Resensi Buku: Bung Karno, Antara Marxisme dan Nasionalisme

4.jpg

Salahkah jika Bung Karno menyatakan diri sebagai marxis? Pada awal Orde Baru, pengakuan Bung Karno itu menjadi senjata pihak-pihak yang mendeskreditkan dan menuduhnya komunis. Sebagian pendukungnya juga risih.

Buku ini menceritakan, pada September 1966 atau setahun setelah peristiwa G30S, Bung Karno menyanyikan lagu Internasionale di hadapan angkatan pejuang’45. Ia lalu menjejerkan nama-nama tokoh marxis yang, menurut pengakuannya, sudah tuntas dipelajari, dari Karl Marx dan Engels, Lenin, Rosa Luxemburg, Pieter J. Toelstra, hingga Sidney dan Beatrice Webb. (h. 159).

Jejak kedekatan pemikiran Bung Karno dan Marxisme dapat ditelusuri sejak zaman pergerakan. Pada 1926, Bung Karno menulis artikel “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme” dalam Soeloeh Indonesia Moeda.

Di zaman itu kajian marxisme di Indonesia bukan monopoli kaum komunis. Pada 1924 tokoh Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto menulis risalah “Islam dan Socialisme”. Ia menyimpulkan, kaum Sarekat Islam mempunyai keyakinan tujuan-tujuannya memiliki kesamaan dengan pergerakan rakyat dan kaum buruh dunia.

Pada 1957 Mohammad Hatta menyatakan, “Marxism as a social-economic theory –a scientific theory- is used by non-communist in Indonesia to analyze social development.”(Abdulgani, Roeslan. Sosialisme Indonesia, 1963).

Di India, negeri jajahan Inggris, marxisme juga mempengaruhi kalangan pergerakan non komunis. Pemikiran Nehru banyak memakai ekonomi-politik Karl Marx.

Namun di Indonesia sejak Orde Baru, marxisme sering dikacaukan pengertiannya dan diidentikkan dengan komunisme. Padahal setelah Karl Marx meninggal, sosialisme yang bersumber dari pemikiran Marx tapi di luar komunisme berkembang luas. Di kalangan intelektual di Jerman, Perancis, dan Italia, aliran western marxism berkembang karena kecewa hak-hak pribadinya dirampas. Di Jerman, aliran ini disebut Frankfurt School. Pada dunia politik, golongan kiri baru (new left) muncul sejak 1960-an di Eropa Barat dan benua Amerika.

Sosio-Nasionalisme

Bennedict Anderson dalam Imagined Communities (1991) melihat nasionalisme di dunia Timur berasal dari “modul” yang mengacu pengalaman Eropa. Fenomena nasionalisme ditempatkan sebagai bagian dari sejarah universal dunia modern.

Namun pada tulisan ”Mengenal Sosio-Nasionalisme Bung Karno”, buku ini memaparkan bagaimana Bung Karno membedakan nasionalisme Eropa (Barat)  dan dunia Timur (jajahan). Nasionalisme Eropa adalah nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme perdagangan yang mengejar keperluan sendiri. Bagi borjuasi di Eropa, negara nasional tak lain sebagai peralatan untuk perluasan pasar, pencarian bahan mentah, tenaga kerja murah, dan pencarian sirkuit baru bagi akumulasi kapital.

Adapun nasionalisme di Timur lahir karena eksploitasi kolonial. Dengan kondisi itu, menurut Bung Karno, nasionalisme di dunia Timur berkawin dengan marxisme menjadi satu nasionalisme baru, satu senjata perjuangan baru.

Bung Karno menyebutnya sosio-nasionalisme yang merangkai kebangsaan dan internasionalisme atau perikemanusiaan untuk menolak borjuisme sebagai penyebab kepincangan di masyarakat. Dapat dikatakan, konsep sosio-nasionalisme bersifat eklektik, yang mempertimbangkan kekhasan kondisi Indonesia sebagai (eks) negeri jajahan dan keuniversalan gagasan kedaulatan bangsa dari Barat.

Di era sekarang, pemikiran sosio-nasionalisme memiliki relevansi bagi Indonesia sebagai ”negara satelit” dari sistem ekonomi global yang menghasilkan pertukaran-pertukaran tidak adil dan tidak seimbang, sebagai penyedia bahan mentah, buruh murah, dan target pasar.

Nasionalis Tulen

Mengaitkan Bung Karno dan marxisme harus jernih dan kontektual. Bung Karno tetap nasionalis tulen. Ia memprioritas persatuan untuk pembebasan bangsa dan menolak teori perjuangan kelas Marx.

Di depan peserta Kongres PKI 1959 Bung Karno menegaskan, “Tapi di dalam sesuatu revolusi nasional maka kita tidak boleh meruncing-runcingkan pertentangan-pertentangan kelas dan perjuangan kelas di antara bangsa sendiri.”

Kecintaannya yang besar pada bangsa membuat ia tidak pernah menuntut fasilitas yang diterima sebagai presiden. Di awal kemerdekaan, sebagian besar pakaiannya dijahit dan dipermak sendiri. Bahkan, salah satu seragam kebesarannya adalah pakaian bekas militer wanita Australia. (h. 215).

Kekuatan buku yang ditulis dua pimpinan situs Berdikari Online ini terletak pada ulasannya tidak hanya menyangkut pemikiran Bung Karno, juga cerita kebersahajaannya yang kian langka di tengah praktik politik korup sekarang.

Retor AW Kaligis, Doktor Sosiologi di Universitas Indonesia (UI)

———————————————————————————————-

Data Buku:

Judul       :    Bung Karno: Nasionalisme, Demokrasi, dan Revolusi
Penulis    :    Rudi Hartono
Penerbit  :    PT Berdikari Nusantara Makmur
Cetakan  :    I/ Maret 2013
Tebal     :    226 halaman
ISBN      :    978-602-17670-0-9

Catatan: Resensi ini sudah pernah dimuat di  Sinar Harapan, Sabtu, 13 Juli 2013
URL Source:
http://cetak.shnews.co/web/read/2013-07-13/15157/resensi.buku#.UevSWdgQYrg

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • wiwin irawan

    tlong bukunya,, klau bisa sampe ke Sultra biar bisa dikonsumsi masyarakat Sultra