Rekomendasi DPRD Diabaikan Walikota

Ratusan pedagang pisang epe dari anjungan pantai Losasi memilih tetap bertahan di Kantor DPRD Kota Makassar, kemarin (4/5). Pedagang sangat kecewa karena surat rekomendasi DPRD terkait nasib pedagang telah diabaikan Walikota.

“Kami akan tetap di sini, sampai Walikota Makassar mendengar tuntutan kami,” kata Usman, ketua Asosiasi Pedagang Pisang Epe Angin Mammiri (Aspepam) Makassar.

Sebelumnya, pihak DPRD Makassar sempat menemui para pedagang kaki lima. Anggota DPRD yang menemui massa, antara lain: Amar Bustanul (Gerindra), M. Iqbal Djalil Lc (PKS) dan Kartini Galung (Gerindra). Mereka berjanji akan berjuang bersama pedagang sampai tuntutannya dipenuhi.

Solidaritas terus mengalir

Sementara itu, terkait nasib pedagang kaki lima yang belum jelas, sejumlah organisasi mahasiswa mulai berdatangan dan memberikan solidaritas.

Diantara organisasi mahasiswa yang datang adalah BEM FAI UNISMU, LiSaN MU, APA-ALBA, dan PMII. Sementara puluhan aktivis LMND sudah menginap bersama pedagang sejak semalam sebelumnya.

Ketua LMND Sulsel Alwi Assegaf menegaskan bahwa pelarangan kepada pedagang pisang epe untuk berjualan di sekitar pantai Losari adalah tidak tepat. “Pemerintah kota Makassar tidak bisa menciptakan lapangan kerja, tapi mau melarang orang untuk mencari penghidupan layak,” kata Alwi.

Menurut mahasiswa Unhas ini, alasan keindahan kota juga tidak bisa dijadikan alasan untuk menggusur pedagang. Pasalnya, menurut Alwi, pedagang bisa berjualan dengan tertib dan bersih jikalau pemerintah juga mau menyiapkan tempat dan fasilitas berjualan yang baik.

“Ini persoalan pemerintah tidak mau keluar duit saja. Kenapa tidak memberikan modal kepada pedagang supaya mereka bisa membangun tempat yang layak untuk berjualan,” katanya.

Pedagang kehilangan pendapatan

Para pedagang pisang epe sangat gelisah. Pasalnya, jika mereka tidak di beri kesempatan berjualan, mereka tidak tahu lagi bagaimana cara memberi makan kepada keluarga dan menyekolahkan anak-anak.

Junaidi, seorang pedagang pisang epe, mengaku kelimpungan karena empat anaknya yang bersekolah sangat bergantung pada penghasilannya sebagai pedagang pisang epe.

“Empat anak saya bisa sekolah karena mengandalkan penghasilan saya sebagai pedagang pisang epe. Saya tidak punya penghasilan lain,” ungkapnya dengan raut wajah terlihat sedih.

Musdalifah, istri Junaidi, juga mengaku sangat terbebani oleh keputusan Walikota tersebut. “Kalau kami tidak berjualan, bagaimana caranya kami bisa membeli kebutuhan hidup untuk makan,” tegasnya.

Nasib lebih menyedihkan dirasakan oleh Daeng Minne. Perempuan paruh bayah ini membiayai pengobatan suaminya yang sedang terbaring di rumah sakit, melalui penghasilannya sebagai pedagang pisang epe.

“Saya berharap Walikota bisa mendengar jeritan penderitaan kami. Kami tidak punya harapan lain selain berjualan pisag epe,” kata Daeng Minne.

Karena alasan itulah ratusan pedagang pisang epe memilih tetap bertahan di Kantor DPRD Makassar. Mereka enggan pulang ke rumah sebelum ada kejelasan dari Walikota, bahwa mereka diijinkan berdagang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut