Rebel Diaz, Melawan Melalui Musik

Musik bukanlah sekedar hiburan. Musik juga merupakan bagian dari perlawananan terhadap ketidakadilan. Rebel Diaz, grup musik Hip-Hop dari Bronx, New York, sangat percaya itu.

Karena itu, dengan tegas Rebel Diaz memanifestokan: “musik adalah alat perlawanan dan menyuarakan kaum miskin.” Karena itu, alih-alih mengejar popularitas dan mengumpulkan kekayaan, Rebel Diaz justru menggunakan musik untuk berjuang bersama kaum tertindas.

Lahir dan Besar di Pengasingan

Rebel Diaz dibangun oleh dua bersaudara, yaitu Rodrigo alias Rodstarz dan Gonzalo “G1” Venegas. Keduanya lahir dan besar di tengah keluarga pelarian politik Chile.

Orang tua mereka adalah pendukung setia pemerintahan sosialis Chile, Salvador Allende. Namun, pada 11 September 1973, Allende digulingkan oleh tentara fasis bernama Augusto Pinochet—atas sokongan AS. Sejak itulah orang tua Rodstarz dan G1 menjadi tahanan politik.

Setelah tiga tahun disiksa dalam penjara Chile, kedua orang tua Rodstarz – G1 berhasil melarikan diri ke luar negeri. Mereka akhirnya menyelinap masuk ke Inggris. Mereka tinggal di Chertsey, sebuah kota kecil di Surrey, Inggris. Rodstarz lahir di Inggris tahun 1979.

Lima tahun kemudian, mereka pindah ke Chicago, AS. Di sinilah Gonzalo “G1” Venegas dilahirkan. Lahir dari keluarga yang sedang menjalani pengasingan politik memberi kesan kepada Rodstarz dan G1. “Kami lahir dan besar dari pemberontakan, karena kedua orang tua kami,” kenang keduanya.

Orang tua mereka sangat mencintai musisi revolusioner Amerika Latin, seperti Violetta Parra, Silvio Rodriguez Ali Primavera, dan Victor Jarra. Pelan-pelan hal itu diajarkan kepada kedua anaknya.

Alhasil, Rodstarz dan G1 sudah jadi pemberontak sejak usia dini. Pada usia 12 tahun, Rodstarz dan kawan-kawannya sudah menjadi grafiti sebagai medium perlawanannya. Mereka sering menyelinap di tengah malam untuk membuat grafiti perlawanan.

Aksi tersebut diketahui orang-tuanya. Suatu malam, orang tua Rodstarz hanya menemukan bantal di balik selimut. Anaknya telah menipunya. Tetapi, hal itu tidak terlepas dari ajaran politik yang ditularkan pada anaknya.

“Orang tua saya tidak marah, karena dia tahu kami keluar untuk mempromosikan cita-cita sosialismenya,” kata Rodstarz.

Sejak itu pula Rodstarz dan adinya, G1, mulai melirik Hip-Hop. Pada usia 10 tahun, Rodstarz menjadi breakdancer (B-Boy). “Setiap hari, sepulang dari sekolah, saya menari di atas atap atau di tempat parkir,” ungkapnya.

Rebel Diaz terbentuk di Hunts Point, setelah G1 belajar teknik musik di New York University. Beberapa tahun kemudian Rodstarz datang menyusul. Mereka kemudian mulai merekam di studio gratis Universitas. Mereka kemudian diundang untuk tampil di depan publik di pawai imigran di Manhattam, pada April 2006.

Musik untuk Perlawanan

Dari ajaran orang tuanya, Rodstarz dan G1 menyadari bahwa musik harus bisa melayani tugas yang lebih besar, yakni membela rakyat melawan ketidakadilan dan segala bentuk penindasan.

Rodstarz dan G1 menggunakan musik sebagai senjata mereka. Dengan bermain musik, katanya, rakyat bisa memahami revolusi dan cita-citanya. Setelah konser di tengah pawai imigran di Manhattam, Rebel Diaz mulai mendapat undangan dari berbagai organisasi sosial.

Mereka kemudian melakukan tur keliling ke sejumlah negara, seperti Spanyol, Jerman, Belanda, Guatemala, dan Chile. Tur ini membawa arti penting bagi Rebel Diaz. Pasalnya, dalam berbagai tur itu, mereka berkesempatan bertemu dengan banyak pengasingan politik Chile.

Karena menganggap bermusik sebagai aktivitas menyampaikan pesan perlawanan, maka album-alum Rebel Diaz pun diberi nama “Otra Guerrillera”. Di lagu berjudul “Otro Guerrillero”, Rebel Diaz menyebut nama-nama kelompok dan pejuang pembebasan, seperti Gerilyawan Sandinista di Nikaragua, Farabundo Marti, Miguel Enriquez (Chile), Simon Bolivar, Che Guevara, Fred Hampton (Black Panther), Huey Percy Newton, Malcon X, dan Zapatista.

Di album keduanya Rebel Diaz makin radikal. Di lagu yang berjudul “Which Side Are You On?”, sepotong lyriknya begini:

I rock hard like Palestinian children holdin’ slingshots!
I’m with every single kid that’s down for hip hop
For the culture, the life, what it really stands for
This music is resistance, it’s the voice of the poor
I’m on the side of the workers, the teachers and lunchladies,
On the streets with brown mommys raisin’ our brown babies,
I’m with youth organizers cleanin’ up the Bronx river
I’m like Jaime Escalante when I stand and deliver
I’m with Evo Morales, man, he runnin’ Bolivia
Distribution of the land so they could all live bigger
Im with Hugo and Fidel, Grandmaster and Melle Mel,
with the Panthers up in Queens, justice for Sean Bell,
I’m with Camacho Negron, im with Ojeda Rios,
freedom for Oscar Lopez, time to get an appeal,
I’m with Abu-Jamal, I’m with Assata Shakur,
I’m with the compas in Immokalee getting a penny more!

Semangat perlawanan juga nampak pada lagu berjudul “Revolution Has Come”. Di situ ia terang-terang menyerukan pembentukan Front Pembebasan Amerika untuk melawan kapitalis yang tamak, politisi demagog, dan polisi-militer yang fasistik.

Tapi, tak hanya melalui lagu, Rebel Diaz juga membangun kolektif-kolektif perlawanan. Yang terkenal adalah kolektif perlawanan bernama Rebel Diaz Arts Collective in the South Bronx (RDAC-BX), yang menjadi tempat bagi kaum muda dan komunitas untuk mendapat belajar, berdiskusi, dan berkarya. RDAC-BX resmi berdiri November 2008.

Ia juga membuat sebuah perpustakaan pembebasan, yang hanya berisi buku-buku sejarah dan perlawanan. Selama aksi pendudukan di Taman Zuccotti, yang menjadi cikal bakal Gerakan Occupy Wall Street (OWS), RDACBX berperan dalam mengumpulkan kaum muda dari berbagai warna dan latar-belakang.

Sayang, pada Maret 2013 lalu, Kepolisian New York (NYPD) mengeluarkan para aktivis RDACBX dari pusat komunitas mereka. “Ketika kami mengajak anak-anak muda bangkit melawan. Juga ketika kami membuka perpustakaan yang memberi tahu mereka sejarah yang sebenarnya. Mereka (penguasa) merasa tidak nyaman,” kata Rodstarsz.

Pendukung Chavez

Yang menarik, Rebel Diaz terang-terangan mengaku sebagai pendukung Presiden Venezuela Hugo Chavez dan proyek Revolusi Bolivariannya.

Pada tahun 2005, saat sedang berada di AS, Hugo Chavez menyempatkan diri mengunjungi masyarakat di South Bronx, yang merupakan kawasan yang dihuni banyak imigran dari berbagai Negara. “Bush dan Obama tidak pernah berkunjung ke South Bronx,” kata G1.

Kunjungan Chavez sangat berkesan bagi rakyat di Bronx. Bayangkan, sebegitu lama mereka diabaikan, justru dikunjungi oleh Presiden dari negara lain: Presiden Venezuela. Chavez pun dianggap sebagai pahlawan bagi rakyat di Bronx—tempat lahirnya Hip Hop.

Tak hanya itu, dua bulan setelah kunjungan Chavez, minyak pemanas gratis sumbangan pemerintah Venezuela pun tiba di komunitas itu. Memang, sejak tahun 2005, pemerintahan Chavez membuat program minyak pemanas untuk ratusan ribu keluarga miskin di AS.

“Chavez sangat memahami arti solidaritas internasional. Ia mengirimkan minyak pemanas gratis bagi warga Bronx, yang merupakan kawasan termiskin di Amerika Serikat,” kata G1.

Chavez juga membiayai pendirian komunitas seni RDACBX, yang menjadi ajang untuk melatih dan mendidik kaum muda di Bronx. Mungkin, karena itulah, Polisi New York menggusur RDACBX.

Rebel Diaz kagum dengan komitmen Chavez dan Revolusi Bolivariannya terhadap musik. “Chavez dan Revolusi Bolivariannya sangat mengerti bahwa media dan budaya harus berada di garis depan untuk membebaskan rakyat dari ketidakadilan,” kata G1. Ketika Chavez mengunjungi Bronx, tahun 2005, ia bilang kepada semu orang, “’Yo soy hip-hop!’ [‘I am hip-hop!’].

Karena itu, begitu mendengar kabar Chavez meninggal dunia, Rebel Diaz sangat terpukul. Mereka mengaku kehilangan kawan dan sekaligus inspirasi dalam perjuangan pembebasan.

Karena itu, sebagai bentuk penghormatan terhadap Comandante Chavez, Rebel Diaz membuat lagu berjudul “Work Like Chavez”.  Rebel Diaz pun meneriakkan: “ La Lucha Sigue! Chavez Vive! Que Viva el pueblo Venezolano! (The struggle continues! Chavez lives! Long Live the Venezuelan people!)”.

Anda dapat menyimak lagu Rebel Diaz untuk Comandante Chavez di sini

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut