang atau setidaknya mudah diakses oleh banyak orang yang ingin membacanya langsung.

Saddam Cahyo, Penikmat buku, tinggal di Bandar Lampung

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut